PART 31 - GUILTY

5.7K 864 188
                                        

Rasa lelah menggelayuti tubuh Iqbaal yang baru saja kembali ke kamar ketika hari sudah larut malam. Steffy agak sulit dibujuk untuk ditinggal seorang diri. Insiden di loby tadi agaknya membuat perempuan itu belum mau menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Sepertinya setelah ini Iqbaal akan berusaha lagi untuk membuat Steffy mengerti akan posisinya jika masih ada keberatan dari Steffy tentang penjelasan Iqbaal hari ini.

Lampu kamar yang temaram, tidak menyulitkan netra Iqbaal untuk menyadari kalau istri tercintanya sudah terlelap di atas ranjang lengkap dengan selimut membungkus tubuh mungilnya. Kalau tidak ingat jika dirinya belum mandi, mungkin Iqbaal segera membaringkan tubuhnya di sebelah (Namakamu) dan saling berbagi kehangatan. Sambil melepas jaket, Iqbaal berjalan ke arah kasur. Membungkukan badan tepat di depan wajah (Namakamu) yang berbaring miring dan mengecup pelan pipinya. Merasa tidak cukup, kecupannya berpindah pada puncak kepala, hidung lalu terakhir bibirnya. Hanya sentuhan ringan sebab Iqbaal tak ingin membuat (Namakamu) terganggu.

Butuh waktu dua puluh menit untuk laki-laki bertubuh tegap itu menyelesaikan ritual mandinya. Dibalut dengan kaos tipis dan celana pendek, Iqbaal akhirnya dapat berbaring di sebelah (Namakamu) yang sepertinya sudah teramat lelap dalam tidurnya. Posisi tidur sang istri yang belum berubah sejak kepulangannya tadi, membuat Iqbaal hanya mampu memeluknya dari belakang. Padahal Iqbaal ingin sekali tidurnya malam ini sambil memandangi wajah damai istrinya. Seperti yang sudah-sudah.

Tapi sepertinya ini sudah cukup. Mengingat belum ada kata maaf yang menyambut kembalinya hubungan baik antara dirinya dan (Namakamu), begini saja sudah lebih baik. Iqbaal masih bisa merengkuh (Namakamu) dalam tidurnya. Memastikan bahwa istrinya aman dalam rengkuhan tangannya. Sampai nanti fajar kembali menyingsing, setidaknya Iqbaal sudah berupaya memberikan yang terbaik untuk (Namakamu) di sepanjang tidurnya.

Untuk istrinya yang semoga saja masih sudi memaafkan lelaki bodoh ini.

"Night, My Sweet."

oOo

Malam sepertinya berlalu begitu cepat. Iqbaal masih sangat ingin melanjutkan tidur saat telinganya tidak sengaja mendengar suara berisik dari sudut ruangan lain. Kantuk masih merenggut sebagian alam sadar. Dengan susah payah, laki-laki itu membuka mata. Membiarkan cahaya matahari dari mengintip dari celah gorden, memaksa masuk ke dalam retina matanya. Sayup-sayup suara berisik itu perlahan hilang. Berganti dengan pemandangan siluet perempuan yang Iqbaal yakini adalah istrinya.

"(Namakamu)?"

Tangannya meraba sisi kasur yang kosong, pertanda tidak ada orang disana. Maka bisa diyakini kalau yang Iqbaal lihat sewaktu membuka mata tadi adalah istrinya. Saat itu juga, seluruh nyawanya terkumpul melihat bagaimana penampilan istrinya pagi ini, teramat rapi. "Mau kemana? Kenapa nggak bangunin aku kalo mau pergi?" Tanyanya.

Dalam satu gerakan, Iqbaal berhasil bangun dari tidurnya dan terduduk di tepian kasur untuk sesaat. Setelah beberapa kali mengerjap, barulah Iqbaal berdiri, menghampiri (Namakamu) yang kini membalikan badan dan menatapnya berhadap-hadapan.

Ah, cantiknya wajah ini. Iqbaal tidak tahu lagi harus berkata apa untuk mengungkapkan kekagumannya akan pemandangan indah ini, tepat di bangun tidurnya.

"Mau kemana kamu, hmm?" Aroma parfum dari tubuh (Namakamu) menguar kuat di rongga hidung Iqbaal ketika berusaha memberikan sebuah kecupan di pipinya. Dengan satu tangan merengkuh pinggangnya, satu tangan Iqbaal yang lain mengusap sisi wajah (Namakamu) lalu menggesekan hidungnya pada hidung (Namakamu) dengan gemas. "Bangun jam berapa tadi? Udah wangi aja jam segini," Ujar Iqbaal dengan kekehan.

"Baal,"

"Hmm?"

"Aku mau pulang," Ucap (Namakamu) menatap lurus pada mata Iqbaal yang sudah sepenuhnya terbuka.

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang