Fifty One : Teaming Up

1.8K 100 0
                                        


"Shawn. Wipes!"kata gue saat melihat si Nonos muntahin makanannya. Tandanya dia kenyang. Gue coba kasih makan si Nonoy, dia juga gak buka mulut lagi, dia udah kenyang juga artinya.

Shawn sedaritadi jadi asisten gue sambil megang tisu kering gitu. Jadi, kalau makanannya dilepeh atau berantakan, dia yang lap, sedangkan gue yang suapin.

Setelah pembicaraan hati ke hati kita waktu itu, gue memutuskan pulang ke rumah pas jam 5 sore biar Mama dan Papa gak curiga bin khawatir.

Jujur aja, gue merasa lebih ringan aja gitu sekarang. Gak ada perasaan dendam atau sakit lagi antara gue dengan Shawn.

Communication is the key to a healthy relationship.

Gue baru tahu bener adanya itu. Kemarin kita juga sama-sama sobek kontrak nikah kita. Memang tujuannya baik, tapi gue merasa pernikahan kita terbebani hitam di atas putih. Kita perlu pernikahan yang lebih natural.

Kita bukan lagi dua orang pengecut tersesat yang mencoba saling cari keuntungan di dalam suatu pernikahan, tapi kita udah sama-sama dewasa dan udah jadi orang tua juga.

Kontrak itu memang tujuannya menjaga keharmonisan gue dan Shawn. Tapi, kita berdua seharusnya udah bisa sadar sendiri pentingnya satu sama lain sampai-sampai sebuah kontrak gak perlu mengingatkan kita tentang apa yang seharusnya kita lakuin sebagai pasangan.

Biar gue refresh ingatan kalian tentang perjanjian gue dan Shawn.

PERJANJIAN

Kami yang bertanda tangan di bawah ini sepakat untuk menyetujui dan mengikuti isi dari kontrak ini dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.

Ket. Pihak-pihak yang terlibat:
Pihak 1 : Vania Leila Marry Drewston
Pihak 2 : Shawn Peter Alexander

Ada pun isi dari kontak ini, yaitu :
1. Pihak satu dan pihak dua harus sebisa mungkin menerima dengan ikhlas pernikahan tsb walaupun pada awalnya bukan di dasari cinta, (Cinta bisa datang karena terbiasa).
2. Pihak satu dan pihak dua harus sama-sama berkomitmen untuk membangun dan membina rumah tangga seharmonis mungkin.
3. Tidak diperkenankan adanya perselingkuhan, baik bagi pihak satu dan pihak dua.
4. Pihak satu dan pihak dua harus saling setia dan percaya satu sama lain. Keduanya masih bisa mendapat waktu private mereka masing-masing.
5. Jika ada masalah, harus di diskusikan berdua supaya bisa mencapai kata damai. Tidak boleh seenaknya.
6. Pihak satu dan pihak dua tidak diperkenankan bertengkar atau perang dingin lebih dari 3 hari. (Atau tergantung besarnya masalah)
7. Pihak satu dan pihak dua harus saling menghormati dan berlaku baik satu sama lain layaknya pasangan pada umumnya.
8. Tidak boleh ambil keputusan sendiri, semua yang bersangkutan dengan keduanya harus didiskusikan bersama. Tidak boleh egois.
9. Tidak boleh ada kekerasa di dalam rumah tangga.
10. Pihak satu dan pihak dua harus saling mengerti dan terbuka jika ada suatu hal yang tidak mengenakkan bagi salah satu pihak atau pun keduanya.

Pelanggaran pada ketentuan-ketentuan di atas akan menimbulkan sanksi yang ditentukan nanti.

Note : Jika salah satu pihak merasa ketidaknyamanan atau ketidakcocokan setelah kurun waktu 1 tahun (365 hari terhitung dari tanggal pernikahan), maka pengajuan surat cerai diperbolehkan dengan disertai alasan-alasan kuat dari penggugat.

Demikian,

Kami yang menyetujui,

Pihak satu dan pihak dua.


Gue tersenyum sendiri mengingat kontrak itu. Waktu dulu, gue hanyalah gadis dewasa bermental anak SMA yang takut banget terikat di pernikahan yang gak sesuai dengan harapan gue. Begitu pun Shawn yang masih mencintai personal space nya.

Tapi, kita gak boleh sama-sama egois di sini.

Udah ada dua anugerah yang datang ke hidup kita lewat pernikahan itu. Setelah bicara panjang lebar kemarin, gue dan Shawn sama-sama sepakat untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Gak terburu-buru menuju pernikahan dan nikmati peran kita sebagai orang tua. Beberapa kencan sana sini layaknya orang pada umumnya dan kesempatan untuk lebih tahu tentang satu sama lain.

"Time for bath!"kata gue sambil melepaskan serbet yang ada di dada mereka. "I'll fill the tub with warm water," kata Shawn sebagai ayah yang siaga. Tanpa sadar, gue pun tersenyum sendiri sambil mengangguk.

Gue gelar matras khusus mereka yang dilapisi plastik. Gue pun angkat Nonos dulu terus baringin dia di matras itu sebelum akhirnya buka baju dia hati-hati. Setelah itu, gue melakukan hal yang sama ke si Nonoy.

Mereka sebenernya udah bisa duduk, cuma masih belum kuat lama-lama. Jadi, pas gue dan Shawn mandiin mereka, kita tahan punggung mereka yang lagi duduk di bath tub.

Gue tersenyum melihat mereka main air sambil teriak teriak seneng gitu. Pokoknya, kalau udah ketemu air mereka bahagia banget deh.

Alhasil. Baju gue dan Shawn basah karena mereka cipratin gitu. "I see. Naughty boys." Shawn cubit pipi mereka lembut sambil main gitu.

Setelah beberapa saat, kita angkat mereka dari bath tub dan bungkus badan kecil mereka sama handuk yang ada telinga pandanya gitu. Lucu banget dah, asli.

Setelah kita pakein mereka baju, gue pun menyuruh Shawn mandi juga sekalian gue nyusuin mereka biar mereka bisa tidur cepet. Si Nonos kali ini agak rewel meskipun udah kenyang, pas Shawn balik lagi, si Nonos tiba-tiba julurin tangannya ke Shawn

Hmm.. dasar anak sama bapak.

Gue pun membiarkan Shawn pangku si Nonos biar dia bisa ikutan terbang di dunia mimpi juga kayak si Nonoy. Lihat betapa damainya mereka berdua, gue pun tersentuh karena Shawn yang notabenenya hampir tiap hari ngurusin kantor, masih bisa ngurus anak se-smooth itu.

Gue mulai berpikir..


Apa gue siap untuk mikirin rujuk setelah melihat Shawn kayak gini?


****


hey, guys!

Maaf ini pendek. Kampus udah mulai dan percayalah kegiatan gue yang notabenenya anak asrama lumayan padat banget. Udah lama semenjak gue update terakhir haha.


tapi makasih banget untuk yang selama ini udah sabar ikutin terus cerita ini. TWO SWOLLEN THUMBS UP FOR YOU ALL!


see you x

DA BOSSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang