"Makasih ya, Der."
Ziva menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman manis. Pria itu hanya mengangguk. Ia melepas helm yang melekat di kepalanya, lalu segera turun dari atas motor.
"Kamu udah sarapan?" tanya Derviano sembari merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.
Ziva menggeleng, "Belum sih, lo udah?" tanyanya balik berharap agar Derviano memberi jawaban seperti apa yang ia inginkan.
"Belum."
Ziva tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya dan langsung memberikannya kepada pria itu.
"Gue sengaja buatin sarapan buat lo," ucap Ziva dengan kepala tertunduk. Ia malu. Ia yakin jika pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Derviano yang melihat tingkah Ziva hanya dapat tersenyum. Gadis ini sangat lucu, Derviano tidak sanggup untuk terus menahan tangannya agar tidak mencubit pipi gadis itu.
"Sakit Der..." ringis Ziva sembari mengelus-elus pipinya. Posisi gadis itu masih sama seperti sebelumnya. Ia tidak berani untuk mengangkat kepalanya. Ziva tidak berani menatap mata itu lebih lama lagi.
"Udah ah. Jangan malu-malu gitu, muka kamu nggemesin."
Dada Ziva sesak. Ia butuh pasokan oksigen sekarang juga!
"Aku gak yakin kalau ini beneran masakan kamu," Derviano mencoba menggoda Ziva. Ia membuka tutup kotak bekal tersebut dan mulai mencium aroma nasi goreng buatan gadis itu.
"Itu gue yang buat!" protes Ziva merasa usahanya tidak dihargai oleh pria itu, "Kalau lo gak percaya yaudah, gak usah dimakan."
Gadis itu menekuk wajahnya. Derviano yang sadar dengan situasi tak mengenakkan ini pun akhirnya menyerah. Niatnya yang ingin mencairkan suasana berujung kesalahpahaman. Wanita memang selalu begitu, susah ditebak dan dimengerti.
"Aku cuma becanda Ziv ..." ucap Derviano sambil mengacak-acak rambut gadis itu, "Kita sarapan dimana? Di kantin atau di kelas?"
Ziva mengerucutkan bibirnya, "Di kebun binatang aja gimana?"
"Gak mau ah. Aku lagi males ketemu sama kembaran kamu."
Mata Ziva menyipit, "Kembaran gue?" tanyanya dengan wajah yang sangat polos. Derviano yang melihat itu hanya bisa menahan tawa. Ia melipat bibir bawahnya dan berpura-pura tidak melihat gadis itu.
"MAKSUD LO GUE MIRIP MONYET!??"
Mata Ziva melotot. Sontak ia memukuli pundak Derviano dengan mulut yang terus mengomel. Gadis itu tak mempedulikan kehadiran teman-temannya yang sudah mulai berdatangan. Masa bodo dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya. Saat ini ia hanya ingin menghajar tubuh pria itu sampai babak belur.
"Ampun Ziv ..." ucap Derviano dengan wajah yang memelas.
"Aku kan gak ada bilang kalau kamu mirip monyet. Kan kamu sendiri yang bilang barusan," sambungnya dengan nada yang begitu polos.
Ziva meremas tangannya dengan gemas, "Untung aja lo ganteng!" ucapnya tanpa sadar.
Derviano yang mendengar kalimat itu hanya bisa tersenyum. Dugaannya tak salah, perasaan gadis ini belum sepenuhnya berubah. Ia masih mencintai Derviano. Hanya saja kali ini ia tak mau begitu menunjukkannya seperti dulu lagi.
Mungkin benar, Ziva takut untuk menerima kenyataan berikutnya.
Kenyataan bahwa sampai kapanpun cintanya tak akan pernah dibalas oleh pria itu.
"Kita sarapan di kelas aja yuk?" ajak Derviano dengan senyum yang tak mau lepas sedaritadi.
"Ayuk!" ajak Ziva bersemangat, namun saat mereka berdua baru berjalan lima langkah, sontak Ziva langsung menarik tangan Derviano dengan wajah yang cemas, "Der! Tunggu bentar," kening Derviano berkerut, "Kenapa Ziv?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Novela Juvenil[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
