In case kalian bingung kenapa keluarganya enka diem diem bae, here is it!
***
Jendela kaca besar yang terletak di ruang tengah selalu menjadi spot favorit untuk memandang keindahan yang terhampar di luar sana. Ombak bergulung dari tengah laut menuju sisi pantai terlihat jelas dari tempatnya berdiri sekarang. Satu persatu para peselancar menerjang gulungan ombak untuk kemudian beradu aksi, saling memperlihatkan siapa yang memiliki teknik berselancar paling baik. Tidak jarang, satu di antara mereka harus gagal sebelum mencapai ke tepian. Dan semua itu terekam jelas oleh kedua bola matanya.
"Sayang, kamu beli kelapa lagi? Mama bilang apa soal jaga kesehatan? Mengkonsumsi buah kelapa memang bagus, nak. Tapi kalau kebanyakan, tetep aja nggak baik buat tubuh kamu." Suara dari arah belakang membuatnya harus mengalihkan pandangan dari jendela besar di depan mata. Dengan tergesa, langkahnya bergerak menuju sisi ruangan dimana seseorang baru saja meletakan dua buah kelapa yang dipesannya.
"Makasih, Pak,"
"Mama masih bicara loh sama kamu!" Hardik perempuan yang sudah berumur itu begitu merasa dirinya tidak diperhatikan.
"Iya, Ma. Aku tau. Tapi aku pengen," Jawabnya meraih satu buah kelapa yang sudah dikupas dan menikmati airnya melalui sedotan yang sengaja diletakan disana untuk mempermudahnya. "Mama mau? Aku beli dua bukan buat sendirian kok. Kali aja Mama atau Papa mau," Lanjutnya sembari menarik satu kursi untuk diduduki.
Anneke, yang sudah berhasil memasang anting-anting di telinganya, memandang putri semata wayangnya dengan wajah-mau tidak mau-memaklumi. "Mama harus temenin Papa kamu ke acara amal. Kamu nggak lihat apa Mama udah cantik kayak gini?"
Dengan satu alis terangkat, perempuan itu tersenyum. Nyaris tertawa. "Oke, Ma. Aku habisin sendiri kalo gitu."
"Mama heran deh sama kamu. Hampir sebulan lebih kamu disini, nggak pernah tuh Mama lihat kamu absen beli kelapa setiap minggunya. Papa aja sampe nggak paham anaknya bisa ketagihan gini sama kelapa. Sekalinya beli langsung dua, nggak pernah beli satu. Mama yakin, rasanya juga nggak beda-beda amat kalo kamu beli di Jakarta," Kata Anneke terheran-heran.
"Jelas beda lah, Ma," Bantahnya. "Disini bisa sambil lihatin pantai. Pemandangannya juga bagus. Nggak kayak di Jakarta. Ancol lagi, Ancol lagi," Dijawab dengan rolling eyes yang menyebalkan.
"Kamu nggak kangen Jakarta apa?"
"Kenapa harus kangen? Mama Papa 'kan ada disini."
"Bukan itu maksud Mama, (Namakamu)," Anneke mendekati anaknya yang masih menikmati buah tropis tersebut.
Di elusnya puncak kepala anak perempuannya dengan penuh sayang. Untuk ke sekian kalinya mencoba memberi pengertian bahwa segala sesuatunya tidak bisa diselesaikan dengan melarikan diri. "Mama nggak ngelarang kamu buat tinggal disini, sayang. Justru dengan senang hati, Mama sama Papa bakal nerima kamu. Tapi bukan dengan cara yang salah. Bagaimanapun, kamu bukan lagi tanggung jawab Mama Papa. Kamu punya suami. Suami kamu yang bertanggung jawab penuh atas hidup kamu. Salah sedikit kamu bersikap, maka suami kamu yang harus menanggungnya. Memang kamu tega melihat Iqbaal menanggung semua resiko atas perbuatan kamu?"
Lidah yang kelu ketika hendak menelan air kelapa adalah efek yang ditimbulkan dari ucapan serius Anneke barusan. Diam-diam (Namakamu) mendalami semua perkataan Anneke. Lalu membiarkan otaknya menjawab apakah (Namakamu) sudah sejahat itu pada Iqbaal atau tidak.
"Mama sama Papa bahkan nggak curiga waktu kamu tiba-tiba dateng ke Bali. Kami pikir kalian baik-baik aja. Sampe akhirnya Papa kamu tau yang sebenernya," Lanjut Anneke lagi, belum mau berhenti mengelus puncak kepala sang anak. "Nak, Papa kamu sampe harus memblokir semua akses teleponnya semata-mata demi memenuhi permintaan kamu. Mama sama Papa sampe harus ganti nomer baru supaya mertua kamu nggak menghubungi kami. Sebenernya apa yang ada di pikiran kamu, nak? Kamu mau menghukum Iqbaal karena bermain di belakang kamu? Kalo itu yang kamu mau, kamu salah, sayang. Bukan begini caranya."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
