GUE PERJUANGAN BGT BUAT PUBLISH INI GAES!
Soalnya gue lagi di kosan, jaringannya E, sinyal cuma dua batang doang. Harusnya gue publish ini kemarin malem tp gagal mulu. Baru sempet skrg, mumpung gue kuliah sampe maghrib wkwkw. Semoga perjuangan gue kalian bales dengan komen yg membangun yaa! Luv yuuu
oOo
(Namakamu) mengikat kuat keresek hitam berisi sampah dan dedaunan kering di tangannya, lalu melemparnya pada tempat sampah yang hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri. Dengan kedua tangan berada di pinggang, kedua bola mata (Namakamu) berpendar ke sekeliling halaman depan rumahnya yang tak seberapa. Rumput gajah yang menghampar panjang hingga ke sisi dalam pagar, kini sudah terlihat bersih tanpa ada dedaunan layu atau sampah kecil yang bertebaran. Perempuan itu tersenyum. Semuanya sudah (Namakamu) bersihkan tanpa meninggalkan sisa. Hanya meninggalkan kesan asri dan segar bagi siapa saja yang melihatnya.
Tanaman bunga hias pada pot tanah liat yang digantung di ujung kanopi semakin memperindah area outdoor. Teras yang tidak begitu luas diletakan satu set meja kursi berbahan kayu jati. Tak lupa satu pot besar tanaman sri rejeki yang di simpan dekat engsel pintu. Semakin menambah kesan minimalis namun natural. Dengan riang (Namakamu) menyemprotkan air pada setiap tanaman-tanaman di depan rumahnya itu supaya tidak layu. Tak terkecuali rerumputan hijau yang disiram menggunakan selang yang terpasang pada kran.
“Rajin ya, Neng, pagi-pagi udah nyiram tanaman.”
Sapaan seseorang di luar pagar mengalihkan pandangan (Namakamu) dari rumput yang sedang disiram menggunakan selang panjang. Tinggi pagar yang memang hanya sebatas dada, membuatnya bisa melihat siapa yang barusan mengajaknya berbicara.
“Iya, Bu. Sayang kalo pada layu.” (Namakamu) jawab seadanya dengan sebuah senyuman.
“Iya. Sayang. Bagus-bagus tanamannya. Bunganya cantik-cantik.” Balas Ibu-ibu berdaster batik dengan warna coklat dominan.
“Makasih, Bu.” Balas (Namakamu) seraya terkekeh pelan.
Ada tiga ibu-ibu disana. Ketiganya membawa keresek berwarna merah berukuran sedang di tangan mereka. Sepertinya ibu-ibu ini habis belanja di tukang sayur keliling yg kebetulan sedang berjualan tepat di dekat rumahnya. Biasanya Pak Udin suka keliling kompleks. Kadang berhenti kalau banyak ibu-ibu yang beli.
“Nggak belanja, Neng?” Tanya ibu satunya.
Sambil terus menyiram, (Namakamu) menggelengkan kepala tanpa menghilangkan senyuman. “Kemarin kebetulan habis belanja. Jadi stoknya masih banyak.”
“Suaminya kemana? Kok nggak keliatan?” Ibu-ibu berdaster coklat bertanya lagi namun kali ini dengan nada menggoda.
“Ada kok, Bu, di dalem. Lagi ngurus-ngurusin berkas kantor.”
“Enak ya, Neng, punya suami yang punya perusahaan. Tinggal duduk cantik di rumah, semuanya dipenuhin sama suami.” Katanya. Entah ini menyindir atau iri dengan (Namakamu). “Ibu mah boro-boro. Mau apa-apa ya beli pake duit sendiri. Uang suami cukup buat beli kebutuhan anak sama rumah tangga. Makannya Ibu sampe sekarang masih betah kerja di Bank, biar punya penghasilan sendiri, biar bisa nyenengin diri sendiri.”
Kalau dari ucapannya sih, sepertinya ibu ini iri dengan (Namakamu).
“Iya, Neng. Susah sekarang nyari suami kaya gitu. Harus dibaik-baikin kalo udah dapet satu!” Timpal ibu-ibu yang lainnya.
(Namakamu) hanya balas tersenyum sambil memegang erat ujung selang yang masih mengalirkan air dari kran.
“Terus kapan, Neng, mau ngasih anak buat suami?”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
