“Ketika sesuatu jadi hal favorit, apa yang menjadi resiko di dalamnya nggak akan kerasa sama sekali.” -Iqbaal Dhiafakhri-
oOo
Sekitar pukul empat sore, Iqbaal dan (Namakamu) pulang ke rumah. Setelah menunggu di kantor Iqbaal selama kurang lebih 3 jam, akhirnya raut wajah sumringah Bi Sumi menyambut kedatangannya di rumah. Wanita yang sudah lewat dari setengah baya itu langsung membuka pintu ketika (Namakamu) menekan bel rumah.
“Ada yang dibutuhin nggak non?”
“Nggak ada, Bi. Bibi istirahat aja. Nanti biar saya aja yang siapin keperluan Iqbaal.”
“Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu non.”
Bi Sumi melenggang pergi ke bagian belakang rumah setelah (Namakamu) menyampaikan penolakan secara halus. Perempuan dengan wajah kebarat-baratannya yang khas, berjalan menaiki tangga untuk menyusul sang suami yang sudah lebih dulu ke kamar.
Pintu terbuka. Siluet tubuh Iqbaal yang sedang membuka jas adalah hal pertama yang dia lihat. Dengan senyuman yang menghiasi wajah, (Namakamu) bergerak mendekati Iqbaal lalu mengambil jas suaminya itu dari belakang.
“Mau mandi nggak?”
“Ya mau lah.”
(Namakamu) terkekeh kemudian berjalan ke depan, berdiri di depan suaminya. “Mau air panas apa air dingin?” Tanyanya dengan wajah jahil.
“Medium.” Iqbaal menjawab dengan senyuman.
“Aku yang siapin atau kamu sendiri?”
“Kalo kita yang siapin, gimana?” Iqbaal menaikan sebelah alisnya lalu menarik pinggang (Namakamu).
(Namakamu) yang tidak mau kalah, mengalungkan lengannya pada leher Iqbaal lalu tersenyum. “Nggak ada kita before you take a shower!”
“Everytime is ‘we’. Neither me nor you, but us.”
“Katanya mau mandi, kenapa ngajak ngobrol terus?” (Namakamu) berusaha melepaskan tangan Iqbaal dari pinggangnya. Tapi yang ada, laki-laki itu justru memajukan wajahnya dan berhasil mencuri satu kecupan di bibirnya.
Iqbaal yang nakal!
“Liat wajah kamu nggak bisa bikin aku berhenti untuk ngobrol.” Katanya lalu ujung matanya menyipit karena tertawa.
Tanpa sadar, (Namakamu) pun ikut tertawa lalu memeluk leher Iqbaal erat. Hanya sebentar. “Udah ah, cepetan mandi. Kalo kesorean nggak bagus buat badan.”
Menghindari pergerakan lain dari Iqbaal yang mungkin akan mengulur waktu semakin panjang, (Namakamu) memilih pergi menjauhi Iqbaal berjalan menuju walk in closet untuk menyimpan jas milik suaminya itu.
“Nggak mau tau, keluar aku dari sini, kamu harus udah masuk ke kamar mandi!” Katanya tanpa mau di bantah.
“Kalo enggak?”
“Aku bakal bunuh kamu!”
Ancaman yang bagus, (Namakamu)!
*
Merupakan hal yang luar biasa ajaibnya saat (Namakamu) keluar dari kamar mandi, lalu menemukan Iqbaal yang sudah berbaring di kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai perut. Biasanya, suaminya itu tidak akan terlihat di kamar karena harus menyelesaikan tugas kantor di ruang kerjanya—yang berada di luar kamar mereka. Tapi untuk malam ini, Iqbaal hanya sedang bermain handphone dan melirik ke arahnya ketika (Namakamu) hendak menyimpan handuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfic"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
