"Gue akan pergi ke Jogja selama satu bulan dan itu tanpa sama lo."
Viny menenggelamkan wajahnya pada bantal. Dengan posisi tidurnya yang tengkurap, ia terus menggerutu dalam hati.
Mengapa Shani harus pergi ke Jogja dan meninggalkan nya walau hanya satu bulan?
Bukan apa-apa.
Hanya saja, menurutnya ini terlalu cepat. Baru saja ia merasakan kebahagiaan itu, namun dengan cepat waktu merenggutnya.
Tangan nya mencengkram kuat ujung bantal. Ingin rasanya ia berteriak, tapi dirinya tahu dimana ia sekarang.
"Lo kenapa?"
Viny yang semula sedang merasa kesal langsung terdiam mendengar teguran dengan suara yang sangat lembut itu. Ia hanya diam tanpa berniat membalikkan tubuhnya.
"Lo gak ganti baju? Betah aja lagi pake seragam." ucapnya.
Tak ada respond apapun dari gadis berambut sebahu itu. Sedangkan gadis yang masih memakai kacamata itu hanya bisa mendesah lemah. Ia tahu mengapa Viny menjadi seperti ini. Namun ia tak bisa melakukan apapun.
Pergi ke Jogja bukan lah sebuah keinginan dari dirinya. Tapi adalah keinginan dari pihak sekolah yang memang mengikutsertakan Shani untuk mengikuti sebuah lomba antar sekolah.
"Vin.." Shani menggapai lembut tangan Viny namun dengan cepat Viny menepisnya dan semakin mengeratkan cengkraman nya pada bantal.
"Please, jangan gini dong."
Shani memejamkan matanya menahan sesak yang tiba-tiba saja menyerang hatinya.
"Gue bisa nolak ini ke Kepala sekolah kalau lo mau." Ucap Shani penuh penekanan.
***
"Jadi gimana, Ci?"
Okta yang masih menyesap minuman nya itu sedikit mendongakkan kepalanya menatap pada Shani yang tengah melamum sambil mengaduk-aduk jus jeruk di hadapan nya.
"Ci?" panggil Okta sekali lagi. Ia mengalihkan pandangan nya pada Gracia dan Nadse yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Guys, ci Shani kenapa?" Tanya Okta setelah berhasil mengambil paksa kedua ponsel dari tangan Gracia dan juga Nadse.
Nadse dan Gracia mengalihkan pandangan nya pada Shani. Dari raut wajahnya sangat terlihat jelas bahwa Shani sedang banyak pikiran. Gracia yang sudah tak bisa menahan hasratnya yang ingin bertanya itu langsung menggenggam lembut tangan kanan Shani,
"Ci Shani kenapa?" Tanyanya.
Shani mendongakkan kepalanya menatap pada gadis lucu dihadapan nya. Ia sempat terdiam melihat tatapan dari Gracia. Sudah lumayan lama ia tak melihat tatapan Gracia yang sangat teduh ini. Tatapan yang selalu membuat hatinya nyaman sebelum adanya sosok Viny.
"Ge.." Shani menghentikan ucapan nya kala mengingat bahwa disana masih ada Nadse dan juga Okta. Ia kemudian memejamkan matanya dan tersenyum tipis, "A-aku gak papa." Seru Shani yang tanpa sadar membuat ketiganya menoleh.
"Lo beneran gak papa, Shan?" Tanya Nadse yang mulai merasa penasaran.
Shani menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis, "I'm fine, Nads." Senyum Shani.
"Kalau ada apa-apa cerita ya. Gak usah malu, kayak sama siapa aja lo. Disini ada kita bertiga yang selalu siap bantu lo dan nemenin lo kapan pun lo mau. Kita ini keluarga." Jelas Nadse. Seutas senyuman terpatri dibibir mereka semua.
"Thanks ya, guys."
"Apapun itu."
Ke-empatnya saling melempar senyuman. Dengan tatapan-tatapan lembut yang mengiringi senyuman hangat itu. Hingga sebuah suara dari arah yang tak cukup jauh berbunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIX YOU [END]
FanfictionFIX! Mereka berdua sudah tak lagi bisa untuk menghindari semuanya.
![FIX YOU [END]](https://img.wattpad.com/cover/109788159-64-k609343.jpg)