PART 18 - THAT SMILE

8.5K 1.2K 93
                                        

Seharian ini Iqbaal hanya diam di rumah, tidak pergi ke kantor. Bukan bolos. Hanya saja, kemarin ia sudah kerja keras di Paris selama hampir empat hari. Tidak ada salahnya kalau Iqbaal mengambil waktu istirahat lebih. Badannya juga masih terasa pegal sampai hari ini. Belum lagi matanya yang tidak bisa diajak kompromi, ingin terus saja terpejam dan menikmati tidur seharian tanpa diganggu apapun.

“Hei!” Seseorang datang dan mengguncangkan kasur yang Iqbaal tiduri. Tanpa perlu membuka mata, Iqbaal tahu suara siapa itu. “Mau makan nggak? Aku udah masak nih. Enggak laper apa dari tadi tidur mulu?”

Sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Iqbaal terusik. Membuka mata lebar-lebar untuk melihat apa yang menyentuh pipinya. Ternyata itu telunjuk (Namakamu). Pasti habis cuci piring. Biasanya tangan akan terasa dingin karena bersentuhan dengan air dalam waktu yang cukup lama.

Iqbaal menggeliat. Daritadi ia tertidur dengan posisi menyamping sambil memeluk guling. Selimut tebal melilit tubuh atletisnya dengan sempurna. Bahunya sedikit terangkat. Melakukan streching sejenak sebelum akhirnya kembali berbaring dengan posisi terlentang. Supaya bisa melihat wajah cantik (Namakamu) tentunya. “Jam berapa sekarang?” Bertanya dengan suara serak. Khas orang bangun tidur.

“Jam sepuluh.” (Namakamu) sedikit terpana ketika melihat Iqbaal yang sedang streching, dengan wajah bantalnya yang rupawan. Menggoda iman. Tapi kemudian ia mengambil ponsel miliknya di nakas untuk mengalihkan pikiran liarnya. Lalu menekan tombol sehingga layarnya menyala dan menampilkan jam digital pada layar kunci. “Tuh. Makan dulu ya? Nanti kalo mau tidur lagi nggak papa. Aku nggak bakal larang.”

Yang diajak bicara justru tidak membalas. Malah semakin mendekatkan tubuhnya pada (Namakamu), menarik tubuh itu supaya terperangkap dalam pelukannya. Lagi. “Sebentar lagi ya?”

“Sampe kapan?” (Namakamu) menahan kening Iqbaal dengan telapak tangannya supaya tidak tenggelam di ceruk lehernya. Ia masih berbicara dengan Iqbaal.

“Sampe...” Iqbaal berpikir. Matanya masih terpejam. Lalu berdehem panjang dengan suaranya yang serak. (Namakamu) selalu menyukai suara Iqbaal ketika bangun tidur. “...eh iya, aku punya oleh-oleh buat kamu.” Katanya. Kali ini dengan mata terbuka. “Sampe lupa ’kan punya oleh-oleh buat Mrs. Dhiafakhri.”

“Yang di paper bag putih bukan?” Tanya (Namakamu).

“Iya,” Iqbaal mengeratkan lingkar tangannya di pinggang (Namakamu), lalu memberikan kecupan singkat di bibir menggemaskan istrinya. “kamu udah buka?”

(Namakamu) menggeleng. “Belum. Tadi pas mau ngambil baju kotor kamu di koper, aku liat paper bag itu. Cuma liat aja. Tapi enggak liat isinya apa. Takutnya itu barang pribadi kamu. Jadi ya enggak aku liat.” Ujar (Namakamu) jujur tanpa kebohongan. Tadi (Namakamu) memang sempat melihatnya. Tersimpan di dalam koper besar yang Iqbaal bawa ketika pergi ke Paris. “Kalo tau itu buat aku, langsung aku liat deh isinya.”

Iqbaal terkekeh lalu mengusap hidung mancung (Namakamu) dengan hidungnya. “Yaudah nanti kamu ambil, terus liat isinya.”

“Emang kamu beliin apa buat aku?” (Namakamu) sedikit penasaran. Tangannya balas memeluk pinggang Iqbaal sementara wajahnya menengadah untuk melihat wajah Iqbaal yang sedikit lebih tinggi darinya.

Iqbaal tersenyum. Tubuhnya turun ke bawah hingga kepalanya sejajar dengan leher (Namakamu) dan menenggelamkan wajahnya disana. Favoritnya. Rasanya benar-benar pulang ke rumah. “Menurut kamu apa?”

“Apa ya?” (Namakamu) jadi ikutan berpikir. “Penasaran. Aku mau bawa dulu ah papper bagnya.”

“Nanti aja.” Iqbaal menahan tubuh (Namakamu) yang hendak beranjak dari kasur. “Isinya baju kok. Kemarin pas mau ke tempatnya partner bisnis, ngelewatin toko baju gitu. Tempatnya bagus. Bajunya juga. Aku langsung bayangin gimana kalo baju itu kamu pake.” Iqbaal mencium permukaan leher (Namakamu). “Pasti cocok.”

Mendengar penuturan Iqbaal barusan, membuat hati (Namakamu) berdesir. Sama sekali tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum. Another surprised done by this man. (Namakamu) mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Iqbaal. Terasa sedikit kaku. Tapi (Namakamu) tetap manyukainya. “Gimana kamu bisa yakin kako baju itu cocok aku pake?” Tanya (Namakamu) iseng.

Ain’t an angle suits in every kind of clothes?”

Astaga. Pria ini...

“Apasih Iqbaal!!” (Namakamu) menjauhkan kepala Iqbaal dari lehernya sambil tertawa. “Cheesy banget tau nggak?”

“Biarin.” Iqbaal ikut tertawa.

(Namakamu) tertawa. Lalu kembali berbicara. “Gombal lagi awas ya.”

“Kenapa? Nggak suka?”

“Aneh aja liatnya.” (Namakamu) mengangkat bahunya. “Norak!” Ledeknya sambil tertawa.

“Disayang kamu ini kok. Nggak masalah.”

(Namakamu) melototkan kedua matanya lalu mendekat ke arah Iqbaal. “Bilang apa tadi kamu? Coba dong ulang lagi, pengen denger.” Ujarnya sambil tertawa.

“Enggak!” Tolaknya. Kemudian tertawa.

“Bilang apa tadi, Baal?” (Namakamu) menusuk lengan Iqbaal dengan telunjuknya. Kapan lagi bisa menggoda Iqbaal seperti ini?

“Enggak ah. Enggak mau.”

Iqbaal masih tertawa. Sebelah tangannya menutupi wajah namun hanya sampai hidung. Sehingga (Namakamu) masih bisa melihat jajaran gigi Iqbaal yang rapi, tanpa lupa bibirnya yang menipis karena sudutnya tertarik, untuk membuat sebuah tawa.

(Namakamu) menikmati pemandangan di hadapannya. Pemandangan Iqbaal yang sedang tertawa menahan malu akibat ulahnya sendiri.

 Pemandangan Iqbaal yang sedang tertawa menahan malu akibat ulahnya sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

So lovable.

Bersambung...

MAKASIH BUAT RINDIYANI (LAGI) YG UDAH NGERACUNIN PAGI GUE TADI DENGAN FOTO IQBAAL YANG SUNGGUH MEMBUAT JIWAKU AMBYAR!! MAKASIH LOH! SENGAJA CAPSLOCK BIAR GREGET

Tadinya gamau apdet, tp grgt tadi habis malmingan bentar ke alun2, terus banyak orang pacaran sambil gandengan tangan, akhirnya gue memutuskan apdet biarpun pendek. Anggep aja ini bentuk pelampiasannya HAHA engga deng canda -..-

BTW MAKASIH YA BUAT VOTE NYA!!! gilasehhhh yg part 16 votenya udh 700 lebih. Gue gatau bakal se-excited itu kalian sama cerita ini. Terharuuuuu :"""

Oksip bye!

28/07/18

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang