PART 4 - EX PERSONNEL BAND

15.7K 1.3K 23
                                        

“Kalo di jodohinnya sama bidadari kaya kamu, mana bisa aku nolak?” - Iqbaal Dhiafakhri pecinta lesung pipi (Namakamu).

oOo

Almira tampak begitu asyik bermain lego dengan Tante kesayangannya. Lego yang di susun menjadi minuatur rumah-rumahan dan bangunan perkotaan itu berjajar rapi di atas karpet bulu ruang keluarga. Sementara (Namakamu) sibuk merangkai lego sambil sesekali melirik buku panduan, Fildza datang sambil membawa beberapa cemilan dari dapur.

“Anak Bunda lagi ngapain nih?” Tanya Fildza lalu duduk di sebelah Almira.

“Lagi main lego. Bunda bunda!” Almira berseru.

“Kenapa sayang?”

“Liat!” Almira mengacungkan lego yang sudah disusun menjadi miniatur restoran. Sambil menggoyangkan benda tersebut ke hadapan sang Bunda. “Sama Tante Ste di susunnya. Tante hebat ya Bunda?”

Tante Ste yang Almira maksud tadi adalah (Namakamu). Entahlah, (Namakamu) juga tidak tahu kenapa Almira memanggilnya Tante Ste. Mungkin karena saat pertama bertemu, (Namakamu) memperkenalkan dirinya (Namakamu) Stella. Dan untuk first impression, gadis kecil itu langsung interest dengan nama Stella. Meski begitu, dia tidak begitu mempermasalahkan dan justru senang karena Almira memiliki panggilan kesayangan untuknya.

Fildza tersenyum dan ikut tertawa melihat Almira yang tampak begitu senang. Wanita itu mengusap puncak anak perempuannya yang masih berumur enam tahun tersebut. “Udah bilang makasih belum ke Tante Ste nya?”

Dengan senyum malu-malu, Almira memandang Tante cantiknya itu dan bergumam, “Makasih, Tantee...”

(Namakamu) mengangkat wajahnya. Dia mengernyit ketika Almira menunduk malu-malu sambil mengatakan terima kasih. Jujur, (Namakamu) rasanya seperti anak kecil karena terlalu fokus dengan kepingan lego di hadapannya ini.

“Makasih buat apa, sayang?” Tangan (Namakamu) bergerak mengusap rambut Almira yang lembut, menjuntai sampai bahu.

“Makasih udah bantuin Almira nyusun legonya. Hehe..”

Tanpa sadar (Namakamu) tersenyum dan mencubit gemas pipi gembul Almira. “Sama-sama sayang. Mau Tante bantuin lagi nggak? Legonya Almira banyak ya. Yang beliin siapa?” Tanya perempuan itu dengan ramah.

“Ayah yang beliin. Legonya bagus ya Tante?”

“Bagus kok.”

Fildza masih diam disitu ketika anak perempuannya mengbrol dengan adik iparnya itu. “Darien emang suka beliin Almira lego. Tiap weekend pasti suka beliin lego kalo lagi jalan-jalan ke Mall bareng gitu.” Kata Fildza bercerita pada (Namakamu).

Mau tidak mau, (Namakamu) mengalihkan pandangannya dari lego untuk menyimak apa yang kakak iparnya itu ceritakan. Raut kebahagiaan begitu terpancar di wajah perempuan yang sepertinya sudah memasuki kepala tiga ini. (Namakamu) memang mengagumi Fildza. Selain cerdas dan kariernya yang cemerlang sebagai dokter gigi, Fildza masih mampu memanage waktunya dengan baik, entah itu sebagai ibu atau seorang istri di rumah.

“Daripada Almira beli makanan yang aneh-aneh atau main gadget nggak jelas, mending dikasih mainan lego kaya gini biar kreativitasnya berkembang.” Jelas Fildza dan (Namakamu) manggut-manggut setuju.

“Iya juga, Teh. Miris aja liat anak-anak kecil jaman sekarang. Semua udah serba teknologi. Liat anak kecil seumuran Almira gini jago main gadget, bukan suatu kebanggaan. Malah ngeri liatnya. Takut mereka kecanduan nggak jelas dan malah menumbuhkan bad personalities nantinya.” Tambah (Namakamu) mengutarakan pendapatnya.

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang