PART 35 - IN MY ARMS

8.1K 829 149
                                        

I'd like to say thank you so much for all the supports and all the words you've said to me over all these time! I love you, guys!
This wasn't the last one. Bakal ada cerita lain lagi yang gue bikin di akun ini. Honestly, gue cuma penulis biasa yang masih suka salah nulis paragraf, banyak typonya, termasuk bikin outline cerita yg somehow non sense. Nulis juga gara2 terlalu stress sama kehidupan nyata yg belum bikin w bahagia2 amat. But then I found you and I really grateful for it

Once more, happy reading!

****

Karena terlalu kelelahan, Iqbaal akhirnya jatuh sakit. Pola makan yang tidak beraturan menjadi penyebab timbulnya masalah. Iqbaal sadar akan hal itu. Kehilangan (Namakamu) membuatnya kehilangan juga semangat hidupnya.

"Ini baru beres," Iqbaal berbicara dengan Rike di telepon usai melakukan pengecekan rutin di rumah sakit. Sekalipun sudah sembuh, Rike selalu mengingatkannya untuk medical check up kalau-kalau masalah pencernaannya datang lagi. "Aman, Bunda. Ale udah sembuh sekarang. Bunda nggak usah khawatir."

Rumah sakit yang Iqbaal datangi tampak penuh siang ini. Iqbaal tidak paham, apakah ini sedang musim sakit atau memang ada banyak orang yang mengalami masalah kesehatan sepertinya? Bahkan tidak ada satupun lorong rumah sakit yang kelihatan sepi.

"Oke. See you, Bunda," Tutup Iqbaal mengakhiri telepon.

Sampai di loby, Iqbaal masih harus berdesakan dengan orang-orang yang hendak berobat. Sambil berkali-kali mengucapkan permisi, laki-laki itu berhasil keluar dan merogoh saku celananya mencari kunci mobil. Suasana parkiran depan rumah sakit tidak lengang seperti biasanya. Banyak mobil keluar masuk, entah itu keluarga pasien, atau mereka yang hanya datang untuk kontrol. Iqbaal bahkan harus menunggu beberapa saat sampai akhirnya mobil-mobil yang melintas di depannya mendapatkan tempat parkir.

Iqbaal mendengus. Bagaimana rumah sakit sebagus ini tidak memiliki tempat parkir yang memadai? Juru parkir  sampai kewalahan mengatur mobil yang silih berdatangan tanpa jeda. Matanya bergerak memperhatikan. Sedan hitam metalik melaju dari arah gerbang masuk. Parkiran yang penuh, membuat supir di dalam mobil kebingungan harus mengendalikan kemudi. Maju penuh, mundur percuma. Pemandangan yang sukses membuat Iqbaal emosi.

"Ck, noob," Makinya.

Dengan terpaksa Iqbaal menyebrang ke sisi parkiran sementara sedan hitam sialan itu masih diam tidak bergerak. Seharusnya sejak tadi Iqbaal melakukan ini. Bukan hanya diam melihat kelakuan menyebalkan pengemudi sedan itu yang tidak kunjung pergi dari tempatnya.

Arus padat lalu lintas di hadapannya menjadi pemandangan yang tidak bisa dilewati oleh matanya. Iqbaal lagi-lagi memendarkan pandangan. Jika sedan hitam sialan itu masih disini, maka artinya akan sulit bagi mobil Iqbaal untuk keluar area rumah sakit. Mobil kecil itu justru memblokade jalan keluar masuk kendaraan. Jadi sepertinya, Iqbaal akan terjebak sedikit lebih lama dari biasanya.

Sebagai antisipasi, Iqbaal pun segerak menelepon Ardio. "Halo? Yo, gue dateng agak telat ya ke kantor. Kalo ada yang nyari, bilang aja gue ada rapat di luar. Thanks."

Berakhirnya panggilan adalah saat dimana Iqbaal menyadari bahwa rumah sakit ini berhadapan dengan tempat makan favoritnya. Letaknya berada persis di seberang jalan. Karena sudah masuk jam makan siang, tidak ada salahnya Iqbaal mampir sebentar sambil menunggu sedan sialan ini berhenti memblokade jalan.

Keluar dari area rumah sakit, Iqbaal yang hendak menyebrang jalan tidak sengaja melihat siluet tubuh seseorang tepat di depan pintu masuk restoran. Karena banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, sedikit membuat Iqbaal ragu dan berpikir hanya salah lihat. Tidak mungkin tiba-tiba ada disini. Pasti Iqbaal sudah gila!

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang