PART 26 - THE GAME HAS JUST STARTED

6.4K 950 142
                                        

Btw gue ngetiknya lagi ngantuk berat ini. Jadi maaf kalo ada typo. Ngantuk asli bro!

***

What should I do to change your mind, Babe?” Iqbaal menatap istrinya dengan sayang juga penuh harap. “Kamu beneran nggak mau ikut temenin aku kesana? It’s Batam, Babe! A beautiful place we could spend our time together.”

“Nah!” Masih dengan jawaban yang sama, (Namakamu) menolak. Mengabaikan kepadatan di bandara pagi menjelang siang ini, perempuan itu meletakan tangannya di depan bahu Iqbaal dengan romantis. Mengusapnya dengan gerakan ke samping lalu turun ke bawah dan berhenti di depan dada. Kembali, bola matanya menatap sang suami penuh pengertian. “Aku bukannya nggak ikut, sayang. Aku bakal kesana. Tapi bukan sekarang. Salsha needed me for a help. Bukannya kita udah janji ya nggak akan bahas ini lagi? C’mon!”

Iqbaal mencebik. Untuk kesekian kalinya, laki-laki itu mecebik. Tidak habis pikir kalau permintaannya akan ditolak begini hanya karena kemarin malam Salsha menelepon (Namakamu) dan meminta istrinya itu untuk menemani pergi ke acara pernikahan atasannya. Like hell! She’s my wife! Iqbaal tentu paham kalau (Namakamu) dan Salsha adalah teman baik jauh sebelum mereka menikah. Tapi, rasanya begitu none sense saat (Namakamu) langsung menerima ajakan Salsha dibandingkan menerima ajakannya untuk ikut pergi ke Batam.

Tidak bisakah (Namakamu) mengerti kalau Iqbaal juga ingin ditemani? Ingin istrinya ada di samping ketika pekerjaan sedang menumpuk dan menjadi tempatnya berkeluh kesah setelah lelah seharian bekerja? Tidak bisakah?

“Hey,”

Ketika pikirannya dibawa melayang oleh emosi yang tiba-tiba melanda diri, sebuah sentuhan di dagunya mau tak mau membuat pandangan Iqbaal ikut terangkat dan mengarah tepat pada wajah cantik di depannya. Wajah yang selalu Iqbaal temukan di bangun dan tidurnya, wajah yang tidak pernah berhenti berputar di kepalanya bagai slide show yang berputar pada layar proyektor.

“kok sedih?”

Bibir yang kerap memberikan kecupan manis itu akhirnya tersenyum tipis.

“Senyum dong!”

Saat itu juga sebuah ciuman singkat mendarat di bibir (Namakamu). “Kamu beneran nggak mau ikut aku sekarang? Apa perlu aku reschedule biar perginya barengan kamu aja?”

“Kamu kok jadi manja gini sih?” (Namakamu) terkikik. Semakin mengusap-usap dagu dan sekitar rahang Iqbaal yang terasa halus karena laki-laki itu rajin mencukur bakal jambangnya. “Perasaan dulu-dulu kamu nggak pernah gini deh. Kalo mau pergi, yaudah pergi aja. Nggak pernah tuh sampe keliatan murung gini.” Ujarnya heran. “Kenapa? Ada masalah ya?”

“Nggak, nggak ada.” Iqbaal menggeleng. “Feeling aku nggak enak aja.”

(Namakamu) tersenyum kecut. Apa mungkin Iqbaal juga merasakan apa yang dia rasakan? Karena sungguh, (Namakamu) khawatir dengan keberadaan Steffy di sekitar suaminya. Terlebih lagi, untuk perjalanan bisnis ke Batam kali ini, perempuan ular itu akan turut pergi meski dengan hari dan penerbangan yang berbeda. Tidak menutup kemungkinan kalau disana Steffy akan berusaha dengan gencar mengambil perhatian Iqbaal. Walau sebenarnya (Namakamu) yakin kalau Iqbaal tidak akan semudah itu berpaling darinya.

Information voice terdengar di setiap penjuru bandara sedetik kemudian. Memberitahu bahwa penerbangan ke Batam akan segera dilaksanakan dan meminta para penumpang untuk segera masuk pada gate yang telah diinfokan sebelumnya. Bersamaan dengan Ardio yang datang menghampiri bersama senyum sungkan di bibir.

“Boss, pesawatnya udah mau berangkat!” Katanya. “Kopernya mau dibawain sekalian?”

“Nggak usah, Yo. Biar gue bawa sendiri aja.” Tolaknya. “Lo duluan aja sama yang lain. Nanti gue nyusul.”

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang