(Namakamu) sedang menunggu Iqbaal pulang. Kebiasaannya ketika menunggu adalah duduk tenang pada sofa sambil menonton acara televisi. Sebenarnya tidak terlalu menarik untuk di tonton. Hanya saja, (Namakamu) lebih menikmati cemilannya ketimbang tontonan yang ada di depan matanya. Akhir-akhir ini (Namakamu) senang sekali ‘ngemil’. Apapun. Sampai-sampai daftar belanjaan membludak hanya untuk membeli cemilan (Namakamu) saja.
Tapi untuk tuan Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan terhormat, mau sebanyak apapun cemilan yang (Namakamu) mau, akan selalu dituruti. Iqbaal tidak peduli kalau nantinya sang istri akan gemuk. Toh itu berarti (Namakamu) bahagia selama hidup dengannya, tidak kekurangan gizi.
Ah, memikirkan Iqbaal membuat (Namakamu) rindu. Lemah sekali.
Sebuah dering notifikasi menghentikan aktivitas (Namakamu) untuk sesaat. Dengan gerakan malas, diambilnya benda pipih yang tergeletak di sampingnya itu lantas membuka notifikasi yang masuk.
Baby Snake : *sent picture*
Mau apa ular ini?
Baby Snake : you see that? I was two steps closer towards him
Tanpa mendahulukan emosinya, (Namakamu) melihat baik-baik foto yang dikirim oleh Steffy. Sebenarnya itu bukan apa-apa, hanya sebuah surat yang isinya menyatakan kalau Steffy dikontrak sebagai model untuk promosi new cottage di tempat suaminya bekerja.
“What the hell? Ngajak perang ini namanya!” Perempuan itu langsung kesal begitu tahu foto yang Steffy kirimkan. “Kok bisa sih Steffy keterima jadi modelnya? Gue yakin pasti ada nepotisme disini!”
Dengan geram, namun tidak gegabah, (Namakamu) membalas pesan wanita ular itu.
(Namakamu) : only two steps? Lo salah membahas ‘langkah’ dengan gue
(Namakamu) : I only did one step then he asked me to be his wife. Read it slowly, you baby snake :)
Oh, bahkan jika Steffy merasa kalau dikontrak menjadi model di bawah perusahaan naungan suaminya adalah a good movement, perempuan itu salah besar! Kalau membahas seberapa langkah yang sudah diambil, jelas, (Namakamu) akan sepuluh kali lipat di depan Steffy. (Namakamu) istri sahnya Iqbaal. Tidak ada yang mampu mengelak itu semua ketika ada bukti otentik atas kenyataan tersebut.
Lagipula, (Namakamu) tidak perlu merasa risau dengan Steffy yang jelas membuang-buang waktunya. Toh Iqbaal tidak akan semudah itu berpaling pada Steffy. Terlebih lagi ketika (Namakamu) mengetahui bagaimana perangai Steffy oleh mata kepalanya sendiri.
Permainan ini hanya sebuah perangkap. Kalau Steffy pintar, perempuan itu tidak akan dengan mudah menerima ajakannya untuk bermain fair. Tapi nyatanya, Steffy tidak sepintar itu!
oOo
Suara bel yang ditekan berkali-kali membuat (Namakamu) harus turun dari sofa untuk membukakan pintu. Kebetulan Bi Sumi sudah pulang. Jadi mau tidak mau, (Namakamu) harus berjalan ke ruang tamu dan membuka pintunya sendiri.
“Sebentar!” Serunya karena orang diluar terus-terusan menekan bel. Membuatnya kesal saja.
Namun rasa kesalnya meluap begitu saja ketika melihat siapa yang datang. Atau lebih tepatnya, mengetahui siapa yang pulang.
“Kok wajahnya BT gitu?” Tanya Iqbaal setelah mengambil satu langkah maju sehingga lebih dekat dengan (Namakamu).
“Kamu neken belnya berkali-kali. Sebel aku dengernya!” Meski begitu, (Namakamu) tetap mengungkapkan kekesalannya.
Iqbaal tertawa pelan. Kemudian menutup pintu yang ada di belakang punggungnya dengan tangan kanan tanpa mengalihkan pandangan dari (Namakamu). “Aku kangen makannya pencet belnya nggak sabaran.” Katanya jayus. “Sini!”
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
