Mungkin, dinner kali ini akan terasa berbeda dibandingkan biasanya. Bukan di rumah, di meja makan dengan masakan (Namakamu) yang ala kadarnya. Untuk malam ini, Iqbaal ingin mengajak istri tercintanya itu makan malam di luar. Bukan makan malam yang mewah. Mengingat (Namakamu) yang begitu menyukai kesederhanaan namun sangat berkesan, Iqbaal berpikir candle light dinner bukanlah (Namakamu) sekali. Istrinya itu lebih menyukai dinner seperti kebanyakan orang. Datang ke restoran, duduk di salah satu meja, memesan makanan yang ingin mereka nikmati, lalu menikmati malam dengan obrolan ringan.
Dan sudah pasti bukan restoran yang sengaja Iqbaal booking sehingga hanya ada mereka berdua disana. Bisa saja Iqbaal melakukan itu semua dengan mudah. Tapi, (Namakamu) berbeda. Istrinya itu memiliki sense of romance yang sederhana, namun kelihatan high class karena penuh kesan yang membekas.
“Babe, I would love to say this for you tonight.” Iqbaal menghampiri (Namakamu) yang sedang mematut diri di depan cermin, tanpa lupa melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan kecupan hangat di pipi. “You look gergeous!” Bisiknya di telinga.
(Namakamu) tersenyum. Iqbaal sedikit mengeratkan pelukan sehingga tubuhnya sedikit condong ke kanan. Segera, ia menuntaskan kegiatannya memakai anting, lalu berbalik dan tersenyum lagi pada Iqbaal. “Thank you. Aku suka kemeja kamu anyway.” (Namakamu) mengusap kedua bahu Iqbaal dengan telapak tangan. Usapan itu lalu bergerak ke atas sebelum berakhir dengan melingkarkan tangannya di seputaran leher Iqbaal. Suaminya itu terlihat jauh lebih tampan dibalik kemeja putihnya itu. Apalagi dipadukan celana khaki yang terlihat pas di kakinya. “Nggak usah pake jas ya? Kesannya kaya formal banget. Ini ’kan cuma dinner.”
“Alright.” Iqbaal mencium pipi (Namakamu) lagi. Namun tidak menjauhkan wajahnya. Justru menempelkan keningnya pada kening (Namakamu) karena sejujurnya Iqbaal terlalu menyukai apa yang terlihat oleh matanya saat ini. Semuanya terlihat sempurna. Dengan tampilan sederhana, tidak penuh oleh polesan make-up, (Namakamu) selalu tahu bagaimana membuatnya jatuh cinta setiap harinya. Atau mungkin setiap detiknya.
“So?” (Namakamu) terkekeh karena mendapati Iqbaal yang begitu betah menatapnya dengan kening yang saling menempel satu sama lain. “kapan perginya? Sedih lho kalo nggak jadi.”
“Jadi,” Iqbaal menjawab pelan. “nggak mungkin nggak jadi. Kapan lagi aku bawa bidadari pergi buat dinner?”
Selalu, (Namakamu) akan merengek kesal ketika Iqbaal sudah mengucapkan kata-kata gombal seperti tadi. Sudah Iqbaal katakan. Istrinya ini memiliki sense of romance yang berbeda. Ketika wanita lain akan senang jika diberi kalimat manis, (Namakamu) justru mencubit perutnya sambil menggerutu kesal. Beda lagi jika Iqbaal mengatakannya seperti ini.
“Oke bercanda.” Iqbaal melepaskan tautan kening mereka lalu menggenggan kedua tangan (Namakamu). “But saying the truth, I have seen the angel with my eyes, tonight, so perfectly standing front of me then staring at me like I’m the last man to spend her life with.”
Meski tersenyum malu-malu, (Namakamu) tidak ragu untuk memberikan pelukan hangat untuknya, untuk kalimat yang telah Iqbaal ucapkan pada wanita di hadapannya. You see that? (Namakamu) benar-benar berbeda dengan wanita lain.
oOo
Dengan tangan saling bertaut, pasangan ini memasuki sebuah restoran berbintang yang letaknya berada di pusat kota. Iqbaal bahkan dengan senang hati, membiarkan (Namakamu) menuntunnya masuk ke dalam, juga membiarkan istrinya memilih meja terbaik untuk mereka menikmati makan malam. Iqbaal memang sengaja tidak melakukan reservasi terlebih dulu. Karena Iqbaal ingin membuat (Namakamu) senang, membiarkan hati kecil istrinya mendominasi kencan mereka malam ini setelah sekian lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
