"Baca buku lagi?"
Nadine menghela napasnya pelan, lalu segera mengambil posisi duduk di sebelah Ziva. Sejak tadi pagi, sebelum bel masuk berbunyi hingga sekarang, ketika bel pertanda istirahat kedua dibunyikan, Ziva tak pernah lepas dari buku-buku tebal yang warnanya sudah mulai menguning.
Nadine heran, apa napas Ziva tidak sesak ketika membaca lembaran-lembaran buku itu? Nadine yang melihatnya saja ingin muntah darah.
"Gue gak punya banyak waktu lagi, Nad," jawab Ziva tanpa menatap lawan bicaranya. Ia masih fokus untuk memecahkan soal-soal yang tertulis rapi di dalam buku tersebut.
"Gue tau, tapi elo juga harus mikirin kesehatan lo. Gimana kalau pas hari H elo ngedrop? Elo udah capek-capek belajar, elo udah habisin waktu lo untuk baca buku sebanyak ini, elo udah hapalin semua materi-materi yang ada di buku ini. Tapi, pas hari H, elo jatuh sakit dan gak bisa ngikutin olimpiade itu,"
Ziva melirik Nadine sekilas, ia pikir ucapan Nadine ada benarnya juga. Tapi ... Jika Ziva tidak memenuhi isi kepalanya dengan ilmu-ilmu yang ia dapatkan dari buku-buku itu, bagaimana caranya ia untuk mendapatkan gelar juara?
Bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang sulit harus melewati proses panjang yang sulit juga?
Ziva memijit pelipisnya, memejamkan matanya, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia mulai bingung dengan dirinya sendiri. Apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus mengikuti saran dari Nadine, atau tetap bersikukuh untuk mempelajari segudang materi yang memusingkan kepala.
"Elo gak mau kan kalau hal itu sampai terjadi?"
Ziva menggeleng. Ia menutup buku-buku yang sebagian besar ia pinjam dari perpustakaan lalu menyimpannya ke dalam laci meja.
Ia pikir saran Nadine ada baiknya juga.
"Nah! Gitu dong! Elo gak perlu terlalu maksain diri untuk ngeraih sesuatu yang sebenarnya enggak mampu untuk lo raih. Elo cukup berdoa dan berusaha semampu lo. Gue yakin, elo pasti bisa menangin olimpiade itu tanpa harus belajar sekeras ini."
Ziva mengangguk singkat, "Makasih ya Nad, elo memang yang terbaik deh ..." ucapnya tulus dengan senyum yang termanis.
Nadine mengangguk.
"Oh iya Ziv, pertemuan yang lo ceritain kemarin gimana? Sukses gak?" Nadine menatap Ziva penuh selidik. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, dan meletakkannya di atas meja yang berdebu. "Pacarnya kak Andre cantik gak?"
Ziva terdiam sejenak. Ia tak tahu harus menjawab apa. Bukannya ia malu untuk memberitahukan keadaan kekasihnya Andre kepada Nadine. Hanya saja, ia tak berani menceritakannya sebelum mendapat izin dari Andre. Ia takut dicap sebagai adik yang lancang.
"Gue lagi malas cerita."
Ziva segera bangkit dari duduknya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil dompet dan handphone, lalu melirik Nadine sekilas untuk memberi kode agar ia ikut keluar bersama Ziva.
"Mau kemana?" tanya Nadine sembari memutar bola matanya malas.
"Ke kantin, gue laper."
.
.
.
Ziva menatap makanan-makanan yang tersuguh di hadapannya dengan mata yang berbinar. Entah sudah berapa lama ia tak memakan makanan sebanyak dan selezat ini.
"Buset! Makanan lo banyak amat, Ziv. Elo doyan apa laper?"
Nadine menggeleng takjub ketika melihat tingkah ajaib dari sahabatnya. Ia heran sendiri, kenapa dirinya betah sekali berteman dengan orang seperti Ziva. Selain banyak belajar dan banyak cakap, gadis itu juga termasuk tipe wanita yang banyak makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Teen Fiction[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
