Nah gitu dong komennya, pada ngegas. Kan gue jadi semangat ngetiknya
Komen lagi yang banyakkk gamau tau!!!
***
Seharian ini Iqbaal hanya berbaring saja di atas kasur. Dengan posisi tengkurap, posisi favoritnya ketika tidur. Katanya dia lelah bekerja. Terlebih lagi memang sebulan belakangan Iqbaal lebih sering bekerja outdoor ketimbang indoor. Dan tentu saja bekerja di lapangan sungguh melelahkan dua kali lipat ketimbang bekerja di balik meja kerja seharian. (Namakamu) sudah pasti memahami itu. Jadi yang seharian ini dia lakukan adalah menanggapi semua keinginan Iqbaal karena laki-laki itu berubah menjadi manja sekali.
“Oiya kemarin aku bikin brownies. Iseng doang sih. Menurutku sih enak. Nggak tau kalo menurut kamu. Mau nyobain nggak?” (Namakamu) masuk ke kamar sambil membawa sekotak brownies yang dia buat kemarin sore. Barangkali Iqbaal ingin mencicipinya. Selain itu (Namakamu) juga ingin tahu komentar Iqbaal tentang brownies buatannya ini.
Iqbaal membuka mata bersamaan dengan (Namakamu) yang duduk di tepi kasur. Meski posisi wajahnya menyamping dengan badan menelungkup, Iqbaal dapat melihat kehadiran (Namakamu) yang sedang mencicipi brownies buatannya begitu nikmat, lalu mengulurkan potongan brownies di tangannya itu bermaksud menawarkan. Sepertinya enak.
“Aaa..” Iqbaal membuka mulutnya setelah menumpu wajahnya dengan kedua tangan yang menekuk di atas bantal hingga posisi kepalanya sedikit lebih tinggi dan tidak terlalu menempel dengan bantal.
“Bangun ah! Masa sambil tidur?” Protes (Namakamu) dan menghabiskan sisa brownies yang dipegangnya.
Mau tidak mau, Iqbaal pun menurut dan bangun dari posisi tidurnya. “Suapin.” Sambil membuka mulut.
(Namakamu) tersenyum geli. Lantas mengambil potongan lainnya di dalam kotak makan dan mengarahkannya pada mulut Iqbaal yang siap untuk mencicipi brownies buatannya.
“Gimana? Enak?”
Perlahan Iqbaal mengunyah dengan gerakan pelan tapi pasti. Mencoba merasakan manisnya brownies di dalam mulutnya. “Hmm...enak.” Iqbaal manggut-manggut.
(Namakamu) justru mengangkat sebelah alisnya. “Cuma enak?”
“Sangat enak.” Iqbaal menambahkan setelah mengakhiri kunyahannya. “Lagi dong. Aaa...” Dan kembali membuka mulutnya.
“Kamu laper ya?” (Namakamu) terkekeh geli dan menyuapi Iqbaal brownies lagi.
Iqbaal hanya menggeleng. Karena sekarang mulutnya penuh dengan makanan.
Sambil menunggu (Namakamu) pun memakan lagi browniesnya. Tanpa memutus pandangannya dari Iqbaal yang wajahnya masih terlihat begitu lelah. Meski tidak seburuk kemarin.
“Brownies kamu ini kaya narkoba. Nggak bisa makan sekali. Harus berkali-kali.” Kata Iqbaal usai menelan kunyahannya.
“Gitu ya?” (Namakamu) tertawa. “Lagi nggak?”
Iqbaal mengangguk. “Let me take it.”
“Okay.” (Namakamu) mengulurkan kotak brownies di tangannya pada Iqbaal.
Laki-laki itupun menyeringai. Mengambil alih kotak tersebut lalu menyimpannya di nakas samping ranjang. Sejurus kemudian menarik tangan (Namakamu), membaringkannya di kasur dan meraih bibir yang menggemaskan itu tanpa sempat memberi kesempatan istrinya untuk protes. Iqbaal ingin cara yang berbeda. Cara yang menurutnya paling romantis meski terlalu intim.
Sementara (Namakamu) yang berada di bawah kungkungan Iqbaal masih terkejut dan hanya bisa diam menikmati. Iqbaal benar-benar menyebalkan. Ingin sekali rasanya (Namakamu) protes dan menghentikan aksinya. Tapi untuk kali ini (Namakamu) ingin berkhianat dengan logikanya. (Namakamu) terlalu menyukai ini. Sangat merindukan momen ini. Hingga yang (Namakamu) lakukan sebagai gantinya adalah mengusap belakang kepala Iqbaal dan menyelipkan jemarinya pada helai rambut Iqbaal yang menggelitik sela jarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfic"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
