Sebulan belakangan (Namakamu) harus rela ditinggal pergi ke Iqbaal keluar kota untuk mengurus proyek ‘cottage’ yang katanya tidak bisa berjalan kalau tidak ada Iqbaal disana. So far, (Namakamu) pun tidak masalah kalau harus ditinggal sampai berhari-hari. Lagipula Iqbaal bekerja pun untuk siapa lagi kalau bukan untuk dirinya, juga anak-anaknya nanti. Kadang (Namakamu) merasa sedih karena sebagai istri hanya bisa diam di rumah, ongkang kaki sambil menunggu suami pulang. Ingin rasanya (Namakamu) mengambil salah satu posisi di perusahaan ayahnya. Sedikitnya dia mampu mengurangi beban Iqbaal meski tidak seberapa. Tapi sepertinya Iqbaal tidak akan pernah setuju dan (Namakamu) harus puas dengan jabatannya sebagai ibu rumah tangga.
“Tapi beneran nih nggak papa gue nginep disini? Suami lo nggak bakal marah ’kan gue nemenin istrinya tiba-tiba?” Salsha meletakan tas punggungnya di atas sofa. Sejurus kemudian mendudukan dirinya di atas sofa, dengan posisi menyamping hingga berhadapan dengan (Namakamu).
Malam ini Salsha memang akan menginap di rumah (Namakamu) atas permintaan sahabatnya itu sendiri. Salsha pun tidak bisa menolak. Apalagi setelah tahu kalau akhir-akhir ini, (Namakamu) memang selalu ditinggal pergi keluar kota oleh Iqbaal dan baru pulang ketika akhir pekan. Kasihan sekali sahabatnya itu. Bukannya menikmati honeymoon berdua di rumah, ini justru harus rela di tinggal bepergian suami keluar kota. Risiko istri pengusaha.
“Ish...lo kenal Iqbaal kaya baru kemarin sore aja deh.” (Namakamu) mencebikan bibirnya lalu melempar bantal sofa tepat ke arah Salsha. “Ya daripada gue kelayapan nggak jelas, diem di rumah juga kesepian, mending gue ajak lo nginep disini ’kan?” Sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.
Salsha menumpu kedua sikunya di atas bantal sofa yang tadi dilempar oleh (Namakamu), kemudian terkekeh pelan. “Terus kenapa nggak nginep di rumah mertua lo atau di rumah bokap nyokap lo gitu?”
“Nggak enak gue kalo nginep di rumah Bunda. Orangnya baik banget, Sal, ya ampun. Kalo gue nginep disana tuh nggak setengah-setengah baikin gue. Yang masakin gue makanan lah, disuruh istirahat lah, nggak boleh kecapean lah, ’kan gue nggak enak ya?” (Namakamu) bercerita.
“Mau dong gue punya mertua kaya gitu.”
“Sayangnya Bunda cuma punya satu anak cowok. Dan udah nggak available karena dia udah jadi milik gue.” Ujarnya sambil menjulurkan lidah.
“Bodo amat, (Nam..)!”
(Namakamu) terkekeh.
“Terus Tante Anna sama Om Aldrich gimana kabarnya? Keknya udah lama banget ya gue nggak main ke rumah lo.”
“Baik kok. Lagi seneng traveling tuh bokap nyokap gue. Sekarang aja lagi di Bengkalis katanya.”
“Pindah atau ntar balik lagi ke Jakarta?”
“Nanti balik lagi kok. Tapi nggak tau kapan. Tau sendiri lah bokap gue sibuknya kaya apaan. Udah macem presiden.”
Salsha manggut-manggut. “Terus punya suami kaya presiden juga sibuknya ya. Kasiaann..”
“Suka rese gitu deh!” (Namakamu) memincingkan matanya kesal. Namun tak urung membuatnya terkekeh.
“Eh order pizza dong, (Nam..)! Yang big size, terus full topping mozarella ya? Laper nih gue.” Salsha mengusap perutnya yang kelaparan.
“Bisa di atur!” Segera (Namakamu) mengambil ponsel di dalam saku dan mengutak-atik layarnya begitu lihai. “Btw lo kesini bakal dicariin Aldi nggak?” Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang menyala terang.
Tanpa sadar Salsha menghela napas, seolah pertanyaan (Namakamu) tadi agak sulit untuk dijawab. Perempuan itu menggeser tubuhnya hingga bersandar pada sandaran sofa. Dengan bantal persegi yang masih berada di pangkuan, Salsha menatap lurus ke depan lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Enggak kok. Dia ’kan sibuk kerja. Mana ada waktu buat nyariin gue.” Yang lantas membuat kening (Namakamu) berkerut tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
