Apakah Derviano semenakutkan itu?
Ia mematung di tempat, masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan gadis itu terhadap dirinya.
Derviano tersenyum miris.
"Ternyata begini rasanya tidak dipedulikan oleh seseorang," ia membalikkan badannya, berniat untuk pergi darisana. Lagipula, tidak ada untungnya juga ia berlama-lama di dalam sekolah itu. Hanya membuat perasaannya semakin berkecamuk saja.
Derviano terus melangkahkan kakinya, sampai tiba-tiba ia merasakan ada sebuah tangan yang memegang pundaknya dari belakang.
Ia segera membalikkan badannya dan mendapati seorang gadis tengah berdiri dan tersenyum manis kepadanya.
"Hai, Der."
Derviano mengerutkan keningnya. Sepertinya ia mengenali wajah gadis ini, tapi siapa?
"Elo gak kenal sama gue ya?" tanya gadis itu lagi, seperti mengetahui pikiran Derviano.
Derviano menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan cengiran khas yang membuat wajahnya semakin tampan dan lucu.
"Gue Sarah, teman sekelasnya Ziva," ucap gadis berambut panjang itu dengan tangan yang terjulur ke depan.
Derviano langsung menyambut tangan Sarah, berusaha bersikap ramah. Meskipun sebenarnya ia merasa sedikit risih dengan keberadaan gadis tersebut.
"Emm, gue boleh minta nomor handphone lo gak?" tanya gadis itu tak ingin berbelit-belit.
Heh?
Derviano menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus melakukan apa. Bukannya sombong, tapi Derviano memang tidak ingin memberi nomor handphone nya kepada sembarang orang.
"Emm, gimana ya ..."
Sarah menghela berat. Ia yakin jika lelaki itu tidak akan memberikan nomor handphone nya dengan begitu mudah.
Gadis itu mencoba mencari-cari ide yang tepat untuk mengelabui Derviano, sampai akhirnya ...
"Gue gak ada maksud apa-apa kok. Gue cuma ditugasin sama bu Farah untuk ngumpulin seluruh nomor handphone siswa Budi Murni buat diserahin ke bagian tata usaha," ucap gadis itu mencoba meyakinkan Derviano, berharap agar pria itu percaya dan mau memberikan nomor handphone nya kepada Sarah.
"Kok elo yang ditugasin? Bukannya itu seharusnya tugas dari sekretaris masing-masing kelas ya?"
Ck! Ternyata lelaki ini gak mudah buat di bego-begoin, batin gadis itu.
Ia memutar otaknya lebih keras, mencoba untuk mencari jawaban yang tepat buat disampaikan kepada lelaki itu.
"Sekretaris kelas kan tugasnya cuma mendata siswa-siswi di dalam kelasnya doang, kalau gue ditugasin buat mendata seluruh murid yang memang terdaftar menjadi siswa-siswi di Budi Murni, termasuk elo."
"Lagian ini untuk keperluan tata usaha kok, soalnya data-data siswa yang lama udah hilang. Makanya, gue disuruh untuk mendata ulang," jelas Sarah, berharap agar lelaki itu mau mempercayainya.
Derviano tau jika Sarah berbohong, jelas sekali dari raut wajahnya yang suka berubah-ubah dan sedikit tampak ketakutan.
"Gue tau kalau elo itu bohong, tapi yaudah lah ya, gue ngehargai usaha lo."
"Sini handphone lo," ucap Derviano dengan tangan yang terjulur ke depan.
Jantung Sarah ingin mencelos keluar dari tempatnya, ia tak dapat menahan degupan di dalam dadanya yang tak ingin berhenti sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Teen Fiction[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
