Vania hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung saat ia melihat mama, papa, Brian, mama mertua, dan Shawn memenuhi ruangannya.
Serasa artis aja dikerumunin gini, pikir Vania.
Mamanya langsung memeluk Vania sambil menahan tangis. "Kamu jangan bikin mama khawatir, dong!"
Vania hanya bisa meringis saat lengan mamanya tak sengaja menyenggol selang hidungnya. Brian dan Shawn menatapnya horror. "Mama, itu awas kena selang hidungnya Vania,"tegur Brian yang membuat mamanya terkekeh malu.
"Hehe, maapin mama, ya?"
Vania hanya bisa mengangguk lalu memeluk mamanya lagi dengan hati-hati, "Vania kangen mama," dia merasa sangat lemah dan emosional sekarang, "Vania maapin, tapi mama harus tinggal di sini sama Vania, ya?"
Semua orang membelalakkan matanya kaget.
"Vania kan udah gede sekarang. Ada Shawn yang bisa jagain Vania, tugasnya Mama sekarang ngurusin Papa."Mama mengelus pelan rambut Vania.
Vania cemberut.
"Mama gak sayang sama Vania lagi?" Mata Vania berkaca-kaca sambil pelan-pelan mengelus perutnya, "Si utun-utun jagoan Mama ini yang minta ditemenin neneknya. Masa neneknya tega nolak? Nanti kalau misalnya bayi-bayi Vania ngacai gimana?"
Mulai dari saat itu, Brian percaya bahwa adiknya telah kembali seperti sedia kala. Dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyolnya, sedangkan Shawn dan Mamanya mengeryitkan dahi bingung karena tidak mengerti apa yang Vania katakan.
"Eh. Bang! Gue pengen videocall sama ponakan gue! Buruaaan."titah Vania yang menatap Brian dengen tatapan memelas andalannya.
Bumil itu susah ditebak, pikir Brian yang menghembuskan nafas berat, "Bentar aja, ya?"
"Yaelah, pelit amat. Wifi gratis juga. Ponakan lu nih yang mau!"
"Kalau Sheyna sama istri gue belum bangun gimana?"
"Bang. Ini udah pagi kalau di Indonesia. Istri sama anak lu kan kagak kebluk kayak elu."
Brian memutar bola mata sambil menekan tombol panggil di ponselnya. Dia pernah merasakan bagaimana sensitif dan tajamnya mulut ibu hamil ketika istrinya mengandung Sheyna dulu. Dia hanya bisa mengelus dada meminta kesabaran lebih dan berdoa untuk kesabaran Shawn dalam menghadapi adiknya yang agak gesrek ini.
"Hey, babe. What's up?"sapa Lilian -Istri Brian- yang membuat lelaki itu tersenyum. "My sister wants to meet Sheyna. Where's the little angel?"
"RIGHT HERE, DADDY!"
Brian tertawa ketika melihat putri kecilnya melambaikan tangan dengan riang. "Hey, sweetheart. Look who's here!"
Brian pun memalingkan kamera ke arah Vania.
"AUNTY VANIAAAA!"
****
Sinar matahari menyelinap melalui celah-celah kecil yang tidak tertutup oleh tirai. Shawn dan Vania masih tertidur pulas di atas ranjang setelah tadi malam keluarga mereka sempat 'diusir' secara halus karena jam besuk yang habis.
Shawn yang merupakan suaminya boleh tinggal karena dukungan moral dan batin bisa membantu kondisi Vania stabil. Tadi malam, Vania merengek pada Shawn karena tidak bisa tidur karena selang di hidungnya itu benar-benar mengganggunya.
Setelah bernegosiasi sedikit, akhirnya Vania sepakat tidak akan merengek tentang selang lagi selama dia bisa tidur sambil dipeluk suaminya. Alhasil, setelah mendapat persetujuan dan bantuan dokter dengan kabel-kabel di tubuh Vania, mereka pun bisa tidur seranjang berdua meskipun ruang gerak mereka terbatas, tapi keduanya merasanya aman dan nyaman, terutama Vania.
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Novela Juvenil"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
