Bentar, iklan dulu. Nisa mau ngebacot. Ga penting si. Tapi gue pengen.
Tadi gue iseng buka gmail. Ada 4698 inbox unread cause gue males baca dan isinya pasti kebanyakan kabar dari author wetped yg gue follow. Gue bacanya yg notif cerita gue aja. Sengaja ga liat notif yg diwetped, udah numpuk 1,2k unread, sayang klo dibuka wkwkw
Singkat cerita, gue di tag dikomenan sebuah cerita sama bakpialeku a.k.a rindiyani wkwk. Mamam tuh gue buka kartu HAHA. Pas gue liat, oh ini mah ceritanya Avi. Udh pernah mampir terus gapernah mampir lagi wkwkw. Tp pas gue ngeh ditagnya di line comment gitu, gue ngakak gila. HAHAHA. Asli inimah ngakak.
Sampe2 nyokap nyautin gue dari ruang tipi “Kenapa lagi mba? Mantan bikin story apa lagi? Dibales apalagi?”
Seketika gue langsung berenti ngakak dan mutusin buat ngetik ini cerita.
KENAPA JADI BAWA2 MANTAN SEHHHH? Aku udah mup on maaah, udah mup on. Sebel deh milea :(
Sekian.
oOo
Langit sudah memudarkan warna birunya. Awal datangnya senja adalah saat dimana Iqbaal menapaki beranda kediamannya yang kelihatan sepi. Satu persatu dilepasnya sepatu hitam yang melekat di kedua kakinya. Di bukanya pintu rumah yang sama sekali tidak terkunci, masuk ke dalam, lalu terdengar suara tawa anak kecil terdengar begitu nyaring dan berasal dari ruang tengah.
Itu Almira. Bermain begitu asyik dengan istrinya, (Namakamu). Iqbaal tersenyum melihat pemandangan di depan matanya saat ini. (Namakamu) begitu lihai memainkan boneka-boneka milik Almira lalu mengeluarkan suara seolah-olah boneka itu memang berbicara. (Namakamu) menyukai anak kecil. Menyukai cara bermain mereka dan akan senang hati (Namakamu) akan ikut bermain bersama.
Iqbaal masih jadi penonton, diam di posisinya, sampai otaknya memerintah kalau dia harus menghampiri dua orang tersebut bukan malah berdiri di tempatnya seperti orang bodoh.
“Aku adalah Ratu. Semua harus menurutiku kalau tidak mau mendapat hukuman. Ayo semua tunduk padaku!” (Namakamu) menggerakan boneka di tangan kirinya yang berperan sebagai Ratu antagonis. Almira cekikikan saking antusiasnya melihat (Namakamu) yang begitu lihai memeragakan boneka-boneka di tangannya.
“Lagi main apasih?” Iqbaal menginterupsi permainan kedua perempuan itu disusul pekikan Almira melihat Omnya datang. Otomatis, (Namakamu) pun menghentikan permainannya sejenak.
“Om Baale Om Baale! Tante Ste lagi dongengin cerita buat Almira. Om Baale harus dengerin deh, seru, ada yang jahatnya.” Lapor Almira dengan wajah yang begitu riang.
Iqbaal ikut memasang wajah antusiasnya. Kemudian menatap (Namakamu) yang berada di sebelahnya. “Coba dong aku pengen liat.”
“Nggak mau ah kalo ada kamu. Nggak seru!” (Namakamu) meletakan boneka tersebut di karpet dan merapikannya supaya tidak tercecer. “Udahan ya Almira mainnya. Besok lagi disambung ceritanya. Nggak papa ’kan?”
Baik Iqbaal dan Almira sama-sama memasang wajah kecewa. Tapi Almira kelihatan lebih kecewa. “Yaahh, Almira pengennya sekarang, Tantee...”
“Besok aja ya? Besok Tante ceritain deh lebih seru dari sekarang. Gimana?” (Namakamu) mengusap dagu Almira lembut. Membujuk gadis kecil itu supaya mau melanjutkan ceritanya besok.
“Yaudah Tante. Besok aja nggak papa.” Almira kini tersenyum lagi seperti biasa.
“Sekarang kita beresin ini dulu yuk? Biar nggak dimarahin Bunda.”
(Namakamu) dan Almira dengan telaten memasukan boneka-boneka kain tersebut ke dalam kontainer kecil berwarna bening khusus untuk menyimpan mainan Almira. Dibantu Iqbaal, boneka Almira yang banyak itu akhirnya selesai dirapikan dalam waktu singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
