Setelah malamnya debat panjang akhirnya gue bisa makan dan pulnag terus molor deh sampe siang kayak sekarang. Sabtu siang ini gue gatau mau ngapain. Milly bilang dia mau ke rumah keluarganya dulu dan pulang besok siang, gue hanya bilang iya dan bilang "take care".
Ya ampun, apa yang harus gue lakuin di sini? Mau belanja juga gue masih sayang sama tabungan gue. Mau window shopping juga gue keliatan miris banget karena sendirian.
Gue cek kulkas dan isinya mulai menipis, yaudah deh gue ke supermarket aja buat ngisi kulkas. Tapi sebelumnya gue buat list dulu soalnya kalau nggak, gue suka pelupa dan malah jadi ngambil barang-barang unfaedah.
Setelah mandi dan pake baju lengkap sama sepatu dan kawan-kawannya, gue pun berangkat naik bis. Sekitar 15 menit di bis, akhirnya gue sampai deh di halte dan jalan sekitar 5 menit untuk sampai ke supermarketnya. Di sana gue pun langsung ambil troli dan mulai cari-cari barang yang ada di list gue.
Setelah sekitar setengah jam berkutat, gue pun sampai dibagian kebutuhan wanita. Gue lagi pilih-pilih kira-kira mana yang lebih enak dipakai selama masa merah gue karena brand-brand di sini gak sama kayak di Indonesia, tapi mata gue malah menangkap pemandangan yang aneh.
Seorang lelaki yang gelagatnya mencurigakan itu pakai hoodie, kacamata, celana, dan sepatu yang semuanya item. Dia liat kanan kiri sambil masuk ke bagian kebutuhan wanita.
Lah lah lah, dia mau nyuri pembalut apa gimana nih?
Dia jalan pelan-pelan sambil celingak-celinguk ke rak yang isinya hampir kebutuhan wanita semua. Gue nunduk dan pura-pura sibuk banding-bandingin produk. Gak lama, suara handphone bunyi dan gue tau pasti kalau itu punyanya dia karena di bagian ini sekarang cuma ada gue, dia, dan seorang perempuan yang sibuk milik produk di ujung lorong.
Gue yang penasaran pun coba nguping pembicaraannya dia. Lah? Kok gue kayaknya kenal deh nih suara. Siapa sih?
"Yeah? Apalagi yang kau inginkan?"
"..."
"Lama? Ya ampun, aku baru saja sampai di supermarket! Sabar!"
"..."
"Seharusnya kau menyuruh suamimu, bukan aku!" laki-laki itu terus jalan dan berhenti tepat di depan rak belakang gue.
"..."
"Ya, ya, ya. Terserah! Tapi aku bingung, kau pakai yang seperti apa?"
"..."
"Tampon? Pads? Astaga! Apalagi itu?! Jadi kau ini pakai yang mana? Banyak sekali pilihannya di sini."
"..."
"29 cm? Ya ampun! Ada ukurannya juga?! Macam kebanggaan pria saja." Kebanggan? Batin gue ngakak.
"..."
"Iya iya iya. Di sini ada banyak sekali warna, kau mau warna apa?"
"..."
"Yang ada sayapnya? Ya ampun! Kau mau datang bulan atau terbang!?"
Kampret! Ngakak banget parah! Sampai segitunya dia bingung buat milih ginian doang. Gue cekikikan sendiri dengernya. Sebenernya sih pengennya gue ketawa lepas, cuma kesian aja gitu wkwk.
"Apa yang kau tertawakan?" suara dingin itu membuat tubuh gue seketika tegang. Sialan!
Baru aja seneng dikit udah deg deg an aja bawaanya. "I-ini, bungkusnya lucu." kata gue gelagapan sambil mainin dua bungkusan pads di tangan gue. "Jika berbicara tataplah orangnya."
Buset! Tiba-tiba suara itu udah ada di samping gue aja. Gue perlahan noleh kan ke dia, ragu. Dia tampaknya kaget, tapi gue lebih kaget.
Mampus!
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Jugendliteratur"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
