DUA PULUH SEMBILAN

1.4K 49 1
                                        

"Ini minuman buat lo."

Ziva menyodorkan segelas es jeruk kepada seorang pria yang tengah sibuk memandangi sebuah album foto yang memang sengaja diletakkan di atas meja hias.

Pria itu sontak terkejut saat mendengar sebuah suara yang tentunya tak familiar lagi di telinganya.

"Eh, iya. Maka-sih," jawabnya terbata-bata, seperti orang yang baru saja kepergok karena ketahuan melakukan sebuah kesalahan.

Alis Ziva saling bertaut, "Kenapa lo jadi tegang gitu?" tanyanya merasa heran.

Derviano menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku cuma takut kamu marah aja. Soalnya kan aku udah lancang liat-liat album foto keluarga kamu."

Mulut Ziva menganga lebar. Ia tak menyangka jika Derviano, seorang pria cuek yang selama ini selalu menganggapnya sebagai wanita pengganggu mengeluarkan kalimat seperti itu.

Ia jadi semakin yakin kalau Derviano memang sungguh-sungguh ingin memperbaiki semua kesalahannya.

"Yaelah Der, santai aja kalik. Gue gak akan marah cuma karena hal sepele kayak gini doang," ucap Ziva sambil tersenyum manis, "Yaudah yuk, kita ngerjain tugasnya di teras belakang rumah aja."

Derviano mengangguk pelan. Ia membalas senyuman Ziva dan menuruti keinginan dari gadis itu. Mereka berdua pun saling berjalan beriringan menuju teras belakang rumah. Tak lupa Derviano membawa tas sekolah dan segelas es jeruk yang sudah dibuatkan gadis itu khusus untuk dirinya.

"Ziv?" panggil Derviano pelan ketika mereka sudah duduk santai di atas kursi bambu yang sengaja dicat menjadi warna cokelat tua.

Ziva menoleh, "Iya?" jawabnya dengan raut wajah yang terlihat sangat lucu. Gadis itu menatap mata Derviano, menunggu pria itu menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

"Makasih ya buat semuanya," Derviano tersenyum tulus. Lain halnya dengan Ziva yang menatapnya dengan tatapan bingung, "Makasi? Buat apa?"

"Makasi karena kamu udah memberi aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan aku di masa lalu," Derviano menghembuskan napasnya kasar, "Aku menyesal, aku malu pada diriku sendiri, tidak seharusnya aku memperlakukan wanita sekejam aku memperlakukan kamu, dulu."

Ziva tak merespon apa-apa. Ia hanya diam, memandangi wajah Derviano. Ekspresinya tak terbaca. Apakah dia merasa senang, kesal ataupun sedih, tidak ada yang tahu.

"Hm ya-udah lupain aja. Btw, kita mulai ngeresensi novel yang mana dulu nih?" tanya Derviano merasa kikuk. Bagaimana tidak? Gadis itu sama sekali tak merespon ucapannya. Lagipula tak ada gunanya Derviano mengucapkan kalimat seperti itu.

"Der?" Ziva memanggil balik seperti apa yang dilakukan oleh pria itu.

Derviano mengangkat kepalanya, namun tak menjawab panggilan Ziva. Pria itu memilih diam, membiarkan Ziva berbicara.

"Gue gak pingin membahas apa yang pernah terjadi di masa lalu, dan elo juga gak perlu ngucapin makasih ke gue. Toh gue gak pernah ngelakuin sesuatu yang baik ke elo," Ziva menghembuskan napasnya kasar, "Kita jalani apa yang terjadi sekarang, dan lupain semua kenangan buruk yang pernah terjadi di masa lalu."

Derviano tersenyum. Ziva memang benar, tidak ada gunanya juga membahas masa lalu yang hanya dapat membuat diri mereka semakin merasa bersalah.

"Kita ngeresensi buku yang ini dulu ya," ujar Ziva sambil menunjuk salah satu novel karya Pramoedya.

Derviano mengangguk, menyetujui saran Ziva.

Mereka berdua pun terhanyut dalam suasana yang hening. Ziva sibuk berkutat dengan laptopnya dan Derviano tampak asik memandangi wajah Ziva dari samping.

Behind The HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang