PART 7 - THE PARTY

12.6K 1.2K 103
                                        

Ciee yang seneng dapet notif MPH apdet new part :p

oOo

Mungkin malam ini akan sedikit lebih berbeda dibandingkan malam-malam sebelumnya. Ya, karena malam ini (Namakamu) dan Iqbaal akan menghadiri undangan acara pertemuan para pengusaha se-Ibu Kota Jakarta. Sebenarnya (Namakamu) kurang paham akan seperti apa acara tersebut. Tapi setelah mendengar dari penjelasan Iqbaal, (Namakamu) yakin acaranya sedikit membosankan bagi mereka yang tidak mengerti tentang bisnis.

Apa boleh buat. (Namakamu) kesana sebagai istri pengusaha. Bukannya mau sombong karena sudah berhasil menakhlukan salah seorang pengusaha muda yang sukses. Bukan. Dia kesana untuk menemani Iqbaal. Mungkin saja yang niat sombong itu adalah Iqbaal karena ingin memberitahu ke semua orang kalau dia sudah beristri. Atau mau pamer karena di usia yang masih terbilang muda sudah menikah. Karena kebanyakan, para pengusaha seperti Iqbaal itu akan menikah jika usia mereka sudah mencapai kepala tiga. Dan lagi, karena bagi mereka, untuk apa memiliki keluarga jika sudah memiliki kekayaan yang melimpah?

So stupid. Tapi (Namakamu) bersyukur karena Iqbaal bukanlah pria yang seperti itu.

"Udah beres, By?" Iqbaal keluar dari walk in closet bersama setelan jas di tubuhnya. "Could you help me wear this tie? Miring terus kayanya." Sambil menarik-narik dasi kupu-kupu di lehernya.

Saat itu (Namakamu) sedang memasang anting-anting di telinganya. Hanya tinggal memasang di telinga kirinya sebelum suara Iqbaal menginterupsi dan memintanya untuk membenarnya dasi kupu-kupunya. "Bentar ya. Bentar. Aku pake anting dulu." Ucapnya di depan cermin.

Iqbaal tidak membalas. Dia berjalan ke arah cermin mendekati (Namakamu). Sampai berdiri tepat di belakang istrinya, saat itulah (Namakamu) berbalik karena sudah selesai memasang kedua anting-antingnya. "Mana sini? Awas tangannya, biar aku benerin." Mengambil alih tugas tangan Iqbaal yang tidak juga usai membenarkan dasi kupu-kupu tersebut.

Karena tinggi (Namakamu) yang hanya setinggi dagu Iqbaal, dia tidak perlu menunduk lagi untuk membenarkan dasi kupu-kupu dibagian kerah. Ditariknya ke belakang tali dasi tersebut lalu menyelipkannya ke dalam kerah. (Namakamu) tersenyum lantas merapikan kemeja Iqbaal dengan telapak tangannya. "Nah, selesai. Gantengnyaa.."

Pria itu tertawa melihat (Namakamu) yang berdecak kagum. "Ganteng ya? Rela di bagi-bagi nggak?"

(Namakamu) mengerutkan bibirnya. "Sebenernya sih enggak. Istri mana sih yang rela kegantengan suaminya dibagi-bagi?" Mengusapkan tangannya lagi disekitar dada Iqbaal. (Namakamu) tertawa.

"Yaudah, nggak jadi aja perginya gimana?"

"Apasih ah ngaco aja." (Namakamu) memukul bahu Iqbaal. "Udah dandan capek-capek juga. Ayo ah, kita berangkat. Nanti telat lagi."

Glamour fragnance dari tubuh (Namakamu) begitu menguar di rongga hidungnya. Iqbaal memutar tubuhnya seiring langkah kaki (Namakamu) yang berpindah ke sisi kamar lain. "Salsha udah kamu kabarin 'kan? Aku nggak mau tanggung jawab ya, By, kalo nantinya dia ketinggalan acara malem ini."

"Udah kok. Tadi pas aku telfon dia lagi dandan." (Namakamu) membuka sebuah kotak di dekat pintu dan mengeluarkan sepasang stiletto hitam di dalamnya. Sangat selaras dengan gaun yang dia pakai malam ini. "Baal, kamu dapet bisikan darimana sih beliin aku stiletto setinggi ini?" (Namakamu) mengangkat sepatu tersebut dan memperlihatkannya pada Iqbaal. "Ini tinggi banget, astagaa. Tuh liat! Sampe lancip gini haknya."

Melihat (Namakamu) yang merutuk kesal, Iqbaal pun berjalan menghampiri sambil mengambil alih sepatu tersebut dari tangan sang istri. "Really? Berarti aku ditipu mbak-mbaknya dong. She said this is the best one. Who will ignore Dior?"

My Perfect HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang