PART 2 - THE NIGHT

19.7K 1.4K 38
                                        

“Star never spoken if night its owner. They let every else who seeing consider they’re faithful. But sometimes in fact, star let the darkness dominate the night with its unpresent. So cruel.”

oOo

(Baju enka on mulmed!)

Flashback..

“Sayang? Udah selesai dandannya?”

Suara Anneke dari luar pintu membuat (Namakamu) segera memasang anting-anting di telinganya. Menatap refleksi tubuhnya di cermin sekali lagi untuk memastikan bahwa penampilannya malam ini sudah sempurna. Kedua tangannya bergerak di puncak kepala merapikan rambut yang sengaja di ikat ke atas membentuk sebuah gulungan kecil yang manis. Beberapa anak rambut tampak berjatuhan di sekitar telinga. Tapi (Namakamu) membiarkan itu dan berjalan menuju pintu untuk menghampiri sang Mama.

“(Namakamu)? Have you finished?

Pintu terbuka menampilkan sosok gadis yang sudah terlihat manis dengan pakaian monokromnya.

Yes, I have and I’m ready.” (Namakamu) berdiri di depan pintu bersama senyuman lebar. “Gimana, Ma? Nggak terlalu gelap ’kan style aku?”

(Namakamu) menarik sedikit ujung rok hitamnya berlagak seperti seorang putri kerajaan. Sambil menunggu pendapat Anne yang kelihatan memuji penampilan (Namakamu) lewat tatapannya. “Kamu cantik, sayang. Cantik banget.”

“Serius?” Tanyanya sekali lagi.

Anne mengangguk yakin sambil tersenyum. “Cukup untuk bikin calon suami kamu nggak bisa berkedip.”

Mendengar kata ‘calon suami’ sedikit membuat tubuh (Namakamu) melemas. Nyaris kehilangan sadar. Sejujurnya, dia belum terlalu siap untuk malam ini-termasuk rencana perjodohan di dalamnya. Baginya, menikah di umur 24 tahun adalah hal yang terlalu dini untuk di lakukan. Meski dia sudah menyelesaikan sarjana pertamanya, ada beberapa hal yang ingin (Namakamu) lakukan sebelum akhirnya dia menikah, seperti menjadi wanita karir dan merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan gaji pertama atas keringatnya sendiri.

Kembali pada kenyataan yang harus (Namakamu) hadapi saat ini, mungkin ada rencana lain dibalik perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya jauh-jauh hari.

Well, every person has the different way to get their aim, right?

“Kenapa ngelamun?” Suara Anne menarik kesadaran (Namakamu) lagi. “Deg-degan ya?”

Ucapan Anne memang sepenuhnya benar. Tapi (Namakamu) tidak mengakui dan hanya membalas senyum. “Sedikit, Ma. Tapi itu bukan masalah.”

‘Not the real problem exactly.’

Setelah itu, Anne merangkul lengan terbuka anak gadisnya itu dan menuntunnya turun ke lantai bawah. Dimana semua orang sudah datang berkumpul menunggu kehadiran (Namakamu) sebagai pemeran utama di cerita malam hari ini.

Napas kentara akan kegugupan terdengar jelas di telinga Anne. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu menoleh ke samping dengan senyuman menenangkannya. “Tenang, sayang. Nggak usah gugup gitu. Anggep aja ini sebagai acara makan malam biasa, tapi, bareng temennya Papa. Bisa ’kan?”

Walau terasa sulit, (Namakamu) mencoba mengikuti perkataan sang Mama setelah memberikan anggukan pelan. Tidak ada yang lebih mendebarkan ketimbang malam ini. Malam dimana penentuan masa lajangnya.

Satu persatu anak tangga sudah dituruni dengan tenang. Selama itu (Namakamu) merasakan telapak tangannya berubah menjadi dingin. Untung saja dia memakai sepatu flat sebagai alas kakinya. Bisa dibayangkan bagaimana jika (Namakamu) menggunakan stiletto ukuran hak 10 cm lalu melamun ketika menuruni tangga saking deg-degannya? (Namakamu) yakin itu akan menjadi hal yang paling memalukan sepanjang masa.

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang