"Makanannya udah aku habisin," ucap seseorang mengagetkan Ziva. Bel pertanda istirahat sudah berdering sejak lima menit yang lalu. Namun Ziva sama sekali tidak mau bergerak dari tempat duduknya.
Ia lebih memilih diam di dalam kelas, menghabiskan waktunya untuk membaca buku pelajaran yang menjadi panduannya untuk menghadapi olimpiade.
"Tadi kamu makan dimana?" tanya Ziva mengalihkan pandangannya dari buku bacaan yang sedari tadi ia genggam.
"Di kelas," jawab pria itu sambil tersenyum manis, "Masakan kamu enak banget."
"Makasi," jawab Ziva sembari memasukkan kotak bekal yang diberikan Derviano ke dalam laci mejanya.
"Aku suka sama cewek yang pintar masak."
Ziva tertawa sinis.
"Alah bacot lo. Coba aja kalau yang masak makanan itu gak cantik, lo juga pasti ogah kan nyobain masakan yang dia buat," jawab Ziva dengan nada yang sarkastik, "Orang cantik kan selalu dihargai."
"Kata siapa?"
"Lo amnesia?" tanya Ziva dengan nada yang terdengar sinis, "Lo lupa kalau dulu pernah buang kotak bekal pemberian gue ke dalam tempat sampah?"
"Aaaah itu ..." Derviano menggaruk telinganya yang mungkin sama sekali tidak gatal.
"Dulu aku benci banget sama kamu. Aku jijik ngeliat tingkah kamu yang terang-terangan memperlihatkan kalau kamu cinta sama aku. Padahal kan kamu cewek, seharusnya kamu gak mempermalukan diri kamu di depan aku."
Ziva tersenyum masam, "Terus kenapa sekarang lo gak jijik lagi sama gue? Apa karena penampilan gue udah berubah?" tanya Ziva penasaran.
Derviano menatap Ziva dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Kamu termakan omongannya Zio?"
Ziva menggeleng, "Gue udah lama pingin nanyain hal ini."
Derviano terdiam sejenak. Tatapannya kosong. Ia menatap jauh ke dalam manik mata Ziva. Raut wajahnya tidak dapat diartikan. Ia menghela napasnya perlahan sebelum akhirnya membuka suara.
"Jauh sebelum kamu berpenampilan seperti sekarang, aku udah sering cari-cari kamu hanya untuk sekedar minta maaf. Tapi apa hendak dikata, aku jarang ngeliat kamu di sekolah. Aku pikir kamu gak datang karena masih dalam keadaan berduka. Tapi aku salah, ternyata kamu selalu datang setelah dua hari kepergian ibu kamu, aku juga tau hal itu dari teman sekelas kamu,"
"Kamu ingat gak waktu aku nyamperin kamu ke perpustakaan buat nyampein rasa belasungkawa atas kepergian ibu kamu? Coba ingat-ingat itu semua aku lakuin sebelum penampilan kamu berubah seperti sekarang,"
"Kamu udah berhasil nyita pikiran aku, Ziv. Kalau kamu tanya kenapa aku bisa berubah seperti sekarang ini, aku juga gak tau apa jawabannya. Aku juga bingung sama diri aku sendiri."
Ziva tertegun mendengar penjelasan dari Derviano. Dugaanya salah. Ia pikir pria itu mendekatinya hanya karena penampilannya sudah berubah. Ternyata tidak. Selama ini Ziva hanya terlalu takut.
"Jangan berpikir buruk lagi. Aku tulus berteman sama kamu."
Ziva mengangguk. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum tipis.
"Kalau gitu lo gak usah panggil gue dengan sebutan aku kamu. Gue udah gak biasa dengar kata-kata itu. Lagipula kita kan cuma temen."
Derviano tertawa. Ia membungkukkan sedikit badannya untuk lebih jelas melihat wajah gadis yang tengah duduk di sebelahnya.
"Mau aku biasakan?" tanya Derviano menggoda Ziva.
"Maksud lo?"
"Manggil aku kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Novela Juvenil[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
