"We‘re facing all this mad together. Then we could live happily forever."
oOo
Malam ini mendadak jadi kacau.
Bukan, bukan acaranya. Tapi hal yang terjadi pada (Namakamu) dan Iqbaal setelah mereka meninggalkan acara tersebut. (Namakamu) tidak tahu pasti apa maksud semua ini. Mendadak, satu persatu masa lalu Iqbaal yang tidak dia ketahui, muncul tanpa di duga-duga. Sama sekali (Namakamu) tidak menyalahkan Iqbaal atas apa yang telah terjadi.
Justru (Namakamu) memperingati dirinya sendiri. Bahwa dia harus membuka mata dan tidak boleh lengah.
Steffy, perempuan itu tidak bisa disepelekan begitu saja. Setelah terjadi adu mulut yang cukup panjang dengan Iqbaal, perempuan bergaun hitam itu akhirnya menyerah di tengah emosinya yang tidak bisa dikontrolnya sama sekali. Bahkan, (Namakamu) sempat mendengar bahwa ini (saat kejadian itu terjadi) bukanlah yang terakhir kalinya. Steffy adalah sosok yang ambisius. Sosok yang sikapnya tidak mudah ditebak. (Namakamu) bisa melihatnya dari cara perempuan itu berbicara. Cara perempuan itu merespon semua ucapan Iqbaal yang kebanyakan penuh dengan emosi.
Well, apapun itu, (Namakamu) bersyukur bisa sampai ke rumah dengan selamat. Iqbaal sendiri terlihat biasa saja. Tidak marah atau mendiamkannya selama di mobil. Justru (Namakamu) yang tidak berani membuka mulut ketika perjalanan pulang. Ada banyak hal yang dia khawatirkan. Salah satunya, takut jika tiba-tiba bibir ini melontarkan pertanyaan mengenai masa lalu Iqbaal. You should know that, guys. Bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu semua. Setidaknya, bukan malam ini. Sampai Iqbaal benar-benar baik-baik saja.
Mungkin sudah hampir dua puluh menit (Namakamu) membaca Majalah ditangannya sambil memikirkan bagaimana cara untuk menghindarkan Iqbaal dari Steffy. Lagi, bukan maksudnya menuduh Iqbaal kalau suatu saat nanti suaminya itu akan bertemu dengan Steffy. Hanya saja, Steffy pasti akan mencari cara bagaimana bisa untuk bertemu Iqbaal tanpa sepengetahuan (Namakamu) sebagai istrinya. Well, this could be seems so hard. (Namakamu) tidak mau bertindak gegabah. Akan kedengaran sangat lucu kalau tiba-tiba saja dia menjadi perempuan posesif hanya untuk melindungi Iqbaal dari Steffy.
Tidak! Itu bukan solusi. (Namakamu) butuh solusi. Bukan menjadi pribadi lain.
“Haah..” (Namakamu) mendesah kasar. Kepalanya menunduk dengan sebelah tangan memijat keningnya pelan. Majalah yang dia baca pun ditutupnya dan diletakan kembali di meja nakas. Kenapa semuanya jadi terasa berat? Baru sebulan mereka menikah. Kenapa semuanya jadi begini?
Atau, ini hanya (Namakamu) saja yang terlalu mengkhawatirkan semuanya?
Bohong kalau (Namakamu) bisa duduk tenang dan diam-diam saja. Dia akan mati kalau hanya duduk dan diam.
“Kenapa belum tidur?” Sesuatu yang dingin menyentuh ubun-ubunnya berikut aroma menyegarkan memenuhi rongga hidungnya. (Namakamu) menengadahkan kepala ketika dilihatnya Iqbaal sedang duduk di tepi kasur, tepat di sebelahnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
“Hmm, belum.” (Namakamu) menjawab pelan. “Kamu keramas? Malem-malem gini?”
“Tadi aku pake pomade. Kalo nggak keramas, nanti lengket. Tidur juga jadi nggak nyenyak.” Katanya. (Namakamu) lantas menyandarkan punggungnya pada kasur sambil memandangi Iqbaal yang sibuk mengeringkan rambut.
“Tidur gih. Udah malem.” Kata Iqbaal lagi. Sekarang sambil melihat (Namakamu).
Perempuan itu menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Insom.”
“Sejak kapan kamu insom?” Iqbaal bertanya-tanya.
“Sejak kamu ke kamar mandi dan ninggalin aku sendirian di kasur.”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
