"Ah, shit!"
Vania menyumpah serapahi keterlambatan dirinya dalam bangun pagi. Semalaman dia terlalu senang karena dapat e-mail dari Alexanders Enterprises itu.
Dia diterima kerja di sana.
Dia jadi susah tidur karena memikirkan hari pertamanya. Dan jadilah sekarang 15 menit sebelum jam masuk dia masih berlarian di trotoar supaya tidak telat.
High heelsnya dia simpan di paper bag yang dia jinjing sementara kakinya mengenakan running shoes.
Tepat 5 menit sebelum jam masuk, Vania pun sampai di kantornya dengan rambut dan pakaian yang sudah berantakkan. Nafasnya terengah-engah. Dia menunduk sambil memegang dadanya yang serasa pengap. Beberapa pegawai menatapnya aneh dan sinis tapi Vania bodoamat.
"Gilak! Anjir! Cape juga gue lari-larian gini." gumam Vania.
Vania pun berjalan untuk absen. Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Dia terkejut dan hampir saja menjatuhkannya. "Kampret! Siapa sih!?"
"Loh? Kok Milly telepon segala?" Vania mengangkat panggilan tersebut. "Hey, Mil. What's up?" katanya sok cool.
"Where dafuk are you?!" ujar Milly berbisik penuh penekanan. "Lobby, why?"
"Come to the hall now! We have briefing to do! The senior is coming!"
"WTF! SHIT! HOW THE FUCK COULD I FORGET THAT?!" tanpa sadar Vania berteriak lumayan keras sehingga mengundang beberapa pasang mata. Dia hanya tersenyum kikuk dan berlari kecil menuju hall yang berada di lantai 2.
Sepanjang jalan, dia tak henti-hentinya mengumpat karena kebodohannya itu. Saat melihat pintu hall dia mempercepat langkahnya.
Vania pun mengetuk pintunya lalu membukanya perlahan. "Excuse me." katanya sambil mengintip. Di dalam para karyawan baru dan seorang senior memandanginya aneh. Vania nyengir kikuk.
"Ekhem!" suara deham penuh penekanan di belakangnya itu membuat Vania terkejut bukan main. Tanpa sengaja pintu hall itu terdorong dan menyebabkan dia terjatuh ke lantai dengan posisi hampir nungging.
"E-eh! Adaw!" Vania mengaduh saat lututnya beradu dengan lantai marmer tersebut. "Kalo mau dehem tuh mikir-mikir mulu napa!" gumam Vania kesal.
"What's wrong here?" ujar seseorang yang suaranya Vania rasa kenal. Dia berbalik dan mendongak sampai kepalanya sakit demi melihat wajah orang itu.
Fuck! Tinggi banget elah! Lah? Kok? Si belagu? Batin Vania.
"Nothing's wrong, sir." jawab senior tersebut gugup. Vania menoleh pada jajaran karyawan. Milly mengkodenya untuk segera ikut ke jajaran. Vania pun segera berdiri dan merapikan diri. Dia baru ingat kalau sekarang lagi briefing.
Parah! Malu-maluin banget! Pikirnya miris.
"Sorry, I'm late." cicit Vania segera. "No one comes late here."ujar lelaki tersebut. Vania menoleh cengo.
Sok cool banget elah. Paling HRD doang juga. Pikir Vania meremehkan. Tapi dari pada cari masalah, Vania malah berkata maaf lagi untuk keterlambatan.
"Why do you wear running shoes? Where's your heels? Were you too poor to buy ones?"ujar laki-laki itu yang membuat Vania mati kutu. Dia malu saat merasa kalau orang-orang di ruangan ini menahan tawa mereka.
Mana ada seorang Vania terlalu miskin hanya untuk beli heels? Kan kampret!
Fuck! Mempermaluin aing banget sih dia! Awas aja lu! Vania mengumpat di dalam hatinya.
"It's in my bag, sir." ujarnya penuh penekanan.
"Don't do wrong again or you'll be fired." ujar lelaki tersebut lalu pergi begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Novela Juvenil"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
