"Sudah semuanya? Yakin nggak ada yang ketinggalan?" Anita membalikkan tubuhnya, menatap satu persatu wajah penumpang yang duduk di belakangnya.
Lika, Gara, Sesil, Bayu dan tidak ketinggalan Nathan kompakan mengangguk, memberikan gerakan tubuh yang sama untuk pertanyaan Anita yang diulang untuk ketiga kalinya pagi ini.
"Oke, Pa. Berangkat!" Seru Anita pada Ardi yang duduk di kemudi.
Tiga jam kemudian, Rush hitam yang mengangkut seluruh anggota keluarga Faidano sudah terparkir rapi di parkiran menginap bandara Soekarno-Hatta. Tahun ini, Jogjakarta menjadi kota pilihan keluarga itu untuk menghabiskan liburan akhir tahun.
Pertama kali mendengar kota pilihan keluarganya, refleks Lika menolak. Perlakuan dan perkataan buruk yang diterima dari Zoana masih membekas di memorinya membuatnya belum siap apabila harus kembali ke kota itu dalam waktu dekat. Nantinya Lika yakin dirinya tidak bisa menikmati liburan dan kebersamaan keluarga yang jarang-jarang didapatkannya.
Lika segera memaksa otaknya untuk memikirkan kota lain sebagai tujuan liburan mereka. Namun, hanya beberapa detik melemparkan Bali sebagai alternatif kota liburan pengganti Jogjakarta, ide itu langsung ditolak Sesil dan Anita. Terlalu padat pengunjung, itulah alasan yang mereka lontarkan saat diskusi itu.
Selain alasan itu, ada misi khusus yang dijalankan Sesil dalam liburan kali ini. Sesil ingin mencari tahu apakah kota gudeg itu dapat dijadikannya sebagai kota cabang wedding-organizer yang ketiga.
Pilihan Sesil untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bank dan menjadi pengusaha WO memang tidak salah. Sejauh ini, usahanya berjalan dengan baik. Terbukti dengan banyaknya jumlah calon pengantin yang masuk waiting list untuk bisa menggunakan jasa pernikahan Sesil.
Pada akhirnya, Lika memang harus mengalah. Lika yakin dirinya bisa saja menang dalam pemilihan kota liburan ini dan membuat seluruh keluarganya pergi ke Bali jika menceritakan apa yang dialaminya di Jogjakarta kemarin. Namun hal itu tidak dilakukannya. Lika tidak mau liburan yang dinantikannya ini dimulai dengan suasana hati yang tidak baik.
"Selamat datang liburan. Jogja, please be nice." Gumam Lika bertepatan dengan bunyi klik seat-belt pesawat miliknya.
***
Hanya satu hari, Lika dan Gara menghabiskan masa liburan mereka di Jogjakarta. Rencana keluarga Faidano untuk menyaksikan festival kembang api di salah satu tugu Jogjakarta terpaksa Lika dan Gara batalkan ketika mengiyakan permintaan Andri Aditama.
Saat mengetahui Gara sedang berada di Jogjakarta, Andri meminta Gara dan Lika untuk menghabiskan malam tahun baru di rumah Gara. Dengan setengah hati, Lika meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan keluarga Aditama di Surabaya.
Sudah sejak dua jam lalu, Lika berada di taman rumah Aditama. Menurut Gara, dibandingkan dengan bermacet-macetan di jalan untuk merayakan tahun baru, keluarga ini memilih untuk di rumah dan mengadakan barbeque party.
Semuanya berjalan normal hingga Andri pamit masuk ke dalam rumah, sedikit kelelahan dan ingin beristirahat sejenak. Andri berjanji akan kembali lagi sepuluh menit sebelum pergantian tahun untuk berdoa bersama seperti tahun sebelumnya.
"Enggak jera juga ya kamu saya usir di acara wisuda Anggraeni."
Tepat setelah pintu belakang ditutup Andri, Zoana segera mengeluarkan apa yang dipendamnya dalam hati semenjak Lika menjejakkan kaki di rumahnya tadi siang.
"Ibu mengusir Lika? Kenapa?" Gara angkat suara, menatap Zoana dan Lika bergantian dengan tatapan minta penjelasan. Gara memang belum sempat menanyakan kepada Lika mengenai acara wisuda Anggraeni kemarin. Pekerjaannya benar-benar menyita pikiran dan waktunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
distance
Literatura FemininaDistance /'distans/ noun an amount of space between two things or people; verb make (someone or something) far off or remote in postion or nature. Ketika kata setia tidak hanya sekedar diucapkan di mulut saja melainkan juga menepatinya...
