Gue menatap bayi-bayi gue tanpa peduli air mata yang gak kebendung lagi. Mereka lahir premature. Pengen banget rasanya gue gendong mereka dan gak lepas lagi. Tapi, apa daya? Alat-alat di tubuh kecil mereka itu menghalangi gue.
Setelah kasih nama dan asi pertama juga beberapa jam gue peluk, suster dan dokter harus bawa si kembar pergi dari gue untuk observasi lanjut dan mastiin bahwa si kembar udah cukup kuat untuk ada di dunia ini.
Sakit banget rasanya manusia-manusia kecil gak berdosa seperti mereka harus punya jarum dan selang di tubuh mereka hanya untuk bisa bertahan hidup. Gue selaku ibu mereka ngerasa gak berguna banget.
Gue cuma bisa lihat mereka dari balik kaca ruang bayi. Inkubator mereka dalam keadaan menyala, supaya mereka hangat dan gak kuning lagi. Mereka menunjukkan peningkatan yang baik dan gue bersyukur banget.
Awalnya Nicolas dan Nicolaj normal-normal aja meskipun kecil banget, tapi setelah beberapa jam mereka kayak sesek gitu. Kulit dan bagian putih dari mata mereka juga agak kuning sedikit. Gue panik dan dokter pun harus membawa pergi mereka ke ruang khusus bayi yang... belum cukup kuat.
Ini udah sekitar seminggu semenjak mereka lahir dan menetap di ruangan itu. Gue udah bisa pulang semenjak 4 hari yang lalu karena proses penyembuhan lahiran normal itu lumayan cepet, tapi si kembar yang gak bisa gue bawa pulang.
Semenjak mereka di inkubator, gue cuma bisa berinteraksi sama mereka pas jadwalnya gue menyusui mereka aja. Sehari mungking hanya 3 sampai 4 kali. Sisanya, gue harus pompa dan simpen stok biar susternya yang kasih ke mereka karena gak baik kalau mereka keluar masuk inkubator terlalu sering, takutnya mereka kena bakteri.
Kalau semenjak gue pulang, gue makin susah ketemu mereka karena terikat jam besuk. Yang asalnya 3-4 kali sehari bisa meluk mereka cuma jadi 1-2 kali. Rasanya sakit ngeliat anak gue harus menderita kayak gitu, lebih sakit ketimbang gue diusir Shawn.
Waktu diusir gue bisa pergi dan mencoba bicara sama dia meskipun gagal yang ujungnya pasti akhir dari pernikahan kita. Tapi, saat gue lihat si kembar begini, gue ngerasa... gak berdaya. Gue gak bisa apa-apa kecuali berdoa supaya mereka bisa cepet sembuh dan baik-baik aja.
Mata mereka biru seperti milik gue dan Papa sedangkan rambut mereka coklat terang gitu... kayak Shawn. Kalau boleh jujur, mereka tuh.. 30% gue dan 50% Shawn kalau dari tampang, sisanya 20% itu untuk kecerdasan dan sifat yang belum sama sekali keliatan karena mereka masih terlalu kecil untuk itu.
Perut gue masih buncit karena lemak dan darah kotor sisa gue hamil belum keluar semua. Butuh waktu sekitar 1 bulan sampai 40 hari untuk nifas.
Yes, people, period for 40 days while worrying to sick about my own babies.
It is not easy at all, you all better be thankful to your mama about everything.
****
"How's it?"
"She already gave birth. Prematurely."
"Oh.. God.. when? how are the babies?"
"They are still under observation in the NICU, I am not sure why. It's highly confidential in the hospital. "
"How about their names and identities?"
"I am so sorry, I can't get them as well. It's like the secure part where only listed visitors allowed to pass."
"Pictures? Anything?"
"No, none. Not even from the internet. No one has taken it. Sorry."
"No, it's okay, detective. Thank you for the information."
"Glad to serve."
****
"Van, lo harus kuat , ya? Kuat untuk anak-anak lo, untuk keluarga lo, dan yang terpenting untuk diri lo sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Teen Fiction"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
