CIEE YANG SENYUM2, YANG MAU MELEDAK DAPET NOTIP MPH POSTING NEW PART :v
HAPPY SATNIGHT KAWAN KAWAN, BAIK KAN AKU MENYELAMATKAN GENERASI JOMBLO YANG MENCEKAM DI MALEM MINGGU MACEM KALIAN?
oOo
Sebenarnya (Namakamu) ingin sekali membantu Bi Sumi menyiapkan makan malam. Tapi mengingat Iqbaal sudah melarangnya untuk tidak masuk ke dapur dan mengerjakan tugas-tugas di dapur termasuk memasak sekalipun, (Namakamu) mengurungkan niat dan memilih untuk menata meja makan saja.
Tentu saja dibantu Bi Sumi.
“Bi, ini udah selesai semua?” Tanya (Namakamu) sambil meletakan piring berisi cah sayur ke atas meja.
“Udah, Non. Udah beres semua.”
(Namakamu) mengangguk lalu mengusap telapak tangannya pelan. “Kalo gitu Bibi lanjutin sisanya ya. Aku mau panggilin Iqbaal dulu.”
“Iya, Non. Siap.”
Meninggalkan meja makan, (Namakamu) berjalan menuju ruang tamu untuk menaiki tangga dimana kamarnya dan Iqbaal berada. Seharusnya pria itu menyusulnya turun ke bawah setelah mereka usai mandi...uhm bersama. Mengingatnya membuat pipi (Namakamu) merona. Sial!
Aroma aftershave begitu menggoda indera penciumannya ketika dia baru saja membuka pintu kamar. Harum khas pria itu menguar memenuhi kamar mereka. Tapi (Namakamu) tidak menemukan Iqbaal disana. Kasur mereka kosong. Hanya ada pakaian kantor Iqbaal yang kotor, tas kerja, dan beberapa kertas-kertas berhamburan di bedcover yang menutupi kasur mereka.
(Namakamu) memutuskan untuk masuk ke dalam dan memastikan sendiri kalau Iqbaal memang tidak ada disini.
“Iqbaal? Kamu dimana? Makan malem udah siap nih.” Panggilnya lalu berjalan ke arah kasur mereka dengan pandangan berpendar.
“Iya, Pak. Nanti saya kabari lagi kalau memang sudah disetujui. Untuk sementara, tolong diskusikan dulu dengan dewan direksi termasuk Ayah saya..”
Samar-samar dia mendengar suara Iqbaal dari arah balkon entah sedang berbicara dengan siapa. Dari cara bicaranya, mungkin pria itu sedang bertelepon dengan orang kamtor. Entahlah, mungkin urusan kerjaan.
Jadi (Namakamu) hanya diam menunggu sampai akhirnya Iqbaal membalikan badan dengan tangan yang masih memegangi handphone supaya menempel pada telinga kanan.
“Baik, Pak. Terimakasih bantuannya. Nanti saya kabari lagi.” Iqbaal mengakhiri panggilan tapi tidak juga mengabaikan kehadiran (Namakamu) yang langsung dia hadiahi sebuah senyuman.
“Orang kantor?” Tanya (Namakamu) setelah Iqbaal mengakhiri panggilan.
“Iya. Biasa masalah kerjaan.” Iqbaal membenarkan. Memasukan handphonenya ke dalam saku celana kemudian menghampiri (Namakamu) dengan tatapan hangat. “Kamu nggak usah ngerti. Bikin pusing. Biar kamu nikmatin hasil jerih payah aku aja tanpa harus mengerti gimana pusingnya aku mikirin masalah kantor. You deserve that.”
“I know.” (Namakamu) tersenyum. “Tapi kalo kamu udah nggak kuat, tinggal lambaikan tangan aja ya. Aku siap turun tangan buat bantuin kamu di kantor.”
“No, I won’t. Just give me your attention, itu udah lebih dari cukup.” Iqbaal menarik belakang kepala (Namakamu) lalu mencium keningnya.
“Kenapa jadi gombal sih?” Gadis itu mengernyitkan alisnya.
Iqbaal tertawa. “Salahnya bikin orang sayang.”
“Yeh, apaan sih.” (Namakamu) tersipu lantas memukul pelan bahu Iqbaal. “Ayo ah makan. Keburu makanannya dingin.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
