"H-how are you, Vania?"
Gue terdiam.
Maksudnya nanya kabar setelah gak ngelirik gue sama sekali setelah sebulan tuh apa?
"I am okay. How are you?" Gue tanya balik dengan mengesampingkan ego gue.
Jujur, gue masih sakit banget.
Bayangin aja.
Gue kemarin di negara orang lain. Orang-orang yang seharusnya bisa membuat gue merasa berada di rumah malah nyuekin gue semuanya. Gue jadi kayak orang nyasar aja. Siapa yang gak sakit coba?
"I am fine, honey. Erm... I... uh. I heard you gave birth already to the twins?"
Gue naikin alis gue sebelah. Tau darimana dia?
"Yeah.. well.. three weeks ago. But where did you know it? No one knows except my family.."balas gue seadanya. Ini rasanya awkward banget, plis.
"I am you family too, Vania. Don't you think so?"
"Well.. in this case, my real family, Karen. And oh, if you meet Shawn, please tell him that I will send him the divorce paper next month after I settle with everything."
Gue denger dia kayak kaget gitu sampe napasnya aja kedengeran. Gue tau gue kasar banget, tapi gue berhak untuk kasar di sini.
Bukan gue yang bikin masalah awalnya.
"Vania. A-are you serious!?"Karen suaranya kayak gemeter gitu dan gue hanya menghembuskan napas berat.
"I guess so? Karen. Your son was too stubborn to talk with. And yes, I did try to confront him a few times but he kept on abandoning me. I see no point in trying anymore..."
"B-but Vania.. you cant d--"
"Yes, I can, Karen. I wasn't the one who started the trouble. Shawn didn't even think the twins were his and that's the last strike. I tried to talk to him but he was too coward to do it."
Gue mencoba menahan tangis. Gue merasa seolah-olah gue balik lagi ke malam di mana Shawn ngusir gue dan hati gue sakit banget.
"But--"
"I did try my best to work it out, Karen. I did. But you know what? It wasn't my fault. Me and MY kids deserve better than this."
Karen diem. Gue mencoba nelen sesuatu yang ganjel tenggorokan gue. Rasanya ketika pengen nangis tapi di tahan itu gk enak.
Di saat gue terlalu larut untuk coba tahan air mata, si Nonos rewel. Gue simpen HP gue di kursi dan sentuh mode speaker sementara gue ngebenerin baju gue terus coba ayun-ayun Nonos biar tenang.
Setelah dia mulai tenang, gue pun menyusui dia lagi dari yang sebelah kanan karena tadi yang kiri udah.
Geli gue ngomonginnya.
Kembali ke Karen, sambungan teleponnya masih nyala dan tiba-tiba gue mendengar krasak krusuk gitu. Gue pun mengangkat HP gue dan mematikan mode speaker.
Kalau tau gaakan ngomong, gue gak perlu nyalain mode speaker tadi.
Gue mendekatkan HPnya ke telinga kiri gue. "Karen? You there still?" Tanya gue.
Setelah beberapa detik gue gak dapet balasan, gue pun berniat memutuskan sambungannya. "Okay, if there's nothing more to say, I'll cut the--"
"Vania! Was that our baby?"
Gue mmerinding, anjir!
Kenapa tiba-tiba malah Shawn yang ngomong?! Ah, kampret!
"Well... no."kata gue mencoba terdengar biasa aja. Gue gak boleh biarin Shawn tau kalau dia berpengaruh besar terhadap gue.
"Tell me the truth, Vania!"
Gue terkesiap dikit mendengar nada bicara Shawn yang serem gitu seolah-olah gue karyawan yang habis korupsi milyaran juta.
Gue menelan saliva gue dan Nonos rewel lagi. Mungkin dia juga kaget karena ngedenger suara setan macam begitu.
"It's okay, baby. You are safe.. the monster is far away."bisik gue ke Nonos yang sengaja di kerasin dikit biar Shawn denger.
"Don't be childish, Vania.."suara Shawn bener-bener mengancam dan membuat gue takut. Tapi, gue harus kuat untuk anak-anak gue..
"Childish? Are you even sane mister? You doubted them as your children! Get a mirror!"kata gue terus menutup sambungan teleponnya. Gue pun memasang mode pesawat biar dia gak bisa telepon lagi.
Ngeselin banget jadi orang.
Pas kemaren aja gue ngemis-ngemis untuk ngobrol, dia gak nyaut.
Sekarang bagian ngobrol aja harus lewat ibunya, terus marah-marah gitu.
Lah, harusnya juga gue yang bentak-bentak dia karena udah jadi suami yang bego dan keras kepala.
Situ sehat?
****
Sekarang udah sekitar jam 9 malem. Mama dan Papa udah ke kamar mereka untuk tidur. Sedangkan, si kembar masih melek. Mereka udah mulai aktif banget. Kalau misalnya gak dibedong, mungkin tangan kaki mereka gaakan bisa diem sama sekali.
Gue bersyukur sih karena mereka gak rewel.
Gue tersenyum untuk yang pertama kalinya sejak insiden telepon tadi pagi.
Gila gak sih? Gue kagum dengan gimana dua manusia kecil gak berdosa dan gak tau apa-apa ini selalu bisa membuat gue lupa betapa sedih dan lelahnya perasaan gue dengan hanya ngeliatin mereka doang.
Karena udah malem, maka gue pun mengganti popok kain mereka dengan diaper supaya gue gak perlu repot ganti malem-malem, kecuali kalau mereka poop.
Tapi, biasanya mereka itu poop pagi-pagi atau siang setelah bobo. Hari ini pun juga begitu. Gue bisa tenang sih malam ini.
Setelah selesai, gue membungkus bagian perut sampai kaki si kembar pake selimut tipis, semacam bedong setengah ala-ala gitu biar mereka gak kedinginan, sedangkan tangannya bebas gerak.
Saat mereka jadi rewel karena ngantuk, gue pun buru-buru memposisikan diri gue menyandar ke tumpukan bantal di tengah kasur. Guling di bagian kanan dan kiri untuk menyangga lengan gue.
Yup. Gue akan bereksperimen.
Gue malam ini ingin tidur dengan mereja di pangkuan gue.
Gue ngerasa kesepian dan gue gak mungkin nyelinap ke kamar Mama dan Papa dengan 2 gembolan hidup yang lucu milik gue sekarang.
Sekarang bagian gue yang akan mengusir mimpi buruk anak-anak gue karena jujur, mereka juga yang mengusir mimpi buruk gue.
Melihat situasi masih kondisional, gue buru-buru cuci muka dan gosok gigi sebelum akhirnya mengangkat Nicolas di lengan kanan gue dan Nicolai di lengan kiri gue.
Gue pun kembali menyandar setengah duduk gitu di tumpukan bantal. Lengan kanan dan kiri gue disangga oleh guling dengan nyamannya.
Kaki gue mati-matian mencoba menarik selimut supaya bisa menutupi kita bertiga.
Kepala si kembar berada di lipatan lengan gue di atas guling, sedangkan badan mereka ada di atas perut gue gitu. Gue pun dengan agak susah payah membuka kancing dan mencoba memposisikan kepala si kembar di atas dada gue supaya gue bisa menyusui mereka sampai tidur.
Saat mereka berdua udah 'nyaman, aman, tentram, dan sejahtera', gue tersenyum tenang membiarkan diri gue untuk beristirahat sambil memeluk dua malaikat kecil di hidup gue.
*****
Promo dikit, ahhh.
Jangan lupa cek cerita lainnya di works gue yaaa.
Ada "to have and to lose" tentang Adrienne yang buta , sama "cringey not cringey" tentang werewolf gitu.
Those are my first full english stories. Phew!
He he
See you later. XX :)
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Teen Fiction"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
