Gue diem.
Gue gak tau apa gue harus marah, sedih, kecewa, atau seneng setelah denger penjelasan Shawn. Gue marah karena dia gak percaya dan ngusir gue. Gue sedih karena si kembar harus lahir tanpa ayahnya. Gue kecewa karena Shawn terlalu cepet kemakan omongan orang dan gak bilang apa-apa ke gue. Dan gue seneng karena sekarang gue tau apa alasan dari ini semua terus Shawn juga udah minta maaf.
Tapi, apa penjelasan dan kata maaf cukup untuk melupakan sebuah kesalahan?
Untuk apa ada polisi dan pengadilan kalau orang yang bersalah tinggal ngejelasin doang dan minta maaf kalau seenteng itu?
The damage has been done and no matter how much we try, we can't change the past.
Shawn ternyata malah kemakan sama foto-foto palsu yang karyawannya sendiri kirimin ke dia.
Di foto palsunya ada gue bertingkah kayak lonte.
Shawn bilang dia baru tahu dari detektifnya kalau foto-foto palsu itu hanya sebagai pengalihan perhatian ketika ada karyawannya yang korupsi sekitar 1 juta dollar terus mengundurkan diri gitu untuk kabur bawa uangnya.
Dan karyawan yang korupsi itu adalah kepala departemen keuangan tempat gue kerja dulu pas di perusahaannya Shawn.
Hebat banget dia bikin skandal sampai bikin gue sengsara begini.
Tapi, ketika ini semua terungkap, bukan berarti gue maafin Shawn gitu aja. Ini juga salahnya Shawn yang main percaya dan ngusir-ngusir gitu tanpa mau bicarain terlebih dahulu.
Gue gak bisa tetep jalani rumah tangga sama orang yang seenaknya dan keras kepala begini.
Gimana nanti kalau kejadian lagi?
Gue kemarin hamil aja dia udah berani ngusir. Ntar kalau kejadian lagi pas gue gak hamil dia bakal berani mukul? Gitu?
"Vania, please.. say something.." kata Shawn ke gue sambil mendekat gitu. Gue angkat tangan gue sebagai tanda biar dia berhenti. "You know it's too late, right? The damage has been done, Shawn.."
"I know, baby--"
"Don't baby me, Shawn. We are so not in a good term for that,"
"Okay, but Vania. I am just so sorry.. please, forgive me. I.. I can't lose you or our ba--"
"My babies, Shawn. You lost the priviledge to call them ours when you doubted me." Gue mencoba tegas sambil menatap Shawn tanpa senyum sedikit pun.
"Vania, I promise I will do anything to make up to you. I am sorry I can't change the past to fix my mistakes but I promise to make it up for every wrong things I do to you. Please, give me a second chance..?"
"Shawn, I don't t-- Oh, God! Papa!"
Gue kaget banget ketika Papa tiba-tiba narik Shawn dan langsung nonjok dia gitu. Gue meringis ketika melihat Shawn sampe jatuh ke lantai. "That's for hurting my daughter!"kata Papa terus nendang Shawn gitu di bagian perutnya.
"And that's for abandoning my grandbabies!" Gue meringis mencoba membantu mama untuk menarik Papa supaya dia gak keroyok Shawn. Semarah dan sebenci apapun gue ke dia, gue gak kuat kalau harus liat Shawn dihajar gitu.
Apalagi Papa dulu sabuk item karate.
"Pa.. it's okay. Just let him go.. Calm down." kata gue sambil memeluk lengan Papa supaya dia gak maju ke Shawn lagi sementara mama ngelus-ngelus punggung Papa.
"That bastard hurt you, Vania. He deserves so much more than that pain!"
"It's okay, Papa. I am fine. See? I am not crying anymore. You should calm down before the twins hear you and cry."kata gue lagi dan setelah mendengar twins, Papa baru rada tenang gitu.
Shawn lagi dibantu untuk berdiri lagi sama Karen yang gak tau sejak kapan udah masuk lagi. "Get out of my house nown!"
Papa bentak mereka sambil melotot gitu. Papa itu baik banget tapi kalau udah marah itu jadi serem banget, parah. Gue aja yang cuma dengernya jadi agak gemeter gini.
"Go check the twins with Mama for me, okay? They're in the living room."bisik gue sembari mencoba mendorong Papa dan Mama ke ruang tengah. Setelah mereka menghilang ke balik dinding, gue menatap Shawn dan Karen dengan perasaan yang gak karuan.
Mereka selama ini udah baik ke gue dari awal banget gue kerja di perusahaannya Shawn. Tapi, dengan satu skandal fatal gitu, gue gak mau bertindak terlalu jahat seolah-olah mereka gak pernah baik sama sekali ke gue.
Gue tau tujuan mereka ke sini selain minta maaf itu apa. Setelah gue pastiin mereka udah keluar dari rumah, gue pun menutup pintu dan langsung gue kunci. Gue menggigit bibir bawah gue sambil merogoh saku daster dan mengambil hp. Gue mengirimkan foto si kembar yang gue ambil pagi ini ke kontaknya Shawn.
Seenggaknya, dia sekarang berhak tau rupa si kembar gimana setelah jauh-jauh ke sini dan minta maaf, meskipun gue dan keluarga belum maafin.
"Right Nicolas, left Nicolaj. Don't ask for more."
Gue pun menekan tombol send terus mematikan HP gue. Cukup tentang gue dan Shawn untuk hari ini. Gue butuh istirahat.
****
Ini lebih pendek dari yang kemarin karena cepet. He he
Selamat liburan dan jangan lupa cek, vote, dan comment di sini dan di cerita baru aku yang judulnya "The Wanted Luna." Full english version, InsyaaAllaah :)
see u
KAMU SEDANG MEMBACA
DA BOSS
Novela Juvenil"Because life is unexpected."- VLMD Ps. Gak berpedoman pada EYD :")
