Episode 27

257 33 11
                                    

Kesadaran Shawn terus menurun seiring berjalannya waktu, Cal pun mulai kehabisan tenaga menopang tubuh tinggi pria itu. Mereka tak yakin dapat menyelesaikan semua ini. Namun kata yang sering disebut keajaiban terkadang mampu memberi kekuatan lebih untuk terus bertahan.

Kini mereka sangat bergantung pada satu kata sederhana itu--

Keajaiban.

•••

Calista menelan ludah, keringat dingin bercucuran membasahi wajah, dia memejamkan kedua mata. Tubuhnya terdorong paksa ke dalam portal tanpa gravitasi, membawa keduanya menuju tempat terakhir.

Satu-persatu harapan muncul dalam hati. Harapan bahwa ruang itu adalah tempat yang bersahabat, harapan bahwa disana terdapat sesuatu yang dapat memulihkan keadaan Shawn, harapan bahwa disana dirinya dapat menemukan kristal dan menyelamatkan masa kecil mereka berdua.

Shawn dan Calista telah berhasil berpijak di ruang terakhir. Pria itu masih terus mencoba menguatkan diri, sementara Cal mengedarkan pandangan, mempelajari setiap sudut yang ada.

Tempat ini terlihat familiar. Seluruh dinding yang menutupi berwarna putih terang, di sekelilingnya terdapat ribuan, bahkan jutaan kristal yang berjajar rapi dan teratur. Calista terperangah tak percaya.

"Kita harus me--"

"SHAWN!" pekik gadis itu keras.

Saat ia masih sibuk dengan pemandangan yang ada, tubuh Shawn tiba-tiba ambruk, tersungkur ke atas lantai. Kesadarannya hilang dalam sekejap mata.

Cal berseru panik, dia menekuk lutut mendekati Shawn. Melingkarkan tangannya pada leher Shawn, berusaha menahan beban kepala pria itu.

"Aku mohon bangunlah," pintanya lemah. Air mata sudah bercucuran tanpa mau berhenti.

Hening. Tak ada jawaban. Shawn terkulai tak berdaya, tak bergerak sedikitpun. "Bangunlah, kau bilang kita harus berjuang sama-sama kan?" isaknya.

Gadis itu beberapa kali memukul dadanya yang sesak dengan kepalan tangan. Tenggorokannya tercekat, pandangannya kabur oleh air mata. Dia mengusap pipi Shawn pelan, "Apa yang harus kulakukan sekarang?"

Semakin lama, tangisannya semakin tak terkendali. Seolah memohon pada alam, beberapa kali dia berteriak, meminta agar pria di hadapannya tetap baik-baik saja. Luka bersemayam rindu melingkupi hati, kenangan demi kenangan masa kecil bersama Shawn terus memanggil Cal untuk datang mengingatnya. Dia mengatakan tidak, mengingat bahwa hati sudah terlanjur rapuh dan lemah. Namun pertahanan gadis itu telah kalah, berbagai kenangan berhasil bersemayam riuh di dalam pikirannya yang sudah kacau.

Berpuluh menit dihabiskan dengan sia-sia. Shawn tetap tak sadarkan diri walaupun Cal sudah melakukan berbagai cara yang ia bisa.

Putus asa. Calista terduduk dengan pandangan kosong, tangisnya telah berhenti sejak tadi. Inikah akhir dari kisah mereka? Inikah tulisan takdir yang tak dapat mereka ubah lagi?

Inikah?

"Tidak," gadis itu menggeleng pelan. Dia menghembuskan napas panjang, tangannya terkepal kuat, hatinya sibuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian. Tidak! Ini bukan akhir dari segalanya. Dia harus tetap berjuang.

The Journey [Shawn Mendes]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang