DUA PULUH LIMA

1.5K 59 29
                                        

Pertemuan antar peserta olimpiade telah selesai dilaksanakan sejak lima menit yang lalu.

Seluruh peserta mulai keluar satu per satu dari gedung aula sekolah yang berada di lantai dasar dengan perasaan bahagia sekaligus takut.

Dari hasil pertemuan singkat yang juga dihadiri oleh wakil kepala sekolah, didapat dua buah keputusan penting yang wajib untuk dipatuhi oleh seluruh peserta olimpiade.

Pertama;
Dua minggu sebelum olimpiade berlangsung, seluruh peserta wajib mengikuti karantina yang akan dibimbing oleh beberapa guru.

Kedua;
Dalam waktu satu minggu, seluruh peserta diwajibkan untuk mengikuti program les tambahan yang akan dilaksanakan selama empat hari. Mengingat bahwa waktu yang mereka butuhkan untuk menghadapi ajang bergengsi tersebut terbilang cukup mendesak.

Bayangkan saja, mereka hanya mempunyai waktu selama satu bulan untuk mempelajari setumpuk materi yang masuk dalam kategori sangat sulit.

Teori bilangan, aljabar, geometri, dan kombinatorika adalah sebuah tantangan besar yang harus mereka taklukkan.

Meskipun hal tersebut tidak mudah untuk mereka capai, namun setidaknya mereka telah mencoba. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah sebuah pengalaman, bukan sebuah penghargaan.

Seperti yang telah diucapkan oleh Pak Jansen -- wakil kepala sekolah saat pertemuan antar peserta olimpiade, bahwa;

"Masalah menang atau kalah adalah urusan belakang, hal terpenting yang harus kalian lakukan adalah berdoa dan belajar! Berikan yang terbaik. Tunjukkan kepada dunia bahwa kalian, murid-murid SMA BUDI MURNI adalah murid-murid pilihan yang kelak akan memimpin bangsa ini! Semangat!!!"

.
.
.
.
.

Ziva POV.

Kulangkahkan kakiku untuk keluar dari dalam gedung aula dengan perasaan yang campur aduk.

Jujur, aku tak betah berada di sana. Aku bosan mendengarkan ocehan para guru yang mulai sok sibuk untuk memberikan kami motivasi.

Bukannya aku membenci mereka. Hanya saja, aku sudah muak mendengarkan kata-kata penyemangat yang isinya hanya itu-itu saja.

Semangat, semangat, dan semangat?

Apakah tidak ada kata-kata lain yang lebih berfaedah dari kata semangat?

Anak kecil berusia lima tahun juga bisa mengucapkan kalimat seperti itu.

Mereka sama sekali tidak kreatif.

Bukankah masih banyak kata-kata motivasi yang dapat mereka ucapkan saat pertemuan tadi. Misalnya, di atas langit masih ada langit. Meskipun kalian sudah dipilih oleh sekolah ini, tapi kalian perlu ingat satu hal, bahwa; murid-murid dari sekolah lain masih banyak yang jauh lebih pintar daripada kalian. Jadi, jangan terlalu cepat untuk berpuas diri.

Andai saja ada guru yang mengucapkan kata-kata seperti itu. Aku pasti akan mencium tangannya dengan penuh cinta, serius, aku tidak bohong.

Tapi, terkadang ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan.

Dari berpuluh-puluh guru yang ada di sana, hanya satu guru lah yang mampu membuat aku tersenyum bahagia.

Namanya pak Jansen.

Dia sangat baik, ramah dan berwibawa. Semua kata-kata motivasi yang keluar dari dalam mulutnya mampu membuat aku terpana dan terngaga.

Dia benar-benar guru idolaku.

Behind The HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang