Ziva melangkahkan kakinya, memasuki kantin sekolah bersama sahabatnya -- Nadine.
Tak sedikit pasang mata yang menatap gadis itu dengan tatapan takjub sekaligus kagum.
Kabar tentang perubahan dirinya memang menjadi perbincangan yang hangat saat ini.
Semua orang benar-benar tidak menyangka jika Ziva memiliki wajah cantik yang selalu ia sembunyikan di balik topeng palsunya.
"Gue malu diliatin terus," bisik gadis itu dengan nada suara yang pelan, berharap agar Nadine dapat mendengarkan perkataannya. "Balik aja yuk."
Nadine menatap Ziva dengan tidak santai lalu berkata, "Elo pingin balik ke kelas atau pingin mati di tangan gue?"
Ziva menghembuskan napasnya kasar.
Ia kembali berjalan dengan langkah yang gontai sambil sesekali memamerkan senyum termanisnya kepada setiap orang yang menyapanya dengan ramah.
Ia berusaha untuk tetap tenang. Ziva tidak mau terlihat gugup di depan semua orang. Ia harus mempertahankan harga dirinya!
Saat Ziva ingin melanjutkan langkahnya, matanya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata yang juga melihat ke arahnya.
Mata itu,
Mata yang selama ini ia rindukan,
Mata yang selama ini ia kagumi,
Dan mata yang selama ini ia hindari.
Ziva berusaha untuk tidak peduli. Ia mengalihkan wajahnya dari pemilik mata itu dan kembali melanjutkan langkahnya untuk mengikuti Nadine.
"Lo mau mesen apa?" tanya Nadine ketika mereka sudah duduk tenang di salah satu bangku yang terletak pada barisan kedua.
"Teh manis dingin."
Nadine mengangguk kecil. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan pelan meninggalkan Ziva.
Sepeninggalan Nadine, Ziva kembali terdiam. Ia tampak asik bergelut dengan pikirannya sampai-sampai tak menyadari keadaan di sekitarnya.
"Woi budek! Ngapain lo di sini?"
Ziva terpelonjak kaget ketika melihat dua orang gadis tiba-tiba muncul di hadapannya sembari memasang wajah yang angkuh.
Kening Ziva berkerut.
"Lo gak punya mata buat ngeliat apa yang gue lakuin?" tanya Ziva dengan wajah yang tak kalah angkuhnya dari mereka. "Bego kok dipelihara," sambungnya lagi.
Kedua gadis itu sontak melebarkan kedua matanya, tak percaya dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Ziva.
"Maksud lo apa ngatain kita berdua bego!?" tanya gadis bernama Sarah tersebut dengan wajah yang penuh dengan amarah.
Ziva tersenyum sinis, lalu menjawab, "Kalau bukan bego apa dong namanya? Tolol? Bodoh? Atau paok?"
Sarah mengepalkan kedua tangannya. Kesabarannya sudah habis! Ziva benar-benar sudah membuatnya malu! Lihat saja nanti, Sarah akan membalas perbuatan Ziva lebih parah dari ini!
"Lo udah berani ya sama gue! Lo kira lo itu siapa!?" Sarah menyunggingkan bibirnya, lalu tertawa sinis. "Lo udah ngerasa paling cantik? Lo kira semua cowok bakalan suka dengan gaya lo yang norak ini? Cih ... Muka kampungan! Otak bego! Tapi ngerasa sok sempurna!"
Tasya tertawa. Ia menatap Ziva dengan tajam sembari mengangkat sebelah bibirnya. "Cewek murahan!" sambungnya dengan nada yang ketus.
Ziva segera bangkit dari duduknya dan melipat tangannya di depan dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Novela Juvenil[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
