Gaada scene sama iqbaal!
***
“Sha, menurut lo mungkin nggak Iqbaal ada affair di belakang gue?”
“Uhuk!” Seketika Salsha memuntahkan lagi minuman yang barusan nyaris berhasil melewati kerongkongannya. “Sialan! Pertanyaan lo yang bermutu dikit kek? Ngapain lo nanya kaya gitu ke gue? Lo nggak percaya apa hah sama suami lo sendiri? Gila lo!” Balas Salsha emosi lalu mengambil tisu untuk membersihkan area bibir juga meja yang sedikit terkena tumpahan.
“Bukan gitu, Sha.” (Namakamu) yang duduk di sebelah Salsha, memutar badannya hingga menyamping supaya bisa berhadapan dengan perempuan yang masih kelihatan emosi itu. “Lo inget nggak cewek yang dateng di pesta waktu itu?”
“Yang mana?” Balasnya sinis, masih sibuk membersihkan bibirnya. Kali ini mengambil tisu yang baru. “Tuhkan lipstik gue jadi ilang! Bener-bener dah ini temen gue satu!” Lalu mengambil sebuah kaca kecil dari tasnya juga sebuah lisptik berwarna nude untuk memoles bibirnya supaya tidak terlihat pucat.
(Namakamu) berdecak pelan. “Steffy. Cewek masih ngejar-ngejar laki gue. Inget nggak?”
Sambil menggerakan lipstik di atas bibir, Salsha membalas. “Oh, siluman oray kobra itu ya?” Lantas merapatkan bibir atas dan bibir bawah supaya warna lipstik tercampur rata. Sekali lagi Salsha memoles bibirnya, sebelum akhirnya menyimpan lagi beauty stuffnya itu ke dalam tas dan menoleh ke arah (Namakamu) tanpa emosi yang meledak-ledak.
“Kenapa? Dia gangguin lo lagi? Gangguin laki lo lagi?” Sambung Salsha.
Dengan wajah sedihnya, (Namakamu) mencebikan bibir bawahnya lalu menggut-manggut. “Gue takut Iqbaal kepincut terus gue yang ditinggalin, Sha. Kan sekarang pelakor lagi berjaya.”
“Lo udah ngomong sama Iqbaal? Soal Steffy yang gangguin lo lagi?” Tanya Salsha seperti seorang detektif. “Eh bentar, digangguinnya kaya gimana dulu sih?”
“Dia punya nomer gue, Sha. Terus kemarin dia telfon gue, di saat yang sama, sore itu Iqbaal emang lagi ke kantor. Biasa ngurusin kerjaan. Dia janji pulang nggak lebih dari sejam. Habis gitu si uler telfon. Katanya kalo Iqbaal lagi bareng sama dia. And also she said, Iqbaal nggak akan pulang cepet karena mereka mau jalan berdua. Gila nggak?” (Namakamu) tanpa sadar memukul pelan meja di sebelahnya. “Hampir aja gue berantem sama Iqbaal gara-gara telfon nggak jelas dari uler gatel. Parah. Gue nggak bisa diginiin, Sha!”
“Ya lo ngomong dong sama Iqbaal kalo Steffy gangguin lo lagi!” Ujar Salsha usai mendengar cerita (Namakamu). “Gimana ya, kan ini masalah lo berdua, masalah rumah tangga kalian. Gue sebagai pihak arbitrase, cuma bisa sekedar dengerin cerita lo dan mungkin juga ngasih saran, beberapa. Tapi tetep, yang mutusin lo berdua. Prinsipnya kaya pacaran aja, (Nam..). Masa udah nikah, udah sah, udah bisa nananina masih malu aja nyerita sama laki? Malu dong sama anak SD yang kalo berantem aja diumbar ke sosmed.”
Untuk sesaat, (Namakamu) terdiam dan menelaah semua ucapan Salsha baik-baik.
“Tapi, Sha,” (Namakamu) kembali bersuara. “Kalo gue ngomong sama Iqbaal, takutnya si uler makin menjadi. Gue berpikir, semakin banyak orang yang tau, justru semakin bikin masalah jadi ruwet. Sebelum gue tau yang sebenernya, gue nggak bakal nyerita sama Iqbaal. Ya gimana sih, mana ada maling yang mau ngaku? Penjara penuh kali!”
“Eh ege! Yang lo katain maling ini suami lo, gila!” Salsha geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya ini. “Slek sama pelakor boleh, (Nam..). Tapi jangan sampe lo ikutan slek juga sama Iqbaal. Justru itu yang Steffy mau dari semua kelakuan dia selama ini. Emang lo mau, Iqbaal bener-bener diambil pelakor?”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
