PART 16 - POEM

9.3K 1.2K 96
                                        

Hampir tengah malam. Jarum jam masih berdetak menemani sunyinya malam. Suara jangkrik semakin lama semakin pelan. Menyisakan suara denging di telinga yang semakin jelas terdengar. (Namakamu) terbangun ketika langit masih gelap, tanpa alasan yang jelas. Kantuknya mendadak hilang. Tubuhnya bergerak. Hendak mencari posisi ternyaman, tetapi seseorang disebelahnya membuat pikirannya kembali memutar kejadian semalam.

Hangat. (Namakamu) merasa pipinya menghangat. Menyaksikan bagaimana lengan telanjang suaminya itu memeluk erat tubuhnya, bagaimana dada liat itu terbungkus rapi dibalik selimut namun masih bisa terlihat oleh mata (Namakamu), semuanya, benar-benar polos. Ah, bahkan (Namakamu) tidak mampu menghapus bayangan Iqbaal semalam. (Namakamu) menjerit tertahan. Mengubur wajahnya dibalik selimut, lalu muncul lagi hingga yang terlihat hanyalah kedua bola matanya. Menatap Iqbaal dengan sorot kekaguman, sekaligus tidak percaya. (Namakamu) benar-benar malu. Namun ia bahagia.

Bahagia karena menjadi seorang wanita seutuhnya.

(Namakamu) menarik napasnya dalam. Semakin lama, atmosfer disekitarnya terasa panas. (Namakamu) butuh udara segar. Mungkin duduk sebentar di sofa sambil membaca novel, bisa sedikit mengurangi rasa malunya membayangkan momen semalam.

Tapi sebelum itu, (Namakamu) mendekat ke arah Iqbaal, mencium kening Iqbaal beberapa saat sebelum akhirnya beranjak dari ranjang untuk menetralkan detak jantungnya.

oOo

Kaos abu-abu pucat milik Iqbaal menjadi pilihan untuk (Namakamu) pakai. Entahlah. Tiba-tiba saja ia merasa ingin memakai kaos milik Iqbaal padahal (Namakamu) sudah membuka lemari bajunya sendiri. Meski kebesaran, kaos ini begitu nyaman dipakai. Bahannya kelihatan tebal, namun setelah dipakai justru terasa adem. Sekarang (Namakamu) mengerti kenapa Iqbaal selalu memakai kaos ini ketika di rumah. Memang membuat nyaman si pemakai. (Namakamu) suka.

Sebuah novel sudah berada ditangan. Baru saja membuka halaman pertama, entah kenapa (Namakamu) kehilangan selera. Matanya memandang ke arah ranjang dimana ada Iqbaal yang masih terlelap begitu damai. Bahkan Iqbaal sama sekali tidak terbangun saat (Namakamu) beranjak dari kasur. Padahal biasanya, Iqbaal akan terbangun ketika (Namakamu) melakukan pergerakan. Lalu merengek saat (Namakamu) berkata ingin ke kamar mandi dan menyuruhnya untuk kembali ke kasur. Ah, Iqbaal. Lagi-lagi membuat (Namakamu) menyadari kalau Iqbaal memang kelelahan bekerja seharian di kantor. Pasti akhir-akhir ini banyak tugas yang menumpuk.

Secara tiba-tiba, (Namakamu) ingin menulis sesuatu untuk Iqbaal. Bukan, ini bukan surat cinta. (Namakamu) ingin membuat sebuah puisi. Entahlah. Sebut saja begitu. Lantas ia pun mengambil selembar kertas, pulpen, lalu sebuah karet untuk mengucir rambutnya.

Tangannya sudah siap menulis, tapi tidak jadi karena bingung harus memulai dengan kalimat apa. (Namakamu) menggerakan pensilnya yang dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Menggerakannya dekat dagu sambil berpikir keras.

Apa ya? Pikirnya.

Lalu sebuah kata muncul di kepalanya, dan (Namakamu) mencoba menuangkannya di atas kertas.

She’s untouched
The soul of unprepared
She’s fell into ache
When someone throw the ace

(Namakamu) lalu termenung membaca tulisannya sendiri. Sebenarnya apa sih yang ingin ia tulis? Benar-benar tidak jelas. Dibaliknya kertas tersebut lalu mulai menulis lagi pada halaman tersebut.

Dan kegiatan menulisnya itu terus belanjut sampai akhirnya terhenti oleh kantuk yang tiba-tiba membuatnya tertidur di sofa.

oOo

Iqbaal terbangun dengan suasana hati yang cerah. Seperti sinar mentari yang sekarang ini memaksa masuk melalui celah gorden yang masih tertutup. Namun itu tidak berlangsung lama ketika Iqbaal tidak menemukan (Namakamu) disampingnya. Dimana wanita itu? Seharusnya (Namakamu) ada disini, di sampingnya seperti semalam.

My Perfect HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang