Thirty One : Aftertaste

1.1K 94 0
                                        

Gue mengerjapkan mata pelan sembari coba menyesuaikan mata gue dengan cahaya matahari yang berusaha nembus tirai kamar gue dan Shawn.

Sadar kalau gue gak akan bisa nandingin cahaya itu, akhirnya gue mengalah dan memilih untuk menghadap sisi lainnya dari kamar ini yang lebih gelap.

Gue pun beringsut melingkarkan lengan gue ke sesuatu yang besar, lembut, dan hangat. Ah, nyamanya... pikir gue dalam hati yang berusaha untuk tidur lagi setelah semalem gue capek dan pegel banget habis---

Tunggu dulu!

Gue kan tadi malem habis 'itu' sama Shawn. Lah, berarti yang gue peluk itu...

Besar, lembut, dan hangat.

Badannya Shawn!

Mata gue yang awalnya udah setipis irisan bawang pun ngebuka lagi dengan lebar kayak bawang kupas. Tadi malem itu berartin...

Malam pengantin gue, dong.

Lahhh, mamaaaa Vania udah gak perawaaannn! Hue hueee. Miris gue dalam hati.

Aduh duh.. mana ini yang dibawah perih lagi. Badan gue semuanya pegel. Eh, si Shawn masih enak-enakan tidur dia. Gak bertanggung jawab banget ish!

Gue menghela napas dan mencoba untuk menggerakkan badan gue supaya bisa turun dari kasur. "Ish.. sakit banget ini.." gumam gue pelan.

Pas gue berhasil geserin badan gue sekitar 10 centi dari posisi sebelumnya, eh, si Shawn malah narik pinggang gue dan meluk gue layaknya boneka.

Lah, ini mah namanya maju 10 langkah mundur 20 langkah.

Tidak berfaedah sekali usaha gue dari tadi kalau akhirnya harus berakhir di dekapannya suami gue lagi mah.

Ah, soal suami.. Gue bisa rasain pipi gue merona merah kalau mikirin tentang Shawn sebagai suami gue. Tapi, selain pipi gue yang merona merah karena tersipu dan malu gitu, gue juga kadang suka masih memendam amarah gitu sama beberapa sifat Shawn yang gue gak suka.

Gue menghela nafas dan mencoba mendorong tubuh Shawn untuk menjauh. "Five minutes... I still am loving my new morning routine.." bisiknya.

Hadeuh.

Bisa remuk gue kalau tiap pagi kudu dipeluk kayak begini. Apalagi ini setelah malam pertama. Badan gue butuh jeda kali. Lah, dia sih enak main pelak peluk aja, lah gue yang dipeluknya denJgan keadaan badan pegel-pegel ini ngerasa diremukkin secara halus tau gak?

Kalian tau kan badan Shawn segede apa?

Gue pun akhirnya memutuskan untuk mengalah dan menyerah di dalam dekapannya Shawn. Badan gue pun mulai relax saat gue mencoba menikmati dekapan ini.

Iya.. sedikit lagi.. mata gue yang meminta untuk diistirahatkan udah setipis bawang iris lagi. Ayo, Vania. Tutup mata dan terbang ke alam mimpi! Pikir gue memejamkan mata dan tersenyum tenang.

"Alright, I am up. Let's get some breakfast."

Anjir.

Sialan.

Kampret.

Belum juga 10 detik gue bener-bener mejamin mata untuk tidur, dia malah seenaknya bangun dan melepaskan gue dari dekapannya dia.

Kan gue merasa kehilangan, ih!

Tuh kan, gue baper lagi. Gila ini lama-lama. Gue menaikkan selimut sampai ke leher gue pas Shawn mengubah posisinya menjadi duduk.

Tau gak rasanya tidur telanjang?

Ya, malu. Ya, dingin. Ya, ya, ya. Terserah. Gue capek.

"Vania.. babe, wake up. You need breakfast." Shawn mengusap pipi gue lembut. "No. I am sleeping, still." Kata gue keras kepala dan menutup seluruh tubuh gue sampai kepala dengan selimut.

"Uhm.. Did I.. hurt you lastnight?"

Jleb!

Gue harus jawab apa?

Gue menelan saliva gue sendiri dan memutuskan untuk tetap dibawah selimut berpura-pura tidur. "I know you aren't ssleeping, pretty."

Shawn menarik turun selimut gue sampai leher. Pipi gue pun merona merah karena malu. "Uhm.. no. No. You didn't. But yeah.. you did, too." Kata gue  akhirnya, bodo amat kalau dia bingung.

"Ah, okay. Did you.. like it? Our first night." Tanya Shawn lagi.

Kalau gue bilang suka, disangkanya gue nafsuan dan pengen lagi. Tapi, gue butuh jeda dulu.

Kalau gue bilang gak suka, takutnya dia tersinggung.

Gue harus bilang apa?

"It was.. fine." Akhirnya kata gue dengan ragu. Shawn tiba-tiba memposisikan dirinya di atas gue yang membuat gue melotot antara kaget dan takut.

"Vania. Be serious."katanya sangat mengintimidasi. Gue nelen ludah gugup.

"Uhmm.. I told you, it was.. fine.."

"Did you like it or not?"

"I am.. confused, Shawn."kata gue jujur sambil menghela nafas.

"Do you want us to replay last night so you would not be confused?"

Gue melotot ke dia dan otomatis teriak.

"Shawn, I've had enough!!"

Sumpah, gue takut banget sampe gue gak bisa kontrol suara gue. Gue gak sengaja bentak Shawn.

Di hari pernikahan kita yang ke dua.

Parah gue.

Gue pun menghela nafas menelusuri ekspresi Shawn yang tampak kaget dan kosong kayak gitu. Gue ngerasa bersalah banget, ah, parah.

"S-shawn.. I- I just.."

"No. Vania. It's fine, I am so sorry for hurting you, baby." Hati gue ngerasa diiris ketika denger Shawn ngomong dengan nada yang sakit dan bersalah kayak gitu.

"N-no. I- I am fine, Shawn. It.. it was just my first time and I gotta adjust to the pain... You know, they say first time hurts. I will be okay. Don't worry," kata gue memegang kedua pipi Shawn dengan lembut.

Dia menutup matanya dan gue berbisik, "Shawn, I am so sorry for yelling at you."

"No, it's fine. I understand. Let me help you to the bathroom."

Dia pun perlahan ngangkat tubuh gue dan membawa gue ke kamar mandi. Gue sebisa mungkin menutup dada gue dengan tangan karena malu. Shawn pun meletakkan gue di dalam bath tub yang masih kering.

"I am so sorry, Vania.." kata Shawn sarat dengan rasa bersalah. Gue menghela nafas, "I am so sorry too.. I will be fine." Kata gue mencoba tersenyum kecil. Dia pun ngangguk dan ninggalin gue gitu aja di bath tub.

Lah, kok nyebelin?

****

Hai.

Masih ada yang mau baca kah?

Maaf banget udah lama gak post ini cerita. Kemarin kemarin gue sibuk dan malessss banget karena ulangan dan tugas sekolah yang perlu diberesin.

Anyway,

I love you guys so much!

Me

DA BOSSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang