Dua puluh empat

26 7 3
                                        


Now playing "Tangga-Cinta begini"

Ketika sajak berbicara, apakah yang dapat mengakhiri segala puisi tentang kamu. Lalu, manakah yang lebih menyakitkan dari ditinggalkan oleh seseorang yang sudah terlampau dekat.

Aku termenung menanti kalimat yang pas untuk menegur gadis manis di seberang sana.
Pertemuan pertama kami sangat tidak di duga, dia menolong ku tanpa tahu siapa aku. Aku terpukau padanya, cara pandangnya terhadap hidup membuatku berpikir hanya dia yang ingin kutemani sisa hidupnya.
"Ah, kenapa aku mulai puitis"aku berpikir keras

"Mil, bantuin aku bikin tugas ya?"kataku padanya, kupikir dia akan keberatan tapi ternyata aku salah
"Iya al, aku bantuin tenang aja"dia tersenyum tulus

Dia duduk di bangku bersebrangan denganku, aku tersenyum padanya dan dia pun membalas. Tapi suara berat laki-laki mengagetkan ku

"Alfian satriya rahadian, Emilia maharani tolong kalau masih mau ngobrol jangan di kelas"teriak guru sejarah

Aku tersentak malu, karena semua perhatian seisi tertuju pada kami

"Ma..maaf pak" balasku setengah menunduk

Sepanjang pelajaran kami hanya diam, berkamuflase menjadi siswa yang pendiam mendengarkan pelajaran. Tapi,setelah guru pengajar keluar tawa kami pun pecah bersamaan.

"Loe sih al, rese' banget"seru emilia
"Sorry mil, nggak sengaja"alfian tersenyum sambil menatap lurus kearah gadis itu, sungguh pemandangan yang sayang dilewatkan

Ah dia emilia maharani, cewek manis yang sangat mengagumkan. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Tingkah lakunya sangat sederhana.

Aku dan emilia sangat dekat seperti tanpa celah. Mungkin karena dia adalah perempuan pertama yang dekat dengaku. Kami sudah agak lama menjalin hubungan persahabatan, selama itupun aku menyembunyikan perasaanku padanya.

Hari itu kuputuskan untuk mengungkapkan segalanya. Akhir januari, kupersiapkan segalanya bahkan aku sudah memesan meja di sebuah cafe, sebuket bunga lily kesukaanya dan tentu saja nyali yang besar.

Kutunggu dia sejak pukul 7 malam, aku ingin semua sempurna. Tapi entah kenapa sejam berlalu dia tidak muncul, ku coba menelfonya tapi tak ada hasil karna ponselnya mati. Aku mulai cemas tapi kucoba menghilangkan kekhawatiranku.
Aku mengirimkan puluhan sms tapi tak ada balasan.

Tepat pukul 9 malam, sebuah pesan singkat masuk.

From: emilia
           Sorry al, tadi bayu ngajak ketemu ada hal penting katanya.

Degg,,

To: emilia
      Oh iya gapapa mil, santai aja aku juga tiba-tiba ada urusan jadi aku pulang.

Alfian menyandarkan bahunya pasrah, dia meremas gelas cafe yang sudah di pegangnya daritadi. Ada yang salah, hatinya sakit tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Melihat nama bayu di layar ponselnya membuat jantungnya seakan di hantam benda keras. Rahangnya mengerang keras.

Tanpa basa-basi alfian meninggalkan tempat itu.

******

Suatu hari alfian sedang menyendiri di belakang sekolah, dia malas mendengarkan pelajaran sejarah saat itu. Dia bersandar sambil memejamkan mata, mengingat apa yang sudah berlalu.

Tiba-tiba lamunanya di buyarkan suara seorang gadis. Alfian meneliti sekeliling lalu matanya menangkap sosok gadis yang tengah berjibaku didalam lumpur entah apa yang dicarinya.

Tanpa sadar dia tersenyum kala gadis itu jatuh kedalam lumpur, sungguh sangat lucu. Alfian mendekat kearahnya, awalnya dia ingin mengabaikan tapi nalurinya untuk menolong lebih besar.

"Kalau mau mandi jangan disini, kamar mandi sekolah kan ada" itu lah kalimat pertama yang di ucapkan oleh alfian sungguh dia tak bermaksud seperti itu

Selanjutnya gadis itu mengulurkan tangan sambil berterima kasih saat sudah kubantu di keluar

"Angel, loe siapa? Kenapa disini emang nggak ikut pelajaran"
Sungguh kalimat yang menurutku tak sopan setelah aku berbaik hati menolongnya

Aku menanggapinya dingin, tapi di malah marah. Dan pada akhirnya aku memperkenalkan diriku padanya. Itu lah pertama kali aku mengenal gadis itu.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya sepertinya Tuhan telah merancangnya. Aku baru tahu kalau di pacar dari bayu nevinsyah yang notabene adalah sepupuku. Aku benci ketika bayu masih bersamanya disaat di harus menjalin hubungan dengan gadis lain karna permintaan ayahnya.

Aku bingung bagaimana menjelaskan pada Angel, karena kami mulai berteman dan dekat. Pada suatu ketika kenyataan terbongkar.

Tanpa terasa kedekatan ku dengan Angel memberikan sensasi lain pada hatiku. Ini ilusi atau memang kenyataanya aku mulai merasa ada yang berbeda pada hatiku.
Aku merasa selalu ada di setiap air matanya, bukan sok pahlawan. Hanya, aku tidak suka di menangis.

Angel malika, dapatkah kamu lihat kearahku? Tapi aku takut akan menyakitimu, karna tanpa sadar masih ada sepenggal kisah masa lalu di sudut ruang hatiku yang ingin kubuang.

Yups, ini Alfian satriya rahadian Pov. Maaf kalau nggak bagus, masih belajar bikin pov. Maaf kalau part nya pendek.

Angel tak bersayapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang