"Elo mau maafin semua kesalahan gue kan?"
Ziva mendecak sinis. Dilepaskannya tangannya dari genggaman orang itu, lalu berkata, "Gue gak bakalan pernah mau maafin lo!"
Orang itu hanya diam. Dari raut wajahnya jelas sekali memperlihatkan bagaimana perasaannya sekarang, mendung dan tak bergairah. Ia pasti sangat kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa memaksa gadis itu untuk memaafkan dirinya.
"Kenapa lo gak mau maafin gue? Tuhan aja maha pengampun, masa elo enggak?"
Orang itu masih tetap berusaha untuk menaklukkan hati Ziva. Meskipun ia tahu bahwa jawaban gadis itu tidak akan pernah berubah. Tapi setidaknya ia telah mencobanya. Masalah dimaafkan atau tidak adalah urusan belakang, yang penting ia telah mengikuti kata hatinya.
"Kenapa elo gak bisa mencintai gue? Tuhan aja mencintai semua umatnya. Kenapa elo enggak?"
Skak mat!
Orang itu diam mematung. Kali ini dia yang dibuat mati kutu oleh gadis itu. Ia tampak berpikir keras untuk menemukan jawaban yang tepat. Namun, otaknya tak bisa diajak untuk berkompromi saat ini. Dia benar-benar menyerah!!!
"Gak bisa jawab kan lo!?" Ziva tertawa hambar, matanya menyorot dingin, ia menatap wajah orang itu lekat-lekat, kemudian berkata, "Seharusnya lo tahu kalau memaafkan orang yang udah terlalu sering berbuat jahat sama kita itu gak segampang mencintai orang yang gak pernah mempedulikan perasaan kita!!!"
Orang itu mengalihkan pandangannya dari wajah Ziva. Ia tak berani untuk menatap mata itu lebih lama. Tatapan yang ditunjukkan oleh gadis itu sangat membuatnya menderita.
Ia jadi tambah merasa bersalah sekarang.
Ziva menghela pelan. Ia melirik orang itu sekilas, kemudian berkata, "Gak ada yang mau lo omongin lagi kan? Kalau gitu gue mau balik ke kelas dulu."
Belum sempat Ziva berdiri dari duduknya, tangannya langsung ditarik paksa oleh orang itu. Ia meringis sebentar, kemudian langsung menatap orang itu dengan tatapan yang tajam.
"Jangan pergi dulu. Gue belum selesai ngomong."
Ziva memutar bola matanya malas. Ia kembali duduk tenang di bangkunya dan mulai mendengarkan orang itu berbicara.
"Gue tahu kalau memaafkan seseorang itu butuh proses yang panjang. Apalagi kalau orang yang mau dimaafkan itu udah terlalu sering membuat kita menderita."
"Tapi gak masalah. Gue akan datang lagi untuk minta maaf ke elo. Gue gak akan pernah berhenti. Meskipun proses yang gue lalui nanti gak bakalan mudah, tapi gue tetap berusaha untuk ngeluluhin hati lo."
"Satu lagi, gue minta maaf sama elo bukan karena gue udah mulai suka sama lo. Gue cuma gak pingin punya banyak haters. Jadi gue harap elo gak terbawa perasaan."
Ziva menelan ludahnya dengan susah payah. Pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan oleh orang itu mampu membuat jantungnya sakit.
Dugaannya salah. Orang itu melakukan semua ini hanya karena tidak ingin dibenci. Ziva pikir orang itu mulai menyukainya, tapi ternyata tidak. Baiklah, sepertinya usaha Ziva sia-sia. Percuma juga ia merubah penampilannya. Toh, tidak ada yang berbeda. Perasaan orang itu terhadap Ziva masih tetap sama, tak akan pernah bisa berubah.
Ziva segera menghilangkan ekspresi murung dari wajahnya, tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan orang itu. Ia harus berpura-pura kuat! Ia harus bisa membuktikan kepada orang itu bahwa ia memang sudah tak memiliki rasa lagi.
"Elo gak usah pede deh! Gue juga gak suka lagi sama lo! Gue udah ngebuka hati gue buat orang lain! Gue udah lama ngelupain lo!"
"Ah iya, elo juga gak perlu repot-repot untuk terus-terusan minta maaf sama gue. Lo harus tahu kalau sampai kapan pun gue gak akan pernah bisa maafin lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Novela Juvenil[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
