“Best friend never keep its image before you.”
oOo
WARNING!
THIS PART MAYBE LITTLE DANGEROUS TO BE READ! KARENA BISA MENYEBABKAN PEMBACA TERSENYUM2 SENDIRI PADAHAL TIDAK ADA YG LUCU, MENINGKATKAN DAYA KHAYAL DAN KEMUPENGAN HINGGA LEVEL TERATAS, SERTA BISA MEMBUAT ANDA KECANDUAN DENGAN CERITA INI!
Yang gak kuat, bisa lambaikan tangan ke doi yg mudah2an mau bantu. Sekian.
oOo
Jakarta siang itu sedikit lebih panas ketimbang hari-hari biasa. Kendaraan yang memadati jalan-jalan besar kelihatannya sama sekali tidak pernah berkurang dan justru semakin bertambah banyak setiap waktunya. Hal itu menimbulkan polusi besar-besaran dimana-mana. Tentunya, akibat dari Jakarta semakin panas adalah polusi yang ditimbulkan dari kendaraan itu sendiri. Meski berbagai cara sudah dilakukan untuk mengurangi polusi, itu saja hanya sia-sia jika penduduknya masih kurang kesadaran akan pentingnya mengurangi polusi.
(Namakamu) duduk dengan nyaman di kursi paling pojok di sebuah cafe. Letaknya berada di pinggiran kota Jakarta. Pemandangan disini jauh lebih baik ketimbang memilih cafe yang berada di tengah kota. Terlalu ramai. (Namakamu) tidak tahan dengan keramaian.
“Itu jari lo kenapa? Kok di tutupin kapas gitu?”
Jika ada yang berpikir (Namakamu) sendirian kemari, jawabannya adalah salah. (Namakamu) diam disini bersama sahabat dekatnya, Salsha. Cewek yang tadi bertanya penuh kebingungan saat melihat jari telunjuk (Namakamu) yang ditutupi kapas dengan plaster yang melingkar juga disana untuk merekatkan kapas supaya tidak lepas. Tatapannya terlalu penuh dengan rasa khawatir hingga dari cara Salsha bertanya pun kedengaran sedikit lebih sinis.
“Oh ini. Kemarin gue iseng bantuin Bi Sumi motongin daging di dapur. Eh jari gue malah ikut kepotong.” (Namakamu) tertawa kecil sambil memerhatikan jarinya yang terluka. Ini sudah jauh lebih baik daripada kemarin. Meski terkadang masih terasa berdenyut perih disana.
Tadi pagi, (Namakamu) jadi teringat bagaimana Iqbaal dengan manisnya menyempatkan diri untuk mengobati luka (Namakamu) itu sebelum pergi ke kantor. Dia pikir, ketika Iqbaal menyuruhnya duduk di tepi kasur bersebelahan dengan laki-laki itu, (Namakamu) hanya akan di ajak ngobrol yang mungkin juga sambil menanyakan bagaimana lukanya. Tapi ternyata, Iqbaal mengobati luka itu lagi setelah (Namakamu) lebih dulu membersihkannya di kamar mandi. Perlakuan Iqbaal sungguh membuat (Namakamu) merasa istimewa. Harusnya Iqbaal langsung berangkat kerja, bukan malah mengobati luka (Namakamu). Tapi ya begitulah Iqbaal. Selalu ada cara untuk membuat (Namakamu) tersanjung.
“Ck, ceroboh lo, (Nam..). Suami lo pasti ngomel-ngomel dong ya tau jari lo keiris gitu?” Tanya Salsha dengan sedikit geli.
“Hahaha, iya. Malah mau ikut ngamukin Bi Sumi pas tau jari gue ke iris. Padahal cuma hal sepele, tapi sampe segitu marahnya.”
Salsha sendiri memang sudah tahu kalau sahabatnya itu sudah menikah. Pun dengan siapa (Namakamu) menikah, tentu Salsha tahu karena sahabatnya itu sendiri yang memberitahu. Meski tidak hadir ke pernikahannya, tapi Salsha berharap kehidupan rumah tangga sahabatnya itu berjalan dengan baik. Tentunya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
Sambil mengangkat secangkir latte di tangannya untuk di minum, (Namakamu) menatap jendela kaca besar di sebelahnya melihat suasana di luar cafe. Meski tidak seberapa, (Namakamu) cukup tertarik dengan suasana di luar sana dan sempat tenggelam untuk beberapa saat.
Sampai akhirnya suara Salsha menginterupsi dan membuat (Namakamu) menarik fokusnya lagi. “Hape lo geter tuh, (Nam..). Keknya suami lo yang telfon.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
