PART 30 - WHY?

4.9K 811 104
                                        

"What are you talking about? Kenapa kamu nanya kayak gitu, (Namakamu)?" Iqbaal tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. "Of course you are! Kamu istriku. Nggak ada yang lebih penting selain kamu, selain kita. Stop wondering something that never really happend among us!"

"Kalo bener aku penting, kenapa kamu nggak cerita sama aku, Baal?" (Namakamu) refleks menjauhkan tubuhnya ketika emosi dalam diri mulai tidak terkendali.

"Why, (Namakamu)? Ini cuma tentang Steffy. Tentang cewek yang jelas nggak ada bandingannya sama kamu!" Iqbaal mendadak dibuat marah akan pertanyaan (Namakamu). "What you should worried about then? She has nothing if I compare with everything you have right now. You're going exaggerate, (Namakamu). Aku nggak suka dengan sikap kamu yang marah-marah begini cuma karena Steffy."

"Cuma karena Steffy. Right. Cuma...karena...Steffy. Dan aku bisa semarah ini." (Namakamu) lantas berdiri, menarik rambutnya frustrasi tanpa berhenti memasang wajah penuh amarah. "Kamu emang nggak ngerti atau emang nggak mau ngerti sih? Gimana aku mau bersikap biasa aja kalo dia secara terang-terangan ngejar kamu dan mau ambil kamu dari aku?"

Dalam satu tarikan napas, (Namakamu) menatap buram Iqbaal sambil melanjutkan lagi kata-katanya. "Salah ya kalau aku marah-marah kayak gini? Salah ya kalo aku sebagai istri kamu, mau mempertahankan kamu-suami aku-dari orang lain? Salah ya, Baal?!"

"Kamu berlebihan. Steffy nggak seburuk yang kamu kira. Dia-"

"Nggak seburuk yang aku kira, kamu bilang?!"

Suara tawa (Namakamu) terdengar di telinga Iqbaal. Bukan suara tawa yang melambangkan kebahagiaan, namun tawa yang mengantarkan pada suatu kenyataan pahit. Bahwa (Namakamu) tidak terima dengan ucapannya. Meledeknya dengan tawa seakan menjelaskan apa yang Iqbaal katakan barusan adalah sebuah omong kosong belaka.

"Terus mau kamu apa, (Namakamu)?!" Kali ini Iqbaal tidak dapat menahan emosinya lebih lama lagi. "Kamu mau aku batalin proyek yang udah aku buat jauh-jauh hari dan bikin aku mendadak bangkrut hanya karena kecemburuan kamu yang nggak beralasan ini? Don't you think you're so damn stubbord and selfish?"

Iqbaak berdecih. "Kamu bener-bener keterlaluan, (Namakamu)."

"Kamu lupa, selicik apa dia buat dapetin kamu lagi? Apa harus, aku ingetin kamu lagi tentang perbuatan dia yang jelas-jelas mendorong aku buat jauh dari hidup kamu? Shall we do this?"

Meski tidak semarah tadi, bukan berarti (Namakamu) melunak begitu saja. Iqbaal paham betul bagaimana mengendalikan emosi (Namakamu) yang berapi-api seperti saat ini. Memilih diam adalah solusi terbaik. Diam yang tidak henar-benar diam. Tapi dalam diamnya Iqbaal berpikir, berusaha mencari cara agar setelah ini, (Namakamu) dapat kembali seperti semula. Menghilangkan semua ketegangan yang ada agar kembali pada suasana yang penuh akan romansa.

Iqbaal mengedipkan mata saat melihat (Namakamu) yang masih menatapnya dengan posisi membelakangi jendela. Meski begitu, tidak lantas membuat Iqbaal tidak menyadari kalau istrinya menangis. Lagi-lagi, Iqbaal membuat (Namakamu) menangis hanya karena masalah kecil. Masalah yang sejak dulu menjadi keraguan terbesar seorang (Namakamu) selama menjalani pernikahan ini.

"Please, don't push me to do the worst. Aku capek bertengkar sama kamu, (Namakamu). Bukan ini yang aku mau."

"But you started. You did it."

"I'm sorry," Iqbaal berdiri. Meraih sisi wajah (Namakamu) lalu mencium bibirnya dalam. Berharap melalui ciuman ini, setidaknya mampu mengurangi kadar emosi dalam diri istrinya. "Tenangin diri kamu, oke? Apa yang kamu bilang barusan, bener-bener salah, (Namakamu). I'm still yours and nobody can have me except you."

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang