Bel tanda berakhirnya pelajaran baru saja memecahkan keheningan di kelas XI IPS 2. Semua siswa menyambutnya dengan perasaan lega bercampur bahagia, sama halnya dengan Derviano.
Buru-buru ia menyusun semua peralatan sekolahnya ke dalam sebuah tas besar berwarna hitam. Ia ingin cepat-cepat keluar dari kelas ini. Derviano merasa bahwa hawa di sekitarnya mendadak panas. Semua orang sibuk mengintrogasi dirinya dengan beribu pertanyaan yang membuat kepalanya serasa ingin pecah.
Saat Derviano hendak berdiri dari bangkunya, sebuah tangan besar tiba-tiba mendorong tubuhnya untuk duduk kembali. "Elo mau kemana?" tanya sang pemilik tangan besar itu dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya.
"Elo gak boleh pergi sebelum lo ngasitau alasan kenapa lo mau minta maaf sama cewek itu."
Derviano mendecak pelan. Ia menatap kedua temannya dengan tatapan kesal, lalu menjawab, "Itu bukan urusan lo."
Ardi dan Kelvin saling bertatapan dengan kening yang berkerut. Mereka pikir ada yang aneh dari sikap temannya itu.
"Elo suka ya sama Ziva?" tanya Kelvin tiba-tiba membuat tubuh Derviano menegang seketika. Suka? Apa benar jika ia sudah mulai menyukai wanita itu? Tapi sejak kapan?
"Jawab elah! Lo suka kan sama cewek itu?"
Derviano tertawa sekilas, ia berusaha untuk mengubah ekspresi wajahnya, berharap agar Adri dan Kelvin tak curiga dengan sikapnya saat ini.
"Kalau iya kenapa? Kalau enggak juga kenapa? Emang ada ngaruhnya sama kehidupan lo? Enggak kan? Saran gue sih, lo berdua pada cari gebetan, biar hidup lo gak ngenes-ngenes amat! Taunya cuma ngurusi percintaan orang lain aja. Sekali-kali lo urusin tuh hati lo yang kosong tak berpenghuni."
Derviano menatap kedua temannya dengan tatapan prihatin sekaligus jijik. Mengapa Tuhan mengirimkannya teman yang modelnya seperti ini sih? Sama sekali tidak menguntungkan. "Gue pulang duluan ya. Gak guna juga ngomong lama-lama sama makhluk kesepian kayak lo-lo pada,"
jawabnya sarkastik, kemudian segera pergi dari hadapan kedua temannya.
"ELO MAU KEMANA? WOI KUTU AYAM! LO JANGAN MENGHINDAR! LO BELUM JAWAB PERTANYAAN KITA!!!"
*****
Derviano menyandarkan badannya pada kereta besar yang sengaja ia parkirkan di luar area sekolah. Pria itu sibuk mengamati murid-murid yang sedang berjalan keluar dari pintu gerbang besar bercat hijau tua. Sejak bel pulang dibunyikan, Derviano memang sengaja keluar kelas lebih cepat. Ia ingin menemui seseorang yang sedaritadi selalu mengganggu pikirannya.
"Kenapa dia belum keluar juga ya?"
Derviano melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan raut wajah yang cemas. Sudah hampir lima belas menit ia menunggu tanpa mendapatkan hasil apa-apa.
Pria itu mendecak pelan. Ia berjalan mondar-mandir dengan tangan yang sengaja dilipat di depan dada. Ia berharap agar orang yang sedari tadi ia tunggu-tunggu segera muncul dari balik pintu gerbang itu.
"Derviano?"
Derviano tersontak kaget saat sebuah tangan putih tiba-tiba menyentuh pundaknya dari belakang. Ia membalikkan badannya dan spontan mengangkat kedua sudut bibirnya saat matanya tak sengaja menatap mata seseorang yang sedaritadi terus membuat dirinya gelisah.
"Ziva?"
"Kamu udah pulang?"
Ziva mengangguk pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind The Heart
Novela Juvenil[SLOW UPDATE] Jika mencintaimu harus sesakit ini, aku ingin berhenti bernafas saja. Tapi apa kamu tidak merasa sakit jika harus kehilanganku? Cih, aku bermimpi terlalu tinggi.
