PART 29 - AIN'T I?

6.5K 957 155
                                        

Ada banyak orang yang dapat (Namakamu) lihat di ruangan ini seiring langkahnya yang semakin jauh memasuki ruangan. Iqbaal masih enggan melepaskan genggaman. Gerak tubuh suaminya seolah berkata kalau (Namakamu) tidak akan baik-baik saja tanpa genggaman ini. Perasaan cemas dan tidak nyaman dalam keramaian, masih bisa (Namakamu) rasakan sampai hari ini, meski dengan kapasitas yang sudah tidak separah dulu.

"Kamu mau aku kenalin sama temen-temen lamaku atau pergi ke meja dan ambil makan?" Tanya Iqbaal begitu tiba di tengah-tengah kerumunan orang.

(Namakamu) bergumam. Bermain sebentar dengan tangan Iqbaal yang masih menempel dengan telapak tangannya lalu menjawab tepat di telinga Iqbaal. "Aku ikut kamu."

"Nggak papa?"

Kali ini, (Namakamu) mengangguk dengan yakin.

"Alright then. Jangan lepasin genggaman aku. Oke?"

Dengan senang hati, (Namakamu) semakin mengeratkan genggaman tangan mereka dan tertawa kecil. Bersamaan dengan itu, Iqbaal lantas membawanya bertemu dengan beberapa teman-teman lamanya yang baru malam ini (Namakamu) temui secara langsung. Ada perasaan gugup saat bertemu dengan teman-teman suaminya yang memang rata-rata adalah pria. Tapi (Namakamu) tetap berusaha menampilkan senyum terbaiknya, memberikan kesan sebagus mungkin di mata teman-teman suaminya ini.

"Kamu inget 'kan kalo dulu aku pernah punya band waktu SMA?" Pertanyaan Iqbaak yang tiba-tiba ini, membuat (Namakamu) berpikir sebentar untuk mengingat. Sampai tak lama kemudian, apa yang berusaha diingatnya, muncul di kepala dan perlahan mengangguk. "Nah, mereka ini orang-orangnya."

"Oh ya?" (Namakamu) langsung menatap barisan laki-laki di depannya.

"Kenalin, (Namakamu), istri gue." Sambil berucap, tangan Iqbaal yang menggenggam tangannya beralih ke pinggang. Membiarkan (Namakamu) untuk berkenalan dengan teman-temannya meski hanya sekedar bertukar jabat tangan.

"Rafto, nice to see you."

(Namakamu) tersenyum, lalu bergilir menjabat tangan laki-laki di sebelah Rafto. "You can call me Fauzan. Gue bukan bagian dari band, tapi gue punya peran penting buat karir mereka dulu." Katanya tersenyum.

"Oh, jadi ini yang namanya Ojan?" (Namakamu) terkikik. "Yang suka main futsal bareng Iqbaal 'kan?"

"Ah, mimpi apa gue dikenalin bidadari." Celetuk Fauzan dengan gaya dramatisnya.

Iqbaal langsung melotot. "Istri gue, heh!"

"Chill, man!" Fauzan tertawa.

"Kurniawan Utomo alias Irwan." Kata laki-laki di sebelah Fauzan sambil menjabat tangan (Namakamu).

"Fathra. Call me Fathra." Yang terakhir yang tangannya (Namakamu) jabat satu-satu sebagai salam perkenalan.

"Such an honour for me to see you all, guys." Balas (Namakamu) dengan tawa kecil, sebagai bukti sikap keramah tamahannya yang tidak pernah hilang.

"Me too. Kami semua pun begitu. Biasa melihat kamu di televisi dan majalah, rasanya seperti mimpi bisa bertemu langsung." Dengan gelagatnya yang sopan, Irwan menjawab. "Anyway, bukan saya. Tapi Iqbaal yang mendadak menuhin ruang kerjanya sama majalah dan poster tentang kamu begitu tahu kalian dijodohin."

"Emang manusia yang jadi suami lo itu terlalu norak untuk ukuran cowok." Fauzan berdecak. "Langgeng ya!"

(Namakamu) tersenyum geli. Lalu sekilas melirik Iqbaal yang dibuat mati kutu oleh ejekan teman-temannya. "Thank you. Bukannya bagus ya kalau begitu? Proved that he loves me that much, right?"

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang