KOMEN 100+ BISA KALII
NO SPAM TAPI YAK
KALO ENGGAK GUE UNPUBLISH LAGI NIH!! *ngancem*
:p
oOo
Weekend comes.
Layaknya pekerja kantoran lainnya, Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Artinya selama dua hari ke depan Iqbaal akan terus berada di rumah kecuali ada panggilan kantor dadakan yang menyuruhnya untuk bekerja meski di hari libur.
Well, sebelum itu semua terjadi, (Namakamu) ingin memastikan bahwa dirinya sudah melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik. Dengan bantuan Bi Sumi, semua makanan sudah tersaji rapi di atas meja. Tentu saja (Namakamu) tidak akan membiarkan Iqbaal tahu kalau tadi dia sempat melanggar aturan. Terutama larangan untuknya pergi ke dapur dan menggunakan benda tajam.
“Bi, kalo Iqbaal nanya ini siapa yang masak, bilang aja Bibi yang masak ya!” Kata (Namakamu) pada Bi Sumi yang sedang meletakan mangkok besar berisi tumis sayuran ke atas meja.
“Eh, lah kok gitu Non? Den Iqbaal pasti seneng kalo Non (Namakamu) yang masakin sarapan. Kenapa harus bilang Bibi?” Sepertinya Bi Sumi tidak mau diajak kerja sama oleh (Namakamu).
“Bibi lupa ya? Kan aku nggak di bolehin ke dapur sama Iqbaal. Nanti Iqbaal marah kalo tau aku yang masak ini semua.” Kata (Namakamu) cemberut. “Ralat deng. Bukan aku semua yang masak. Tapi Bibi yang masak.”
“Tapi Non juga ikutan bantu ’kan?”
“Aduh, pokoknya Bibi diem aja kalo Iqbaal nggak nanya, oke? Kalo Iqbaal nanya, bilang aja aku cuma liatin Bibi masak. Bisa ’kan, Bi?” Pinta (Namakamu) sekali lagi takut Iqbaal muncul tiba-tiba dan semua obrolannya dengan Bi Sumi terdengar oleh telinga Iqbaal. Bisa gawat masalahnya.
“Yaudah deh, Non. Bibi manut aja. Tapi kalo Bibi keceplosan gimana, Non? Bibi ’kan nggak bisa bohong.”
“Gampang lah itu mah. Yang panting jangan sampe Iqbaal tau ya, Bi?”
Bi Sumi mengangguk paham. Tentu membuat (Namakamu) tersenyum senang. “Makasih Bibiii! Kalo gitu, aku mau ke atas dulu ya, mau bangunin Iqbaal.”
“Oke, Non.”
“Bibi kalo mau makan, makan dulu aja ya, Bi. Makasih udah bantuin aku tadi, hehe.”
“Sama-sama, Non Stella.”
Ah, Bi Sumi. Gelagatnya yang ramah itu mengingatkannya dengan Anne, Ibunya. Sudah hampir lama sekali (Namakamu) tidak mengunjungi rumah orang tuanya. Dia sendiri bahkan tidak ingat kapan terakhir kali datang kesana. Hm, anak durhaka. Bisa-bisa dia dikutuk Ibunya menjadi batu karena tidak pernah mampir kesana lagi. Tapi kalau keep in touch by text sih, jangan ditanya lagi. Hampir kelewat sering.
Pikiran tentang kabar kedua orang tuanya harus diakhiri begitu saja ketika tubuhnya sampai di depan pintu kamar. Kamar yang menjadi miliknya dan juga milik Iqbaal. Dimana di dalamnya, masih ada sosok manusia yang terlelap begitu nyenyak sampai-sampai (Namakamu) sendiri tidak tega membangunkannya.
Kalau di ingat-ingat lagi, kejadian kemarin malam masih membuat Iqbaal sedikit...apa ya istilahnya? Trauma? (Namakamu) tidak tahu pasti apa yang membuat suaminya jadi begitu. Hanya saja, sikapnya sedikit berubah. Selama perjalanan pulang kemarin saja, Iqbaal sama sekali tidak mengajaknya bicara. Bicara pun saat sudah di rumah. Ketika (Namakamu) hendak tidur, saat itulah Iqbaal memeluknya dari belakang dan meminta maaf karena aksi diamnya sepanjang perjalanan pulang tadi—kemarin malam.
Andai saja Iqbaal tahu kalau (Namakamu) sama sekali tidak kesal atau marah atas respon Iqbaal yang tidak biasa itu. Baginya itu hal yang wajar. Meski (Namakamu) tidak tahu apa hubungan Iqbaal dan Steffy di masa lalu, dia berharap tidak mengubah apa yang ada dalam diri Iqbaal hari ini. Semoga Iqbaal tetap menjadi Iqbaal yang dikenalnya satu bulan yang lalu. Iqbaal yang menjadi suaminya, pria yang selalu mengertinya setiap saat.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Happiness
Fanfiction"Maybe I have so many flaws in my self, but can I hope I could have my own perfect happiness?" (Second Series of Happy Perfect Marriage Series)
