Ziva menatap bayangannya di depan cermin. Make up tipis dengan ujung rambut yang sedikit di curly membuat penampilannya terlihat cantik malam ini.
Perpaduan kaos putih dengan jumpsuit jeans tidak membuat penampilannya semakin buruk, melainkan semakin sempurna.
Gadis itu mengenakan sneaker putih untuk menunjang penampilannya agar terlihat manis dan stylish.
Tidak lupa juga ia menyemprotkan parfum dengan wewangian floral khas cherry blossom yang dikemas dalam botol merah muda ke sekujur tubuhnya.
Ziva menyambar sling bag yang ia letakkan di atas kasur, lalu segera pergi meninggalkan kamar tidur yang belum sempat ia bereskan.
"Mau kemana lo?" tanya Andre mengagetkan gadis itu. Ziva mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, melirik Andre sekilas sebelum akhirnya kembali fokus berkutat dengan ponsel miliknya.
"Kencan," jawabnya malas.
Andre menatap Ziva, mencoba mengintimidasi. Ia menyipitkan matanya berusaha untuk mencari kebohongan di wajah gadis itu.
"Lo mau kencan sama siapa?" tanya Andre penasaran. Ziva mengerutkan dahinya, malas menjawab pertanyaan dari pria itu, "Parah lu Ziv! Punya pacar gak bilang-bilang ke gue!" omel Andre merasa tak dianggap.
"Awas aja kalau sampai lo merengek-rengek ke gue karena diputusi sama pacar lo, gue gak akan sudi dengerin cerita lo!" ancam Andre dengan penuh penekanan.
Ziva tertawa dengan nada yang meremehkan. Ia mendesis pelan sebelum akhirnya membuka suara, "Emangnya siapa yang mau cerita sama lo? Ogah banget gue," jawab gadis itu sarkastik.
Andre mengumpat dalam hati. Ia mendaratkan bokongnya ke atas sofa yang diduduki oleh gadis itu. Ia melirik Ziva sekilas, lalu membuang pandangannya ke arah lain. Melirik lagi, sebelum akhirnya mengalihkan wajahnya pada layar handphone yang tengah menyala.
Ia merasa kesal sendiri ketika melihat Ziva yang sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya.
Pria berkumis tipis itu pun segera membalikkan setengah badannya untuk lebih jelas menatap wajah gadis yang tengah duduk di sebelahnya, "Lo kencan sama siapa?" tanyanya lagi. Ziva yang sudah bosan mendengar kalimat itu hanya mampu menggerutu dalam hati, mencoba sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan kakaknya.
Tak kuat melihat tingkah Ziva yang sedaritadi mengabaikan dirinya akhirnya Andre memutuskan untuk merebut ponsel yang sedaritadi menjadi fokus perhatian gadis itu, "lo kencan sama siapa?" tanyanya untuk yang kesekian kali.
"Balikin handphone gue!" ucap Ziva dingin dengan tatapan mata yang membunuh. Andre yang sedaritadi sudah dihantui rasa penasaran tak gentar sedikitpun ketika melihat wajah menyeramkan yang ditunjukkan oleh gadis itu.
"Lo kencan sama siapa?" tanyanya lagi.
Ziva mendengus kesal, berusaha untuk tidak menggubris pertanyaan dari pria itu, "Balikin handphone gue!" ucapnya dengan muka yang memerah.
"Jawab dulu pertanyaan gue," ujar Andre tak mau kalah. Ziva yang menganggap dirinya lebih dewasa akhirnya menyerah. Ia memalingkan wajahnya, mengata-ngatai Andre dengan penuh emosi, "DERVIANO!" jawab Ziva penuh penekanan, "Puas lo!"
Andre tersenyum puas. Ia mengedipkan sebelah matanya berusaha untuk menggoda Ziva, "Cieee yang udah balikan ..."
Ziva menatap Andre dengan wajah yang datar.
"Cie yang gak jadi main bunuh-bunuhan ..." Andre semakin menggebu-gebu untuk menggoda adik sematawayangnya itu. Ia memainkan jari-jari tangannya dan mengayunkannya tepat di hadapan wajah Ziva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Teen Fiction[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
