"SHANI!"
"Aw..--!"
.
Drt drt
Drt drt
Shani terbangun dari tidur nya ketika merasa ponselnya yang berada di nakas bergetar. Hujan yang masih mengguyur Ibu kota ini membuatnya enggan untuk mengambil ponselnya
Tetapi, getaran di ponselnya tak kunjung berhenti. Ia mengambil ponselnya dengan mata setengah tertutup, mencoba melihat jam di ponselnya,
"Hhhh. Baru juga jam 7." Kesalnya.
Ia lalu kembali menyimpan ponselnya di nakas. Namun detik berikutnya ponselnya kembali bergetar membuat matanya terbuka,
"Ahh! Ganggu aja!"
Ia lalu menggeser tombol berwarna hijau tanpa tahu siapa yang menelpon nya.
"Halo?" Ucapnya masih dengan mata terpejam,
"Shani! Ke rumah sakit sekarang juga!"
"Ngapain sih? Udah malem juga. Lagian ini siapa?" Tanyanya masih memejamkan mata,
"Gue Shania. Viny kecelakaan!"
Mata Shani membulat sempurna mendengar nama Viny. Tubuhnya melemas seketika. Napasnya tersenggel. Ia seolah tak bisa bernapas
"Kok bisa?" Tanyanya dengan suara melemah,
"Gausah banyak tanya. Cepet. Gue di rumah sakit xxxx-"
"I-iya, Shan."
Sambungan tertutup secara sepihak. Shani menutup wajahnya dengan bantal,
Bagaimana bisa? Itulah yang Shani pikirkan sekarang. Ia beranjak bangun. Hanya dengan jaket ia membalut dirinya untuk pergi ke Rumah sakit.
"Bunda!" Panggil Shani setengah berteriak.
"Apa sih teriak-teriak gitu?"
"A-aku izin keluar ya bun.."
"Mau kemana?"
"Ke Rumah sakit.." lirihnya.
"Siapa yang sakit?"
"Vin.. Viny kecelakaan bun,"
"Kamu serius?" Shani hanya mengangguk pelan, "Mau bunda antar?" Shani menggeleng pelan, "Aku sama supir aja bun."
"Yaudah, kamu hati-hati. Kalau ada apa-apa bilang bunda." Kembali Shani mengangguk. Ia memeluk sang Bunda mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Doain agar Viny ga kenapa-kenapa ya Bun.."
"Iya itu pasti."
"Shani pamit dulu bun.."
"Iya. Hati-hati ya."
.
Shani berlari menuju ruangan dimana Viny dibawa. Tubuhnya semakin lemah ketika melihat teman-teman Viny ada disana. Napasnya semakin tersenggal seiring dengan langkahnya yang dipercepat.
Ia memeluk Veranda orang yang pertama kali di tatap oleh nya. Mengeluarkan tangis yang sedari tadi dibendung olehnya agar tak pecah. Tangannya mencengkram kuat jaket yang Veranda pakai.
"Ka.. kak, Vi-ny kenapa?" Bisik Shani dengan begitu lirih. Ia menggigit bibir bawah mencoba menahan isak tangis yang akan keluar lagi.
Veranda mengusap lembut punggung Shani berusaha membuat gadis iti tenang, "Tenang ya. Berdoa agar Viny baik-baik aja.." bisik Veranda.
Shani mengangguk dalam pelukkan. Ia menutup Matanya, mencoba menenangkan hatinya yang sedikit demi sedikit tersayat karna berita ini.
Lima menit kemudian..
KAMU SEDANG MEMBACA
FIX YOU [END]
FanfictionFIX! Mereka berdua sudah tak lagi bisa untuk menghindari semuanya.
![FIX YOU [END]](https://img.wattpad.com/cover/109788159-64-k609343.jpg)