Sebelum kalian baca, gue mau bilang makasih loh buat responnya di dua part terakhir. Gila ya! Gue nggak tau kalo komen-komennya bisa seganas itu. Bener-bener made my day banget, guys. Sampe ketawa sendiri gue bacanya wkwkw 😂
So, komen yang hanyak lagi ya. Jujur, gue makin semangat ngetiknya kalo kalian banyak yang komen :)
oOo
Rintihan tangis dari orang-orang di hadapannya ini belum mau berakhir, bahkan setelah pihak maskapai menjelaskan mengenai pencarian para korban yang sampai saat ini masih berlangsung. Seperti ada awan mendung yang sedang menaungi aula hingga suasana sedu sedan terasa begitu kuat. Sungguh, tidak ada yang lebih menyedihkan ketimbang ditinggalkan oleh orang tercinta. Dunia akan hancur saat itu juga, seakan tidak ada hari esok untuk dilewati.
Sudah ke sekian kalinya Iqbaal meraup wajah. Menghembus napas berat dengan mata yang memandang nanar kepiluan di sekelilingnya. Iqbaal yakin bahwa (Namakamu) baik-baik saja. Iqbaal yakin bahwa besok, hari berikutnya atau bulan selanjutnya, (Namakamu) pasti kembali dengan membawa seluruh rasa yang sama seperti kemarin. Iqbaal percaya, (Namakamu) akan kembali. Tapi, suara pilu yang saling bersahutan di telinganya ini, sangat mengganggunya yang sedang berusaha berpikir positif. (Namakamu) tidak akan kenapa-napa! Istrinya baik-baik saja, Iqbaal yakin itu.
"Baal, gue bakal nyuruh orang buat dateng ke TKP sambil nyari informasi tentang kelanjutan penemuan korban. Semoga kita dapet kabar baik sampai beberapa hari ke depan," Ujar Ardio, tidak tega melihat bosnya begitu merana sejak kemarin.
Tanpa banyak berkata, Iqbaal hanya mengangguk.
"Jangan gini, bro! (Namakamu) nggak akan suka lihat lo nggak semangat gini," Ardio menepuk bahu Iqbaal yang masih duduk di kursi, berusaha memberikan semangat bahwa harapan itu akan selalu ada selama tidak ada niat untuk menyerah. "Terus berjuang buat dia. Seenggaknya, itu yang dia perlukan saat ini. Keajaiban pasti ada. Jangan menyerah, Baal!"
"Yo?"
Merasa namanya dipanggil, Ardio menempati kursi kosong di sebelah Iqbaal. Agar lebih nyaman untuk melanjutkan pembicaraan. "Kenapa, Bos?"
"Kalo (Namakamu) nggak ketemu, gimana sama hidup gue, Yo?" Ujarnya seperti putus asa. "Gimana nasib gue nanti ke depannya?"
"Udah gue bilang dari kemarin, jangan mikir macem-macem. Kalo lo putus asa gini, Tuhan juga nggak mau buat ngasih mukjizat-Nya ke kita. Stay positive, man! (Namakamu) bisa kita temukan dalam kondisi masih bernyawa. (Namakamu) pasti selamat," Balas Ardio yang tidak mau melihat Iqbaal semakin merasa terpuruk.
"Andai kemarin gue nggak marahin dia, mungkin sekarang (Namakamu) masih bersama gue, Yo. Masih ngelewatin sarapan dan makan siang bareng." Iqbaal tersenyum pedih. Lalu membiarkan satu tetes air mengalir dari sudut matanya. Membiarkan sesak dalam dada semakin menguasai dan membuatnya lemah.
"Gue belum sempet dapet maaf dari dia. Kalo aja gue tau hari ini dia pergi, gue akan bilang cinta seribu kali sampe akhirnya dia bosen dan marahin gue." Iqbaal semakin merasa sesak oleh ucapannya sendiri. Merasa bahwa dunia sedang tidak berpihak padanya dan mengambil (Namakamu) sebagai balasan.
"Ini salah gue, Yo. Salah gue bikin (Namakamu) pergi. Semuanya salah gue," Lirihnya sebelum akhirnya benar-benar menangis karena sudah tak sanggup menahan sesak lebih lama lagi.
"Bro, ini udah takdir. Bukan salah lo (Namakamu) pergi," Balas Ardio atas ucapan Iqbaal.
"Lo nggak tau gimana sakitnya gue kalo (Namakamu) bener-bener pergi," Tukiknya tak terima. "She's gone with half of my soul. How could I live my life without a part of me? Tell me!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
