Menjauhi mu, sama saja aku menyiksa diriku sendiri.
"Gimana kabarmu?"
"Baik," jawab Nayla dengan mengembangkan senyum lebarnya.
Nayla dan Gery tengah asyik mengobrol di suatu restoran, mereka ingin berbincang mengenai rencana mereka yang perlahan demi perlahan mulai berhasil dan membuahkan hasil yang memuaskan.
"Aku mengundangmu kesini karena aku ingin merayakan keberhasilan rencana pertama kita, semoga rencana-rencana selanjutnya akan sama suksenya dengan rencana awal ini." Jawab Gery antusias. Ia menyedot ice tea yang ada di hadapanya.
"Semoga saja. Aku juga sangat senang akhirnya Reyhan perlahan mulai luluh kembali. Susah sekali mendapatkan kepercayaan nya, setelah sekian lama, akhirnya ia kembali percaya padaku." Nayla melipat kedua tangannya di dada. Ia menyunggingkan senyum kemenangan.
"Bagus sekali. Aku juga akhirnya bisa mendapatkan Sesil lagi, oh, ini sungguh keberhasilan kita Nay."
Gery mengangkat gelasnya, mengisyaratkan Nayla agar mengangkat gelasnya juga. Nayla akhirnya mengangkat gelas, di adu kannya gelas miliknya dengan milik Gery. Keduanya tertawa lepas.
Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Kenapa mereka bisa se akrab ini?
Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 siang, Nayla dan Gery melenggang bersama menuju pintu keluar restoran. Keduanya memisahkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Gery sudah melenggang pergi. Nayla juga hendak melenggang tetapi tangannya keburu di cekal oleh seseorang dari belakang.
Nayla membalikan badan, matanya membulat, alangkah terkejutnya ia melihat sosok pria yang dulu pernah menyelamatkannya.
"Kau?" Ucap Nayla masih tidak percaya.
"Hai." Jawab pria itu dengan senyum terkembang indah di wajah tampannya.
"Kau.... bukanya orang yang dulu pernah menyelamat ku dari pria pemabuk itu?" Jawab Nayla seraya mengingat-ingat. 'Pria pemabuk' itu sebenarnya di tujukan untuk Gery. Orang yang kini bekerja sama dengannya. Tidak mungkin juga kan Nayla jujur jika dirinya sekarang malah sangat dekat dengan pria yang dulu ingin melukainya dengan botol minuman keras?
"Iya ini aku. Panggil saja aku Kevin." Ucap Kevin memperkenalkan diri.
"Eh iya Vin, terima kasih ya karena waktu itu sudah menyelamatkan aku, kalau saja kau tidak ada, mungkin kepalaku sudah di lukai olehnya."
Kevin lagi, lagi, dan lagi menautkan kedua alis.
Kenapa dia berbohong lagi? Jelas-jelas dia tadi terlihat sangat dekat dengan pria pemabuk itu. Lalu, kenapa sekarang dia bagaikan jijik jika membahas tentang pria itu?
"Sudahlah, sudah kewajibanku menjaga seorang wanita dari pria-pria brengsek seperti itu." Jawab Kevin mantap. Nayla hanya tersenyum.
"Gimana kabarmu?" Tanya Nayla pada Kevin yang tengah menata kembali dasinya yang sempat berantakan.
"Aku baik. Kalau kamu?"
"Aku baik juga. Ngomong-ngomong kau mau apa di restoran ini?"
"Aku habis makan, apa aku salah makan disini juga?" Goda Kevin.
Nayla cekikikan sendiri, "boleh kok, siapa yang melarangmu untuk makan disini? Ck."
"Nah, kau sendiri yang bilang?" Nayla menggeleng-gelengkan kepalnya. Wajahnya masih menarik senyum lebar.
"Iya sudah, aku mengaku salah kalau gitu." Nayla menyatukan telapak tangannya di depan dada.
Kevin menggenggam jemari Nayla yang sedang menyatu.
"Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak bersalah."
"Aku takut aku bersalah, jadi aku meminta maaf."
"Tidak apa. Hm, kau kesini habis ngapain? Habis ketemu pacar ya?" Goda Kevin yang berhasil membuat wajah Nayla menekuk.
"Tidak, aku habis makan, dan aku kesini hanya sendiri, mengenaskan, bukan? Ck."
Kevin kembali menautkan kedua alisnya. Mengapa dia harus berbohong lagi? Kenapa tidak jujur saja? Sebenarnya apa yang dia rencanakan?
Kevin hanya mengangguk, mengiyakan perkataan Nayla. Perkataan yang penuh dengan kebohongan.
***
Sesil menyenderkan tubuhnya di balik pintu kamarnya, menangis sejadi-jadinya agar kesedihannya sirna. Tapi apa? Bukan rasa sedih yang berkurang, melainkan rasa sakit yang bertambah. Entah kenapa pula Sesil seperti ini. Bukanya dia ingin melupakan Reyhan? Tapi kenapa melihat Reyhan berduaan dengan Nayla saja hati Sesil sudah sangat sakit, bagai di iris-iris pisau yang tajam. Hal apa lagi yang bisa Sesil lakukan sekarang ini selain menangis dan mengunci diri dikamar. Meluapkan kesedihannya seorang diri dengan menguras habis dan merelakan matanya menjadi bengkak.
Suara ketukan pintu berhasil membuat Sesil terlonjak, sejenak ia menghentikan tangis nya.
"Sil," panggil Reyhan dari luar. Ia memanggil dengan nada khawatir. Reyhan baru datang ke kamar Sesil karena tadi dia habis menghabiskan makanan dulu dengan Nayla dan mengantarnya pulang sampai depan rumah sekadar untuk mencarikan taksi karena Nayla tidak membawa mobil. Tidak enak juga kan harus meninggalkan Nayla yang sudah rela memasak untuk nya?
Sesil memejamkan matanya, perlahan embun bening kembali menetes dari pelupuk matanya.
Kenapa kau harus kesini? Kenapa kau tidak pergi saja? Kalau begini caranya aku bakalan tidak bisa melupakan mu Rey, bahkan sangat sulit.
"Sil, aku mohon, jawab panggilanku." Pinta Reyhan lirih seraya mengetuk pelan pintu kamar Sesil.
Sesil menarik napas, mencoba mengatur emosi nya dan menjawab panggilan Reyhan.
"Rey, sebaiknya kau pergi saja, aku lagi ingin sendiri."
Reyhan kembali putus asa, ia kembali diusir oleh Sesil, padahal ia ingin sekali bertemu bahkan menggoda Sesil seperti dulu. Tubuh Reyhan luruh ke lantai, punggungnya ia sandarkan di pintu. Kini Reyhan dan Sesil terduduk dengan posisi yang sama, yaitu sama-sama terduduk di lantai dan menyadarkan punggung di pintu. Bedanya, Reyhan berada di luar kamar, sedangkan Sesil berada di dalam kamar.
"Sil, sampai kapan kau akan menjauhi ku terus? Aku tau Gery sudah kembali, aku juga tau kau tidak mencintaiku dan memaksa mu menikah denganku ketika kau masih mencintai Gery. Aku memang bodoh, aku benar-benar bodoh, seharusnya aku tidak melakukan itu, seharusnya aku tidak menikahimu, dan seharusnya juga aku tidak mementingkan ego ku sendiri. Jikapun aku meminta maaf, kebahagian mu juga tidak akan kembali, semuanya sudah berubah dan itu karenaku. Dan aku sadar sekarang, aku pantas mendapatkan ini, aku pantas di benci olehmu, dan kau pantas membenci ku, bahkan ini belum sebanding dengan penderitaan mu selama ini, Sil. Penderitaan selama sebulan ini harus hidup dan tinggal satu atap bersama pria yang sama sekali tidak kau cintai. Satu hal yang harus kau tau Sil, kau boleh membenci ku, bahkan tidak mau memaafkan ku, tapi aku? Aku tidak bisa membenci mu, karena aku benar-benar cinta dan menyanyagimu sepenuh hatiku."
Reyhan beranjak dari duduknya, berjalan gontai menuju kamarnya.
Di dalam sana, air mata Sesil tidak henti-hentinya menetes, mendengarkan perkataan Reyhan seperti itu semakin membuatnya sakit. Sakit yang teramat sakit. Reyhan menyadarkan Sesil jika Sesil adalah wanita yang kejam yang menyia-nyiakan pria sebaik Reyhan. Wanita yang mengedepankan logika dari pada perasaan yang membuatnya seakan di cap sebagai wanita tak berperasaan. Air mata Sesil kembali luruh dengan derasnya, isakannya semakin membesar.
"Rey, kau tidak bersalah, aku yang salah. Tolong, jangan membuatku semakin merasa bersalah karena telah ingin meninggalkan pria sebaik kamu Rey."
***
Tbc.
Maaf telat terus up nya:v
Semoga masih setia nunggu.
Maaf banget
Btw, jangan lupa follow authornya ya gaes;v
Biar makin semangat nulisnya:v
KAMU SEDANG MEMBACA
Best Husband [Sudah Terbit]
Romance[SEBAGIAN PART DIHAPUS] SUDAH TERSEDIA DI GRAMEDIA [SEBAGIAN PART DI PRIVAT, FOLLOW SEBELUM BACA] Cover by @devinapyon Cinta tak butuh banyak bicara, hanya ingin memiliki hingga akhir usia. Reyhan Alexander Abraham seorang CEO muda dari perusahaan...
![Best Husband [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/114754362-64-k121670.jpg)