(Namakamu) tahu ketika Iqbaal menggandeng tangannya sepanjang jalan menuju kamar, ada sesuatu yang mengerikan sedang bersembunyi dalam diri sang suami. Yang mungkin akan meledak setibanya mereka di kamar, setelah suara pintu tertutup terdengar. Mendadak suasana terasa mencekam. (Namakamu) benar-benar tidak sanggup kalau harus melihat Iqbaal meledak-ledak.
“Duduk.”
Biasa mendengar suaranya yang hangat menyapa telinga, kali ini (Namakamu) harus menangkap nada dingin dalam ucapan sang suami. (Namakamu) mencebik sedih. Namun juga menyadari semua yang terjadi adalah akibat dari tindakan gegabahnya. Andai dia tidak terlalu berambisi untuk menyingkirkan Steffy, mungkin semua ini tidak perlu (Namakamu) alami. Iqbaal pasti sudah kecewa. Tidak ada cara lain untuk mengakhiri ini semua kecuali maaf.
“Baal, aku-”
“Duduk, (Namakamu)!”
Sekali lagi Iqbaal mengulangi perintahnya dengan tegas. (Namakamu) menghela napas. Tidak ada celah untuk menolak apalagi membantah. Maka yang perempuan itu lakukan adalah menuruti perintah dengan berjalan ke arah kasur lalu duduk di bagian tepian. Wajahnya terangkat ke atas. Menyaksikan secara langsung bagaimana frustrasinya seorang Iqbaal Dhiafakhri yang saat ini sedang mondar-mandir seraya meraup wajah kasar. Tak sanggup melihat lebih lama, (Namakamu) pun menunduk. Mengakui kesalahannya sendiri dalam diam sambil memainkan jari di pangkuan.
“Jadi bener apa yang diomongin Steffy?” Iqbaal menatap lurus (Namakamu) dengan tajam. “Kamu taruhan sama dia? Iya?”
Sontak, (Namakamu) kembali mendongakan wajah. “Nggak gitu, Baal. Terlalu kasar buat disebut taruhan.” Cicitnya.
“Terus?”
“I called it as a game.”
“Dirty game huh?” Balas Iqbaal sengit. (Namakamu) semakin menunduk takut. “What are you trying to do with her, Lady? Berapa kali aku bilang, jangan berurusan sama Steffy, (Namakamu). Jauhin dia! Kalo kamu merasa terusik sama kehadiran dia, bilang sama aku! Apa gunanya aku sebagai suami kamu kalo kamu sendiri nggak percayain aku untuk melindungi kamu?”
(Namakamu) terdiam. Membiarkan rasa bersalah menyelimuti jiwanya untuk sesaat. “Maaf.”
“I don’t need your fucking sorry!“ Bentak Iqbaal marah. ”I ask you. Am I still your husband, Mrs. Viestella?”
(Namakamu) diam. Bahunya mulai bergetar.
“AM I STILL YOU HUSBAND?”
“Y-you a-are..”
“Repeat!”
“Y-yes you are.”
“Kalo kamu masih anggep aku suami kamu, kenapa kamu tutupin kelakuan Steffy dari aku, (Namakamu)? Mau ngelindungin aku? You totally wrong, Mrs. Viestella. You disappointed me for really.”
“Bilang sama aku, dia ngapain kamu aja sampe mau-maunya kamu ngelakuin hal yang enggak jelas kaya gini? Bilang sama aku, (Namakamu)!” Iqbaal semakin tak terkontrol. Dengan kedua tangan berkacak pinggang, laki-laki itu menatap sang istri penuh amarah. Egonya terluka. Iqbaal merasa kesal, marah, juga kecewa. Merasa kalau kehadirannya selama ini justru tak dianggap dan statusnya sebagai suami pun seolah tak berguna.
Untuk apa?
“Kenapa kamu diem?” Iqbaal berjongkok. Mencengkeram lutut (Namakamu) kuat-kuat sambil terus melempar sorot tajam. “Bilang sama aku, Steffy apain kamu? Dia jahatin kamu lagi? Nerror kamu lagi? Jawab, (Namakamu)! I don’t need to hear your silences!”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fiksi Penggemar"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
