BEST HUSBAND 26

30.8K 1.4K 36
                                        

Aku tidak tau kapan perasaan ini datang. Lantas, apa aku salah mempunyai perasaan ini?

"Aku sakit hati, dia menolaku terang-terangan." Ucap Nayla seraya meneteskan air mata.

"Kau sabar saja, kau tidak boleh bersedih seperti ini," ucap Gery seraya mengelus lembut rambut Nayla.

Gery tadi pamit pada Dina dan Sesil untuk berjalan-jalan, dengan alasan dia sudah sehat dan suntuk di rumah akhirnya dia diijinkan untuk keluar, padahal sebenarnya dia ingin bertemu dengan Nayla di taman di dekat komplek rumah Dina.

"Aku sudah bersabar, tapi hatiku terlalu sakit Ger." Ucap Nayla lirih. Gery menarik kepala Nayla agar bersandar di dada bidangnya.

"Nay, kau ingin mendapatkan Reyhan kembali kan? Lalu, kenapa kau jadi orang yang cepat putus asa seperti ini, ini baru babak awal, babak yang lebih dari ini belum kita lewati. Kau ingin memiliki Reyhan kembali kan?"

Nayla menggangguk. Gery mengurai pelukannya, di bawanya wajah Nayla agar menatap wajahnya.

"Jadi, hapus air matamu. Jangan cengeng seperti ini." Gery mengusap pipi Nayla.

"Iya, aku tidak akan nyerah lagi, perjuangan ku belum membuahkan hasil." Nayla ikut-ikutan menyeka air matanya dengan tangannya sendiri.

"Dia? Bukanya dia orang yang dulu ingin menyakiti wanita itu dengan botol alkoholnya? Tapi kenapa sekarang mereka sangat dekat?"

***

Reyhan menatap pantulan dirinya di cermin, tangannya masih setia menyisir rambutnya. Reyhan sudah lumayan sehat, dan hari ini juga rencananya dia akan menemui Sesil. Reyhan sudah bisa menebak bahwa Sesil sekarang ada di rumah Dina. Karena pagi-pagi begini ia sudah menghilang dari kamarnya. Jadi, Reyhan memutuskan untuk kerumah Dina dan sekalian ingin menemuinya.

Tubuhnya yang di balut kaus lengan panjang berwarna hitam, dan celana Levi's yang berwarna hitam juga, terlihat kontras dengan kulit putih Reyhan. Dia semakin terlihat tampan.

"Aku ingin menyelidiki, sebenarnya telah terjadi apa di rumah Dina sampai Sesil yang aku kenal berubah menjadi Sesil yang Arogan."

Reyhan langsung menyambar kunci mobil Ferrari miliknya, lantas bergegas menuju garasi.

***

Sesil menatap kosong ke arah jendela, pikirannya saat ini sedang kacau. Sedih, marah, kesal bercampur aduk di dadanya.

Dina yang melihat Sesil hanya melamun seraya menatap kearah luar jendela hanya mampu menautkan kedua alis.

"Sil," ucap Dina seraya menepuk bahu kanan Sesil dari belakang, membuat Sesil tergelonjak dan tersadar dari lamunannya.

"Kamu kenapa?"

"Aku nggak apa-apa kok Din," dusta Sesil.

"Tapi kayaknya kamu lagi sedih Sil, cerita padaku." Dina menggenggam erat jemari Sesil.

"Aku nggak apa-apa Din, ngomong-ngomong, Gery belum pulang juga?" Sesil mulai mengalihkan pembicaraan nya. Dengan terus membahas rasa sedi di hatinya malah akan menambah kesedihan Sesil.

"Emmm, dia belum pulang,"

"Kok lama banget?"

Best Husband [Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang